Bak Kacang Lupa Kulitnya

2-Sejarah

Indonesiaone.org – Di desa Batang Arau, semua penduduknya mengenal sosok pemuda yang bertingkah laku buruk dan punya tanda cacat di dahinya.

Pemuda itu bernama Malin Kundang.

Suatu hari Malin Kundang mendapat tawaran kerja di sebuah kapal lalu ia berlayar ke negeri jauh. Tahun berganti tahun, setelah sekian lama merantau, ia berhasil berniaga dan menjadi saudagar kaya serta pemilik kapal. Suatu kali, ia berlabuh dan singgah di pelabuhan desa tempat asalnya.

Semua penduduk Batang Arau terpesona melihat megahnya kapal yang sangat besar dan menawan. Makin terpesona lagi ketika melihat juragan kapal itu. “Saudagar itu kok mirip si Malin Kundang yah?” Ujar kakek tua, penduduk Batang Arau. “Betul, itu pasti si Malin Kundang, lihat tanda cacat di dahinya” timpal orang yang lain.

Dengan cepat, penduduk desa memberitahu hal itu kepada ibu si Malin Kundang, yang kian tua dan miskin. Sang ibu dipapah menuju dermaga dengan perasaan cemas bercampur bahagia. Dari kejauhan sang ibu memandang, dalam hatinya bergumam terharu : “tak salah lagi, itu si Malin Kundang, anaku.” Malin Kundang pun mengenali ibunya. Namun ia merasa malu pada awak kapalnya jika nenek tua miskin itu adalah ibunya.

Segera Malin Kundang berkata pada awak kapalnya, “Suruh nenek tua itu menjauh, jangan sampai ada yang mendekat ke kapal”. Sang ibu pun berpikir “Mungkin si Malin lupa, belum mengenaliku.”

Keesokan harinya sang ibu datang kembali dengan membawa kue‐kue kesukaan Malin disaat kecil. Namun si Malin tetap berpura‐pura lupa dengan sang ibu. Beberapa hari kemudian, saat kapal hendak berlayar. Sang ibu kembali datang sembari berteriak “aku ibumu Malin, ini aku, ini ibumu!” Namun Malin langsung mebuang muka dan segera memerintahkan agar sauh kapal diangkat.

Belum lagi kapal terhilang dari pandangan orang‐orang di pinggir pelabuhan, tiba‐tiba langit diliputi mendung hitam, sapuan angin pun bertiup kencang. Seketika petir menyambar‐nyambar menghempaskan kapal, hancur di tengah lautan. Kapal dan seluruh orang didalamnya langsung berubah menjadi batu karang. Sampai sekarang batu karang itu tetap berdiri sebagai saksi bisu, tidak jauh dari muara Sungai Batang Arau.

Pertanyaannya, apakah Malin Kundang lupa bahwa itu ibunya? Tidak.

Yang dilupakan adalah bahwa ia anak ibu itu, artinya Malin membuat jarak dengan sejarah hidupnya. Ia tidak mau menerima bahwa dirinya dulu adalah anak desa yang miskin. Ia hanya melihat bahwa ia kini seorang saudagar kaya. Anggapannya bahwa masa lampaunya tidak cocok dengan masa kininya.

Ia tidak mampu melihat bahwa masa kininya adalah kelanjutan dari sejarah hidupnya. Malin seperti kacang lupa kulitnya. Lupa akan sejarah kehidupan adalah suatu masalah dalam merampungkan jati diri, sikap seperti itu biasanya dimiliki oleh seorang yang masih kanak‐kanak, khususnya anak usia remaja yang cenderung menutupi masa lampaunya dalam rangka mencari identitas, menutupi masa lalu dan membuang simbol-simbol masa lalunya.

Misalnya,  seseorang ketika masa kecilnya sangat suka singkong rebus, tetapi ketika ia berkedudukan tinggi tiba‐tiba tidak suka lagi, karena dianggapnya singkong rebus adalah lambang masa lalunya selaku anak miskin. Contoh lain adalah lingkungan, ia menutupi kenyataan bahwa ia berasal dari lingkungan tertentu, ia malu dengan lingkungan masa lalunya yang terbelakang dibanding dengan kemewahan yang sudah ia raih sekarang.

Lupa akan sejarah juga bisa dikaitkan dengan rasa kebangsaan. Sekarang ini banyak yang menyangsikan kedaulatan dan supremasi tertinggi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada sebagian orang, kelompok kecil yang ingin mengganti dasar‐dasar negara yang tercantum dalam Pancasila dengan dasar yang menurut mereka sempurna.

