Dari Balik Jeruji Mentalitas Ahok Berbicara Lantang

Dari Balik Jeruji Mentalitas Ahok Berbicara Lantang

IndonesiaOne.org – Bicara mengenai Ahok tidak akan ada habisnya. Kehidupannya seakan magnet bagi banyak orang, baik mereka yang setengah mati menganguminya maupun mereka sepenuh hati membencinya. Apa saja yang dikatakan dan dilakukannya menjadi begitu menarik untuk diperbincangkan. Kekalahannya di pilkada DKI dan justru semakin mendobrak popularitasnya baik di dalam negeri maupun Jakarta manca negara.

Tentu saja hadirnya Ahok di kancah politik bukanlah sekedar menjadi buah bibir yang asyik diperbincangkan atau diperdebatkan. Ada beberapa mentalitas hidup Ahok selaku wakil rakyat dan pejabat pemerintah yang melayani di bangsa ini yang dapat kita jadikan sebagai mentalitas kita di dalam upaya mewujudkan Indonesia baru yang berlandaskan Pancasila.

  1. Rela meninggalkan zona nyaman (baca : berkorban).

Di saat ia bisa memilih untuk hidup aman dan nyaman bersama keluarganya, Ahok memilih meninggalkan zona nyamannya. Tentunya Ahok sadar betul mahalnya “harga” yang harus ditanggungnya ketika memutuskan untuk terjun langsung sebagai pelayan masyarakat yang bersih, transparan, professional (BTP) dibandingkan dengan menjadi pengusaha sukses. Dia harus menghadapi “serigala-serigala” yang sudah sejak dahulu leluasa menggerogoti uang rakyat.

Jika disuruh memilih menjadi pengusaha yang memiliki omzet dengan angka fantastis atau menjadi pejabat yang dikenal BTP dengan hidupmu yang menjadi taruhannya, mana yang akan kita pilih?

Apa yang timbul dalam benak kita ketika menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup Ahok akhir-akhir ini? Didemo sampai berjilid-jilid, menjalani sidang demi sidang yang menguras emosi dan tenaga, bahkan sampai harus mendekam di dalam bui, belum lagi dicap kafir padahal jelas-jelas ber-Tuhan.

Apakah kita berpikir memang seharusnya Ahok tidak usah menjadi pejabat, lebih baik ia duduk manis saja sebagai pengusaha dan tinggal menikmati rupiah demi rupiah mengalir ke kantongnya. Toh memang dari dulu sampai selamanya kaum minoritas tak bisa menjadi pemimpin di bangsa ini. Kebaikan apapun yang Ahok lakukan akan menjadi percuma, ia tetap saja dipandang sebagai kaum minoritas yang mencoba menjajah mereka yang mayoritas.

Pikiran-pikiran seperti inilah yang memang sengaja dikondisikan oleh penguasa-penguasa tamak untuk membungkam suara kebenaran. Kita menjadi apatis dan ogah memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Sebab, jika kebenaran berhasil dibungkam, maka mereka bisa leluasa mengeruk uang rakyat bagi dirinya atau kelompoknya sendiri. Selamanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak akan pernah bisa terwujud di Indonesia.

Seorang Ahok telah memilih untuk menempuh jalan ini, ia telah banyak berkorban dengan meninggalkan segala kenyamanannya demi mengabdi kepada kebenaran yang membawa keadilan sosial bagi rakyat yang dicintainya. Walau jalan yang dilaluinya tak mudah, penuh onak dan duri tapi ia tetap setia kepada panggilannya membela mereka yang selama ini terlupakan.

Indonesia memerlukan Ahok-Ahok lainnya yang rela meninggalkan zona nyamannya demi melakukan tugas mulia bagi kemajuan bangsanya. Kita butuh hakim-hakim dan aparat penegak hukum yang berintegritas, kita perlu guru-guru yang menanamkan pentingnya persatuan, kita perlu pejabat-pejabat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Kita perlu orang-orang bersih, khususnya di tempat-tempat yang memiliki otoritas di bangsa ini. Kini keputusan ada di tangan kita masing-masing. Akankah kita memilih jalan yang sama seperti yang telah Ahok lalui atau duduk diam bersembunyi dalam kenyamanan kita layaknya lakon yang diharapkan oleh tikus-tikus berdasi itu dan  membiarkan bangsa ini semakin terpuruk.

  1. Berpegang teguh pada kebenaran.

Tak bisa dipungkuri rekam jejak sebagai orang yang bersih, transparan, dan profesional melekat dalam diri Ahok semasa mengabdi sebagai anggota dewan rakyat maupun sebagai pejabat pemerintahan. Semua itu tidak lepas dari prinsip-prinsip kebenaran yang dipegangnya. Bagi Ahok, tak pernah ada area abu-abu. Benar katakan benar, salah katakan salah.

Tidak mudah menjaga diri tetap bersih di tengah lingkungan yang kotor, di mana segala cara dihalalkan demi memuaskan nafsu keserakahan semata. Tidak sedikit yang pernah terjun ke dunia politik mencoba untuk perubahan di sana namun akhirnya malah  terbawa arus yang ada, menjadi sama kotornya dengan yang lainnya.

Tapi tidak bagi Ahok. Baginya tak ada kata kompromi terhadap ketidakbenaran, sekali pun karena keteguhannya itu kelak melahirkan konspirasi-konspirasi busuk para penguasa dan cukong-cukong tamak untuk kemudian menumbangkannya.

Melihat keberadaan Ahok di Indonesia, kita harus berbesar hati, karena pada kenyataannya belum banyak orang di bangsa ini seperti beliau yang begitu ekstrim berpegang pada kebenaran bahkan melebihi hidupnya sendiri. Mungkin banyak orang tahu akan kebenaran, tapi pemasalahannya adalah ketika tekanan dan tawaran menggiurkan datang bertubi-tubi, akankah kebenaran tetap menjadi satu-satunya pegangan dalam langkah hidup kita atau malah kita sendiri berdiri berseberangan dengan kebenaran itu sendiri kemudian berusaha sekuat-kuatnya mencabik kebenaran itu.

Tanpa bangkitnya orang-orang yang memegang teguh (ekstrim pada) kebenaran, mengubahkan bangsa hanya menjadi wacana yang tak akan kunjung terealisasi. Tanpa hadirnya Ahok yang gila-gilaan pada kebenaran, kita tidak akan melihat Jakarta yang sekarang. Berpuluh-puluh tahun rencana pembangunan kota hanyalah sebuah blue print tanpa realisasi.

Begitu pula pola yang seharusnya terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Pembawa kebenaran bangkit, perubahan terjadi. Harusnya mata kita terbuka bahwa Indonesia memerlukan lebih banyak lagi pembawa-pembawa kebenaran yang tak mengenal kata kompromi pada ketidakbenaran dengan segala risiko yang harus dihadapi. Inilah momentumnya untuk setiap kita bergandengan tangan mengesampingkan suku, agama, maupun ras yang kita miliki untuk memegang pedang kebenaran, menumpas segala keserakahan, pembodohan, dan perpecahan di negeri yang kita cintai ini, karena hidup adalah kebenaran dan mati  bagi kebenaran adalah keuntungan. Kita buktikan, kebenaran semakin dibabat, semakin merambat!!! (TJ)