Home / SARA - SELALU ADA HARAPAN / Opini / Fenomena Asal Bukan Ahok dan Blunder Pendukungnya

Fenomena Asal Bukan Ahok dan Blunder Pendukungnya

Indonesiaone.org – Belakangan ini, salah satu lembaga survey menemukan suatu fenomena yang cukup mengejutkan mengenai motif dan alasan di balik sejumlah responden memilih pasangan calon nomor 3 Anies-Sandi.

Alasan “Asal Bukan Ahok” sebesar 25,9 persen menjadi motif nomor dua terbesar diatas motif lainnya seperti program bagus, santun, berpengalaman, dan faktor lainnya. Sementara itu saat ditanyai apa yang tidak disukai dari Basuki-Djarot, sebesar 28 persen responden menyebutkan soal tidak bisa menjaga kata-kata, disusul oleh kasus dugaan penodaan agama sebesar 10,7 persen. Hal ini cukup aneh sebenarnya, karena dari beberapa survey yang dilakukan tingkat kepuasan terhadap kinerja Ahok-Djarot cukup tinggi yaitu sebesar 60-70%.

Penasaran dengan hasil itu, saya pun mencoba untuk bertanya langsung kepada beberapa teman yang saya ketahui masih belum menentukan pilihannya (undecided voters / swing voters).

Ternyata tren yang sama saya jumpai, 9 dari 10 teman yang saya tanya mengaku sebetulnya sangat puas dengan kinerja Ahok di Jakarta. Mereka mengatakan bahwa hasil kerja Ahok tidak dapat dipungkiri memberikan kemajuan bagi Jakarta, mulai dari pembangunan rusun, taman kota,  penggusuran Kalijodo, hingga normalisasi sungai-sungai di Jakarta.

Namun 7 dari 10 orang menjawab masih ragu memilih Ahok karena faktor ketidaksukaan terhadap tempramen dan kata-kata Ahok yang menurut mereka agak kasar. Bahkan 2 orang dari mereka mengeluhkan tindakan Ahok yang mengeluarkan makian kasar saat sedang siaran langsung di salah satu televisi lokal. Mereka mengeluhkan betapa susahnya untuk memberi penjelasan dan mendidik anaknya kembali, karena saat siaran tersebut ia dan anak-anaknya sedang menonton televisi bersama-sama. Maklum, acara tersebut diputar sekitar sore hari dimana anak-anak belum tidur dan masih beraktivitas di dekat televisi.

Bagi sebagian orang, komunikasi Ahok mungkin agak kasar dan menjadi salah satu kelemahan yang diakui sendiri oleh beliau. Kelemahan ini juga yang seringkali menjadi sasaran empuk bagi lawan-lawan politiknya. Kasus penodaan agama yang berkepanjangan pun sebetulnya tidak perlu terjadi seandainya beliau tidak “offside” dan berkomentar di aspek yang bukan merupakan ranah beliau.

Rentetan kabar negatif dan kasus berkepanjangan memang sangat berpengaruh terhadap elektabilitas Basuki-Djarot. Di atas kertas sebetulnya pasangan Basuki-Djarot sangat berpotensi memenangkan Pilkada satu putaran. Faktor popularitas Ahok, dukungan dari artis-artis ternama, serta dukungan dari partai-partai besar seperti PDIP dan Golkar seharusnya sudah cukup untuk meraup suara di atas 50%. Namun, malang nasibnya bagi Ahok yang terjerat kasus dugaan penistaan agama menurunkan elektabilitasnya secara signifikan.

Selain kasus penistaan agama, faktor lain yang juga mengurangi persentase suara Basuki-Djarot adalah faktor kekecewaan para pendukungnya di Pilkada lalu setelah menjadi korban penggusuran. Rata-rata mereka mengatakan bahwa Jokowi-Ahok pernah berjanji untuk tidak melakukan metode penggusuran, namun nyatanya metode inilah yang dipilih oleh Ahok setelah naik menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Berita mengenai curhatan korban gusuran dapat dibaca disini : Balada korban gusuran.

Terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi elektabilitas Basuki-Djarot, saya melihat adanya beberapa “blunder” yang justru dilakukan oleh para pendukung Basuki-Djarot yang sangat aktif di media sosial dan menyerang pasangan calon lain. Mereka lupa bahwa pasangan calon nomor 1 atau nomor 3 bisa saja menjadi sekutu seandainya Pilkada berjalan 2 putaran. Ahok sepertinya sudah mengantisipasi seandainya Pilkada 1 putaran tidak terealisasi dengan mengajak para pendukungnya untuk tidak menyerang calon lain.

