Akar Intoleran Adalah Kebodohan dan Kemiskinan

Akar Intoleran Adalah Kebodohan dan Kemiskinan

IndonesiaOne.org – Aksi kaum radikalisme dan berbagai kelompok intoleran yang kian marak di seluruh dunia telah menuai aksi protes keras dan perlawanan dari kelompok – kelompok moderat dan mereka yang teraniaya. Hal ini menciptakan berbagai efek, khususnya di media sosial, saling caci dan maki sudah menjadi makanan Netizen tiap harinya. Namun yang lebih mengkhawatirkannya, agama, suku, dan golongan selalu menjadi sasaran hujatan yang semakin menjadi – jadi. Sehingga perpecahan dan kemarahan antara sesama anak bangsa tidak bisa lagi dihindarkan. Itulah yang juga sekarang berpotensi meluas di Indonesia. Negara sedang terancam pecah oleh isu SARA.

Sebagai masyarakat yang berakal sehat, sudah menjadi kewajiban jika bisa berkontribusi menyingkap MUSUH sebenarnya dari suatu bangsa. Musuh tersebut bukanlah terorisme dan radikalisme, atau bahkan suku dan agama, melainkan KEBODOHAN dan KEMISIKINAN yang telah berakar lama. Inilah faktor penyebab masyarakat Indonesia dapat dipengaruhi oleh paham – paham yang menentang dasar negara.

Pikiran, logika dan akal sehat yang seharusnya menjadi filter dari segala informasi justru tidaklah berfungsi. Inilah bukti konkrit bahwa sistem pendidikan yang selama ini diselenggarakan tidak berhasil mencetak logika berpikir yang kritis dan kreatif.

Tanpa pemikiran yang kritis, seseorang akan cenderung menerima segala input dan informasi dan langsung percaya tanpa memiliki niat dan minat untuk menggali dasar pemikiran atau logika berpikir dibaliknya. Itulah yang dimaksud sebagai KEBODOHAN.

Tidak hanya hal tersebut, kobodohan selalu akan bergandengan dengan KEMISKINAN.

Kemiskinan selalu berbicara  tentang mentalitas. Jadi, bukan berarti orang yang memiliki harta banyak disebut kaya. Selama tidak memiliki hati yang bersyukur dan rasa cukup maka ia tergolong miskin, miskin moral dan akhlak yang rela melakukan hal apapun juga walaupun tidak halal demi kepentingan dirinya. Itulah mengapa seringkali kita heran akan orang-orang yang sudah bergelimangan harta, tetapi masih saja dengan membabi buta melakukan korupsi ber milyar-milyar. Itu semua karena orang tersebut memiliki mentalitas yang miskin.

Ada juga yang miskin harta dan juga bodoh, orang – orang seperti inilah yang sangat mudah dipengaruhi atau direkrut menjalani misi terorisme yang mengatasnamakan agama. Para ekstrimis radikalis yang menghalalkan pembunuhan orang yang berbeda paham dengannya menganggap tindakannya adalah ibadah kepada Tuhan. Jadi mereka menolak disebut bodoh, mereka menganggap itu adalah IMAN.

Walaupun iman sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh pikiran dan logika. Sebab Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dengan logika dan pikiran yang ditujukkan menentang diriNya. Artinya, IMAN harus bisa dijelaskan dan diterima dengan akal sehat. Jika karena Iman akhirnya mengajak orang melakukan pembunuhan dan kekerasan atas nama agama, maka sesungguhnya itu bukanlah berasal dari Tuhan karena tidak bisa diterima oleh nurani dan akal sehat. Tapi karena kebodohan, semua itu ditelan bulat – bulat tanpa kritik dan diterima menjadi paham yang menyesatkan.

Oleh karenanya, jangan sampai sasaran bidik kemarahan menjadi tidak tepat karena salah menditeksi lawan. Musuh kita bersama adalah KEBODOHAN dan KEMISIKINAN.

Inilah yang seharusnya kita kutuki dan perangi sampai tuntas di negeri ini. Pemerintah, TNI, POLRI dan semua elemen pemerintahan dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif, dapat menyingsingkan lengan bajunya untuk bekerja memerangi hal itu dengan berbagai macam cara. Pendidikan agama yang tidak menentang keberadaan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI haruslah digaungkan sampai keantero negeri.

Terutama lembaga pendidikan, baiklah mempersiapkan sisitem pendidikan yang melatih logika berpikir dan kreativitas dari anak didik, juga menjangkau sampai seluruh pelosok serta kabupaten, kota, dan provinsi demi terjadi penyetaraan pendidikan yang benar. Dan disaat yang sama, pelatihan terhadap kemajuan mentalitas juga perlu digencarkan untuk mengentaskan kemiskinan, baik dikalangan atas maupun akar rumput.

Tentunya untuk menghancurkan dan memerangi KEBODOHAN dan KEMISKINAN atas suatu bangsa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh tekad dan “kebencian” yang teramat sangat terhadap dua hal tersebut. Sehingga tidak hanya akan memerangi, melainkan mencabut sampai pada akar – akarnya untuk kemajuan negeri tercinta.

Momentum untuk hal tersebut adalah sekarang. Karena buah dari KEBODOHAN dan KEMISKINAN sedang bermunculan. Baiklah kita menebang pohonnya dan mencabut akarnya dari bumi Indonesia.

Kesimpulannya hanyalah satu : Musuh bersama kita adalah KEBODOHAN dan KEMISKINAN !!