Bhineka Tunggal Ika yang merupakan kepribadian bangsa hendak dirampas dan diganti, entah apa namanya. Mereka koar‐koar berteriak memiliki formula yang lebih mujarab untuk menyatukan kemajemukan negeri ini. Bahkan menurut sebagian kelompok kecil itu, Undang‐Undang Dasar 1945 dianggap tidak mampu mengatur kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Padahal jika kita menelisik semboyan negeri ini, sungguh sarat akan makna dan filosofi. Dari mana datangnya semboyan itu dan kemana tujuannya? Apa itu Bhineka Tunggal Ika?

Sebenarnya Bhineka Tunggal Ika bukan ditulis sebagai semboyan, melainkan sebagai bagian dari suatu Kakawin.

Apa itu Kakawin?

Kakawin adalah ragam sastra puisi dalam sastra Kawi. Kakawin yang memuatnya adalah kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, seorang pujangga beragama Budha abad ke‐14 di kerajaan Majapahit. Latar belakang penulisan semboyan itu adalah kemajemukan yang ada di kerajaan Majapahit. Saat itu Majapahit adalah kerajaan yang wilayahnya sangat luas, selain meliputi Indonesia, Majapahit juga mencakup sebagian yang kini merupakan Malaysia dan Singapura. Majapahit terdiri dari ratusan etnik dengan ratusan bahasa.

Penduduknya menganut agama Budha, Hindu dan ratusan macam agama suku yang hidup berdampingan dengan damai. Kerukunan itu berbuah kejayaan, kemakmuran, kemajuan perniagaan. Majapahit memiliki jaringan dagang dengan tetangganya seperti Tiongkok, India dan Persia. Semua itu adalah bukti bahwa meski penduduk Majapahit berbeda‐beda namun bisa berpadu mendatangkan kesejahteraan bagi kerajaan Majapahit.

Jiwa keterpaduan inilah yang digambarkan Mpu Tantular dengan kalimat “Bhineka Tunggal Ika”. Ketika Republik ini lahir, kalimat Mpu Tantular yang berusia ratusan tahun itu diadopsi sebagai semboyan negara.

Maksudnya sangat jelas, Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan etnik, ragam budaya dan keyakinan bisa berpadu dengan satu keinginan, yakni membuat republik ini menjadi tempat yang aman dan makmur bagi seluruh penduduknya.

Kerajaan Majapahit masih kuno, sedangkan Republik Indonesia sudah modern.

Akan tetapi kenyataannya, siapa yang sesungguhnya yang lebih modern? Kerajaan Majapahit abad ke‐14 atau Republik Indonesia abad ke‐21?

Kalau Republik Indonesia lebih modern, mengapa justru di tanah ini orang begitu alot dalam menghargai perbedaan keyakinan, begitu susah menerima keragaman etnik, begitu rapuh menerima kekayaan budaya‐budaya yang ada ?

Sampai‐sampai ada yang ngotot ingin mengganti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 dengan sistem baru yang belum tentu pas dan bahkan tidak cocok jika dipaksakan menjadi falsafah bangsa. Mungkin ini yang di sebut masalah jati diri. Orang‐orang yang berusaha mengganti falsafah bangsa ini dengan falsafah bangsa lain sedang dilanda sakit lupa, tidak ingat akan kedalaman sejarah yang mengukir perjalanan negeri ini.

Mereka berupaya begitu keras untuk menjadi apa dan siapa yang ada di benak mereka , sehingga mereka lupa apa atau siapa mereka ini sebenarnya. Kacang berasal dari kulit. Tak ada kulit maka tak ada kacang. Sedih rasanya jika ada kacang lupa kulitnya. Seperti Malin Kundang yang lupa bahwa ia berasal dari Batang Arau, dan lupa bahwa ia telah dilahirkan oleh ibu tua yang sedang berjalan membungkuk dan terseok pelan menghampiri kapalnya.

Ingatlah ibu pertiwi, kita lahir dari rahimnya. Jangan membuat ibu pertiwi menangis dengan falsafah‐falsafah kosongmu. Ini negeri majemuk, jangan mengamuk jika ada yang tak mau, falsafah negeri ini lebih relevan dari falsafahmu yang semu.

NKRI harga mati, Bhineka Tunggal Ika selamanya hidup dalam hati, pikiran, jiwa dan raga kita semua.

Surabaya kotanya para pahlawan,
3 Mei 2017

Penulis : Abimanyu Yusuf