Bangkitnya Jiwa Gotong Royong Sebagai Solusi Permasalahan Bangsa

409
Bangkitnya Jiwa Gotong Royong Sebagai Solusi Permasalahan Bangsa

Indonesiaone.org – “Berat sama dipikul ringan sama dijinjing dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”

Tanpa ada komando awalnya, tiba-tiba sekelompok orang berkumpul di satu rumah warga. Mereka ramai-ramai membantu mengangkat balok kayu, pasir, serta batu bata dan membangun rumah milik salah satu warga.

Setiap warga fokus pada tugasnya masing-masing, dan bekerja sama menyelesaikan rumah tersebut. Bukan bayaran dan pujian yang mendorong mereka melakukannya, namun saling keterikatan dan rasa kekeluargaan antar sesama warga yang membutuhkan.

Itulah Gotong Royong, budaya asli dan salah satu identitas dari Bangsa Indonesia yang membuat bangsa ini unik dan berbeda dari bangsa yang lainnya. Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar, mudah dan ringan.

Gotong royong menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, berarti bekerja bersama-sama (tolong- menolong, bantu-membantu), merupakan manifestasi konkret dari semangat kebersamaan antar-masyarakat dalam bantu-membantu dan tolong-menolong.

Sejarah Gotong Royong

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, istilah Gotong royong menempati posisi terhormat sekaligus membumi. Terhormat karena istilah tersebut seringkali dijadikan kata kunci oleh para tokoh bangsa sebagai “soul” atau jiwa dari suatu gerakan.  Presiden Soekarno menggunakan istilah gotong royong sebagai kata lain Ekasila yang merupakan perasan dari Pancasila. Istilah gotong royong juga banyak dipakai pada era Orde Baru, dan bahkan menjadi nama salah satu kabinet dalam era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Gotong royong disebut membumi, karena Budaya gotong royong telah menjadi tulang punggung dari kehidupan bermasyarakat selama berabad-abad.

Jika kita menelaah jauh kebelakang, Gotong royong merupakan salah satu filosofi bangsa yang telah diwariskan turun temurun melewati berbagai generasi. Masyarakat Indonesia tampaknya sadar betul bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan dan kerjasama yang melibatkan orang lain. Sebaliknya, sebagai manusia juga perlu melibatkan diri untuk membantu orang lain terlepas dari kesulitan. Keterbatasan sebagai individu manusia yang seorang diri, akan tertutupi saat dibantu dan ditolong oleh sesama.

Gotong royong berasal dari kata dalam bahasa Jawa. Kata “Gotong” dapat dipadankan dengan kata pikul atau angkat, sementara “Royong” dapat dipadankan dengan bersama-sama. Meskipun istilah gotong royong kemudian dikenal dengan luas di pulau Jawa, jiwa gotong royong sendiri terlahir murni dari akar budaya di kepulauan Nusantara. Hampir di semua kebudayaan di Nusantara dari Sabang sampai Merauke mengenal budaya tersebut.

Tradisi gotong royong sudah dikenal sejak abad ke IV Masehi, dimana masyarakat kepulauan Nusantara yang rata-rata nelayan, selalu bantu membantu baik saat berlayar, menangkap ikan, memotong pohon untuk bahan dasar membuat rumah, hingga proses pembuatan rumah.

Hal yang menarik dari praktik gotong royong tersebut adalah sifatnya yang tanpa pamrih dan secara sukarela dilaksanakan oleh semua masyarakat menurut batas kemampuannya masing-masing. Hal ini pada akhirnya menumbuhkan rasa kebersamaan, kekeluargaan, tolong menolong, dan rasa persatuan yang merupakan cikal bakal terbinanya persatuan Nasional.

Nilai-nilai dalam Gotong Royong

Gotong royong merupakan “Perekat” dalam kehidupan bermasyarakat, dengan berbagai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya :

1. Kebersamaan dan Persatuan

Gotong Royong mencerminkan rasa kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat, juga sebagai suatu perwujudan harmoni persatuan dan kekeluargaan masyarakat.

Dalam bergotong royong terjadi sinergi antara para partisipan sehingga kegiatan berjalan lancar, hemat biaya, hemat tenaga, dan yang terpenting memberikan kebanggaan khusus bagi yang terlibat.

Masyarakat yang terlibat sama-sama memiliki rasa kepedulian dan merasa bahwa tetangga dan lingkungannya adalah salah satu bagian dari mereka. Dari sanalah timbul rasa persatuan yang sangat kuat di masyarakat.

 2. Rela berkorban dan Empati

Gotong royong mengajari setiap orang untuk rela berkorban dengan ikhlas dan sukarela.

Pengorbanan tersebut dapat berbentuk apapun, mulai dari berkorban waktu, tenaga, pemikiran, hingga uang. Semua pengorbanan tersebut dilakukan demi kepentingan bersama. Masyarakat rela mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk memenuhi kebutuhan bersama. Bangsa yang besar selalu lahir dari pengorbanan. Tanpa ada pengorbanan tidak akan pernah ada kemuliaan!!

3. Sosialisasi

Gotong royong membuat masyarakat saling mengenal satu sama lain sehingga proses sosialisasi dapat terus terjaga keberlangsungannya. Seorang manusia akan memiliki arti lebih di dalam hidupnya saat ia berhasil membantu dan memberikan manfaat kepada sesamanya.

Namun sungguh disayangkan, roh dan jiwa gotong royong ini terus terhimpit dan mati oleh kecurigaan serta kebencian satu dengan yang lainnya, juga tergerus oleh arus modernisasi yang mengkondisikan manusia menjadi pribadi yang individualistis. Tidak heran jika akhirnya sesama anak bangsa saling menjegal, menjatuhkan, dan menganggap musuh satu dengan yang lainnya

Bisakah kita bayangkan, jika roh dan jiwa gotong royong ini kembali muncul dalam hati masyarakat Indonesia? Pastilah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan kuat. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita bersama di tengah polemik politik yang kian meruncing diantara tokoh – tokoh bangsa yang ber-imbas sampai pada masyarakat. Bukanlah suatu kebetulan jika nusantara pada masa lampau dan Indonesia pada masa kini masih dianugerahi Tuhan dengan jiwa Gotong Royong.

Membangkitkan jiwa gotong royong memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi semudah tekad kita mewujudkannya. Perlu kesadaran diri bersama, bahwa musuh kita bukanlah sesama anak bangsa. Musuh kita bukan Kristen, Islam, China, dan agama serta suku lainnya. Melainkan kebodohan dan kemiskinan. Inilah dua musuh utama yang harus ditanggulangi bersama dengan bergotong royong.

Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno menyampaikan bahwa gotong royong merupakan “jiwa” masyarakat Indonesia pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di tahun 1945.

Hal tersebut untuk suatu tujuan, agar rakyat Indonesia tidak menjadikan perbedaan sebagai masalah yang mencerai beraikan, namun menjadi kekuatan yang mempersatukan untuk mewujudkan kemerdekaan dan mempertahankannya. Jika ini yang menjadi roh kemerdekaan, maka tidak ada alasan bagi generasi ini untuk membiarkannya mati oleh karena intrik politik dan era modernisasi. Sebab tanpa roh gotong royong, maka Indonesia akan mudah “dijajah” oleh kebodohan dan kemiskinan. Mengobarkan semangat gotong royong adalah kewajiban kita bersama sesama anak bangsa !!