Baca : Ahok mengajak para pendukungnya untuk tidak menyerang, melainkan adu gagasan.

Gencarnya para pendukung Ahok-Djarot menyerang calon lain dapat dilihat dari sebaran informasi yang ada, salah satu contohnya dari website opini berbasis Ahok-Djarot, Seword.com

Seword Seword2

Image : Seword.com (9/3/2017)

Hal yang sama juga terlihat dari akun-akun pendukung Ahok di Twitter yang seringkali membuat meme yang menyerang pasangan lain.

Twitter Twitter2

Image : Twitter (9/3/2017)

Padahal dengan melakukan kampanye negatif seperti ini, sebetulnya tidak banyak manfaat (benefit) yang didapatkan. Terbukti dari 90% pemilih masing-masing calon tetap teguh pada pendiriannya akan memilih calon yang sama pada Pilkada putaran kedua.

Hal ini malah berpotensi  menjadi bumerang bagi kemenangan Basuki-Djarot sendiri, karena kampanye negatif justru akan mengurangi simpati para pemilih yang belum menentukan pilihan.(Undecided voter) yang selama ini lebih banyak menyimak sambil menimbang-nimbang pilihannya. Apalagi justru jargon-jargon dari pasangan lawanlah (seperti DP0 dan Ok Oce) yang justru menempel di benak masyarakat.

Hal ini cukup kontras dengan para pendukung Calon lain yang justru sangat gencar melakukan kampanye dan penyampaian gagasan. Meskipun sering dijadikan candaan dan guyonan, tidak bisa dipungkiri bahwa Anies-Sandi telah berhasil membuat “branding” yang mudah diingat di kepala masyarakat yaitu OK-OCE dengan gaya khasnya.

Pandji Pandji2 Pandji3

Image : Twitter (9/3/2017)

Padahal, sebetulnya dari segi program kerja website resmi kedua calon memiliki database dan pembahasan yang cukup lengkap. Ada 40 Pembahasan program kerja yang dituliskan secara lengkap pada website Ahokdjarot.id :

Ahok-Djarot

Image : Website resmi Ahok-Djarot (9/3/2017)

Begitu juga dengan 50 total pembahasan yang dimuat pada website resmi Jakartamajubersama

Jakarta Maju Bersama

Image : Website resmi Anies-Sandi (9/3/2017)

Ahok-Djarot sebetulnya memiliki keistimewaan (privilege) yang tidak dimiliki oleh lawannya, yaitu kinerja dan track record yang terukur dan itu terpampang dengan jelas dalam website resminya. (Jakarta Kini dan Esok), namun sayangnya kurang banyak dipromosikan oleh para pendukungnya.

Kesimpulan

Ahok-Djarot sebetulnya sudah selangkah lebih maju dari lawannya karena telah memiliki track record dan bukti kerja selama menjadi Gubernur dan wakil Gubernur. Sayang sekali justru kinerja dan bukti nyata ini jarang dipromosikan oleh pendukungnya yang justru sibuk menyerang kubu lawan dan lupa bahwa ada banyak pemilih yang belum menentukan pilihannya sangat berpotensi untuk ditarik memberikan dukungan lewat kampanye dan gagasan program yang menarik.

Sama halnya dengan itu, para pendukung Anies-Sandi juga harus menyadari bahwa kampanye negatif dan kampanye hitam apalagi memainkan isu SARA adalah tindakan yang bodoh dan kontraproduktif. Ini adalah detik-detik pertempuran akhir dimana setiap pasangan calon harus merebut hati para pemilih rasional yang belum menentukan pilihannya.

Semoga Pilkada DKI terus berjalan menuju arah yang lebih baik, dimana bukanlah kampanye negatif apalagi kampanye hitam (SARA dan fitnah) yang menjadi ujung tombaknya.

Melainkan kampanye yang sehat, adu gagasan dan adu kemampuan.

Disclaimer : Artikel ini adalah murni opini penulis, tanpa berusaha untuk menyudutkan, menyerang  atau mendiskreditkan pihak manapun.

Penulis : Yonathan.S

Check Also

Mengenang 6 Ucapan Gus Dur Yang Mempersatukan

IndonesiaOne.org – Isu Suku, Agama, dan Ras (SARA) seringkali dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *