4 Tips dan Panduan Mendidik dan Merawat Seorang Anak

26
10-4 cara

IndonesiaOne.org – Mempunyai seorang anak sesungguhnya adalah anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Namun membesarkan seorang anak untuk bertumbuh menjadi dewasa tidaklah semudah yang dibayangkan, sebab dibutuhkan pengorbanan dan keteladanan kita sebagai orang tua. Sebab tanpa dua hal tersebut, pastilah sang anak tidak akan bertumbuh seturut dengan nilai – nilai moral yang hakiki.

Berikut ini adalah beberapa pengorbanan dan keteladanan yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang sang anak :

1. Memberikan waktu terbaik.

Dunia yang telah berubah menjadi ‘serba media sosial’ ternyata membuat banyak waktu berkualitas dengan sang buah hati menjadi berkurang. Kalaupun waktu tersebut tersedia, namun pikiran dan perasaan biasanya tidak bisa terfokus kepada sang anak sepenuhnya. Sebab tatapan wajah kita hanya tertuju pada smartphone yang ada di genggaman. Inilah permasalahan yang perlu kita tanggulangi bersama.

Sang anak membutuhkan ‘kontak mata’ langsung yang bisa mengalirkan cinta kasih kepadanya. Anak kita juga membutuhkan ‘sentuhan fisik’ yang membuatnya bertumbuh dalam rasa aman dan pengayoman yang kuat. Oleh karena itu, kita perlu MELATIH diri kita saat memberikan waktu terbaik. Baiklah smartphone yang ada kita jauhkan dari jangkauan atau matikan terlebih dahulu.

Bermain dan berkomunikasi dengan sang anak dengan FOKUS akan membuat waktu yang singkat pun menjadi sangat berkualitas untuk tumbuh kembang anak.

2. Sabar menasihati, membimbing, dan menanamkan nilai – nilai kebenaran kehidupan.

‘SABAR’. Ya, itulah kata kunci. Sebab dunia anak dengan dunia orang dewasa sangatlah berbeda. Dunia sang anak adalah dunia permainan dan imajinasi tanpa batas. Tidak heran ada banyak sang anak yang ‘mempunyai dunianya sendiri’ dan keinginan serta kehendak yang perlu diarahkan. Sebagai orang tua, kesabaran kita sangat memainkan peranan penting. Menasihati berulang – ulang, menuntun dengan kelembutan, dan mendisiplin dengan kasih sayang merupakan pelatihan kebesaran hati yang perlu kita kembangkan. Semakin kita sabar dan bertekun dalam melakukannya, maka suatu saat nanti kita akan menuai hasilnya. Tentunya sang anak akan bertumbuh semakin berakhlak dan bertanggung jawab (dewasa)

3. Memberikan teladan.

Anak sesungguhnya adalah pribadi yang meniru. Itulah yang seringkali membuat kita tertawa atau sebaliknya, menjadi kaget karena sang anak meniru tingkah buruk yang pernah kita lakukan. Harapan kita, tentunya sang anak meniru karakter baik yang kita praktekkan setiap harinya. Tapi tidak bisa dipungkiri, sebagai orang tua kita belum menjadi pribadi yang sempurna dalam perkataan maupun tindakan. Oleh karena itu, baiklah ketidaksempurnaan kita menjadi pemicu untuk kita bisa semakin hari menjadi pribadi yang layak dijadikan teladan yang benar bagi sang anak.

Seringkali tanpa sadar, sebagai orang tua, kita hanya sibuk memerintah atau mendorong sang anak untuk melakukan sesuatu yang kita anggap baik tanpa memberikan teladan. Sebagai contoh ; sebagai orang tua tentunya kita tidak menghendaki sang anak merokok. Namun karena kita merokok dan sang anak melihat perilaku tersebut dari sejak kecil, maka saat dirinya mulai beranjak remaja ia pun akan merokok. Hal ini terjadi biasanya pada anak – anak pria, namun tidak tertutup kemungkinan juga pada anak perempuan.

Contoh lainnya. Misalkan karena satu dan lain hal ada tamu yang tidak kita harapkan datang kerumah kita. Karena kita tidak ingin menemuinya, maka kita memerintahkan sang anak untuk mengatakan pada tamu tersebut bahwa diri kita sedang tidak berada dirumah. Sang anak pun dengan polos mentaati perintah kita. Tanpa sadar, perilaku berbohong tersebut sedang kita ‘transfer’ ke dalam diri sang anak. Jangan heran, jika pada suatu hari mereka justru pandai berbohong kepada kita.

Contoh – contoh diatas terkesan perkara kecil dan tidak penting. Tapi jika kita tidak membenahi sejak dini, maka sang anaklah yang akan menjadi korban dari keburukan perilaku kita. Ingat, perilaku kita di depan sang anak jauh lebih berbicara kuat dari ribuan kata nasehat yang kita ucapkan.

4. Menjaga kedamaian, sukacita, dan ucapan syukur dalam rumah tangga.

Sang anak yang selalu melihat bapak dan ibunya konflik akan bertumbuh sebagai anak yang ‘menyimpan’ luka hati. Dan menjadi anak yang merasa tidak aman berada dalam rumah. Sebab rumah yang harapannya sebagai surga kecil dibumi, justru menjadi ‘neraka’ kejam yang penuh dengan cacian, kebencian, amarah, dan kekerasan. Tidak heran, kelak ia besar nanti, perilaku dan suasana rumah lah yang akan terkespresi dalam kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, sebagai orang tua (suami – istri) alangkah baiknya jika suami dan istri menjaga kehangatan dirumah dengan cinta kasih dan hati yang mudah memaafkan.