Budidaya Lalat Menjadi Solusi Pakan Ternak

11-Lalat HItam

Kabar yang cukup unik datang dari Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Lalat yang selama ini dianggap sebagai hewan yang menjijikan dan tidak berguna, justru dibudidayakan menjadi pakan ternak.

Rata-rata, lalat membawa lebih dari 200 bakteri berbahaya hasil dari tempat-tempat kotor yang mereka hinggapi seperti makanan busuk dan kotoran hewan. Lalat dapat mentransfer penyakit menular yang serius seperti kolera, disentri, dan tipus. Itulah mengapa lalat selalu dihindari dan dianggap tidak berguna.

Meski demikian ternyata hewan kecil ini ternyata memiliki manfaat untuk menjadi sumber protein yang baik bagi pakan ternak dan dapat menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan pakan murah berprotein tinggi, apalagi lalat berkembang biak dengan subur di wilayah Indonesia yang beriklim tropis.

Pemerintah Kabupaten Situbondo saat ini sedang mengembangkan inovasi budi daya lalat hitam sebagai pakan ternak di pembuangan akhir (TPA) sampah.

“Inovasi pengembangan bahan organik untuk budi daya lalat hitam sudah dipelajari teknologinya dan ke depan tinggal belajar bagaimana budi daya lalat pada daerah-daerah lain yang telah melakukannya terlebih dahulu,” ujar Bupati Situbondo Dadang Wigiarto di Situbondo.

Ia mengemukakan, dengan mengembangkan inovasi budi daya lalat tersebut di TPA sampah sehingga kehadiran lalat hitam tidak membawa dampak buruk, melainkan bisa diolah menjadi pakan ternak.

Mantan deputi bidang agroindustri di Kementerian BUMN, Agus Pakpahan, adalah salah satu yang menyelisik manfaat lalat. Dalam sebuah literatur, Agus menemukan fakta bahwa lalat merupakan sumber protein untuk pakan ternak.

Dalam proses dekomposer (penguraian sampah), Bakteri adalah unsur penghancurnya. Tapi, proses pembusukannya sendiri memakan waktu yang lama hingga enam bulan. Sementara itu, ada satu makhluk yang memakan barang-barang busuk, yaitu lalat.

Agus menjelaskan, satu kilogram sisa makanan akan menjadi tempat hidup bagi 100 ribu ekor lalat. Jika satu rumah tangga membuang sampah dan sisa makanan dua setengah kilogram, ada 250 ribu ekor lalat yang siap menyerbu. Jika separuh dari lalat itu betina, seekor lalat bisa menghasilkan telur hingga 500.

Dengan demikian, dalam satu siklus hidup selama satu bulan, dua setengah kilogram sampah menghasilkan 62,5 juta telur lalat. Sumber protein dari lalat terdapat pada fase larva dan prepupa.

Larva lalat tentara hitam
Larva lalat tentara hitam © Dennis Kress /Wikimedia Commons

Buku Flies karangan Stephen A. Marshall menjelaskan bahwa ada 400 hingga 800 jenis lalat di dunia. Dari sekian banyak tersebut lalat tropis dengan nama latin Hermetia illucens atau yang dikenal dengan sebutan black soldier flies (lalat tentara hitam), merupakan jenis yang aman dan sehat untuk pakan ternak.

Tidak hanya bisa menjadi pengganti, Menurut Agus, lalat tentara hitam memiliki banyak keunggulan untuk dikembangkan sebagai bahan pakan ternak. Antara lain, ia dikenal tahan banting dan makannya banyak.

Kandungan protein larva dan prepupanya mencapai 45 persen, lemaknya 35 persen, dan asam aminonya lengkap. Selain itu, lalat tersebut mengandung zat kitin yang baik untuk pupuk, kemampuan berkembang biaknya cepat, dan hidup di iklim tropis.

Cara mengembangbiakkan lalat ini tergolong mudah, yaitu dengan menyiapkan ruang berjaring yang tidak terlalu luas guna mencegah lalat berkeliaran.

Di dalamnya disiapkan kotak sampah dari rangka kayu yang diberi saringan. Sedangkan bagian atas tempat itu diberi potongan-potongan kardus sebagai tempat lalat bertelur. Telur di rongga-rongga kardus tersebut nanti jatuh dan ditampung sampai menjadi larva. Larva inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan pakan ternak.

Bio-konversi oleh larva lalat tentara hitam (black soldier fly larvae [BSF]) dapat mendegradasi sampah lebih cepat, tidak berbau, dan menghasilkan kompos organik, zero waste, serta larvanya dapat menjadi sumber protein yang baik untuk pakan.

Pengembangan budidaya lalat hitam dengan menggunakan sampah menjadi salah satu konsep yang tengah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Situbondo. Hal ini dilakukan untuk dapat mempertahankan Piala Adipura.

Pekan lalu, Kabupaten Situbondo kembali mendapat Piala Adipura. Penghargaan tertinggi bidang kebersihan untuk kategori kota kecil. Ini merupakan piala keempat kalinya bagi kabupaten tersebut. Sebelumnya Situbondo sempat absen mendapatkannya pada 2015 dan 2016.

Budidaya lalat dan belatung (larva/bayi lalat) memang sedang banyak berkembang di banyak daerah. Bahkan pada Februari lalu Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pemerintah Kota Depok merencanakan pembinaan warga untuk budidaya belatung atau larva lalat hitam, yang dinilai mampu mengurai sampah organik.

Bukan hanya sekadar bermanfaat dalam mengurai sampah, belatung juga bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat yang turun tangan buat budi daya belatung. “Maggot–belatung–kalau dijual bisa dihargai Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Kalau begitu kan bisa juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Etty Surhayati.

Selengkapnya tentang teknologi Bio-Konversi sampah : Biomagg