Beternak Kebencian, Raup Keuntungan Ratusan Juta

25-saracen

Ujung-ujungnya DUIT

Itulah kata-kata yang paling pas bagi sindikat Saracen ini.

Hanya demi uang, mereka dengan gencar mengadu domba sesama anak bangsa dan menyebarkan konten HOAX, ujaran kebencian bermuatan SARA di media sosial. Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk  mengisi pundi-pundi uang dan kantong mereka pribadi.

Polisi mengatakan, sindikat yang baru saja tertangkap ini menyebarkan konten hoax dan sentiman sara dengan motif murni ekonomi alias hanya karena uang.

Kepala Subdit I Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan, para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pihak pemesan.

“Dalam satu proposal yang kami temukan, itu kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta (rupiah),” kata Irwan.

Biasanya konten sudah disiapkan terlebih dahulu oleh anggota grup tersebut. Konten tersebut baru diunggah ke media sosial ketika sudah ada kontrak dengan pemesan. Dengan bersenjatakan ribuan akun sosial media yang mereka miliki, meme dan tulisan bermuatan kental ujaran kebencian dan SARA mereka upload ke dunia maya.

“Dalam kesehariannya mereka memproduksi yang akan mereka tawarkan,” kata Irwan.

Pentolan Saracen

Para Pentolan Saracen Tertangkap Polisi

Lebih lanjut Irwan menjelaskan, modus aksi mereka melibatkan ribuan akun.  Misalnya 2.000 akun dibuat untuk mengunggah meme yang menjelek-jelekkan Islam. Dan 2.000 akun lainnya menjelek-jelekkan kristen. Tergantung pesanan saja.

Setiap proyek busuk ujaran kebencian dan SARA nilainya bisa mencapai Rp100 juta.

Saat ini polisi masih mendalami pihak-pihak yang memesan konten atau artikel dari Saracen. Tiga pentolan Saracen ditangkap pada waktu dan tempat yang berbeda. JAS (32), selaku ketua Saracen ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada Senin (7/8).

JAS bertugas merekrut anggota. Ia juga membuat akun anonim sebagai pengikut grup dan berkomentar dengan nada provokatif pada setiap unggahan mereka.

MFT, ditangkap pada Jumat (21/7) di Koja, Jakarta Utara. Ia berperan sebagai koordinator bidang media. Tugasnya menyebarkan artikel bermuatan kebencian dan SARA, juga mengunggah meme ataupaun foto yang telah disunting. Selain itu, MFT pun membagikan ulang unggahan di Grup Saracen ke akun Facebook pribadinya.

Sementara SRN, alias Ny Sasmita yang ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (5/8), merupakan koordinator di wilayah Jawa Barat. SRN bertugas  mengunggah konten penghinaan dan SARA.
Saracen

Saracen menyebarkan ujaran kebencian lewat grup Facebook Saracen, Saracen Cyber Team, dan Saracennews. Hingga saat ini jumlah akun yang tergabung dalam jaringan berjumlah 800 ribu akun.

Dari penangkapan 3 pentolan Saracen, polisi menyita sejumlah barang bukti. Dari JAS, ada 11 akun surat elektronik (email) dan enam akun Facebook yang digunakan sebagai sarana untuk membuat grup dan mengambil alih akun orang lain.

Polisi juga menyita 50 Simcard, 5 hardisk CPU, 1 HD Laptop, 4 HP, 5 flashdisk, 2 memory card. Ada pula 5 simcard, 1 memory card, dan 1 HP Lenovo.

Barang bukti yag disita polisi dari penangkapan tiga pentolan grup Saracen

Barang bukti yag disita polisi dari penangkapan tiga pentolan grup Saracen

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran mengatakan kelompok Saracen itu memiliki struktur sebagaimana layaknya organisasi pada umumnya. Mereka bekerja dengan peran yang sudah dibagi.

Seluruh tersangka dijerat dengan pasal berlapis. JAS dikenakan tindak pidana ilegal akses sesuai Pasal 46 ayat 2 jo Pasal 30 ayat 2 dan atau Pasal 46 ayat 1 jo Pasal 30 ayat 1 UU ITE Nomor 19 tahun 2016. Ancamannya 7 tahun penjara.

MFT dikenakan tindak pidana ujaran kebencian atau hate speech dengan konten SARA sesuai Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman 6 tahun penjara. Juga Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

SRN, anggota Saracen yang ikut diciduk polisi

SRN, anggota Saracen yang ikut diciduk polisi

Sementara SRN dijerat tindak pidana ujaran kebencian atau hate speech dengan konten SARA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara, dan atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Dengan adanya pengungkapan kasus ini, menurut Irwan, menunjukkan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang provokatif dan intoleran sehingga masyarakat perlu waspada, berinternet secara merdeka dan bermartabat untuk mencegah disintegrasi bangsa.