Grandprix, Doktor Termuda Indonesia di Usia 24 Tahun

Grandprix

“Nama adalah Doa”

Ungkapan itu benar adanya. Ada banyak kejadian dimana harapan dan doa orangtua yang disematkan pada nama sang anak menjadi kenyataan. Mungkin itu juga yang terjadi dengan pemuda asal Kupang yang satu ini. Sesuai dengan namanya yang identik dengan kecepatan, ia mampu menyelesaikan studinya dengan sangat cepat bagaikan mobil Formula One.

Grandprix Thomryes Marth Kadja baru berusia 24 tahun saat ia menyelesaikan program S3 Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal selangkah lagi menyandang gelar doktor setelah menjalani sidang disertasi tertutup pada tanggal 6 September 2017 di ITB.

Pada hari ini (Jumat, 22/7), ia akan menempuh sidang terbuka di Gedung Rektorat ITB. Statusnya sebagai doktor ini berhasil memecahkan rekor lulusan s3 termuda di ITB, bahkan di Indonesia.

Lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 31 Maret 1993,  Grandprix mencatat sejarah baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia mampu menyelesaikan program S2 dan S3 hanya dalam waktu empat tahun. Anak sulung dari tiga bersaudara ini memang sudah menunjukkan keunggulannya di dunia akademis sejak usia dini. Ia memulai pendidikan Sekolah Dasar (SD) di usia 5 tahun, kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan kelas akselerasi di SMA.

Pada usia 16 tahun, Grandprix melanjutkan studinya di jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI), dan lulus pada usia 19 tahun dengan predikat cumlaude. Lulus dari UI, ia mendapatkan tawaran beasiswa S2 di Korea Selatan. Atas berbagai pertimbangan, Grandprix tidak mengambil tawaran tersebut dan memilih program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang digulirkan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di tahun 2013.

Program ini memungkinkan sarjana unggulan bisa menyelesaikan program S2 dan S3 dalam kurun waktu empat tahun. Selama studi S3 di ITB, waktu yang ada digunakan olehnya untuk melakukan penelitian secara penuh menyelesaikan disertasinya.

Dalam penelitian disertasinya, Grandprix konsen di bidang Katalis dengan topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. Katalis merupakan zat yang mempercepat reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan.

Ia menjelaskan zeolit itu bisa dimanfaatkan di industri petrokimia untuk minyak mentah jadi bahan bakar. Atau bisa juga digunakan sebagai biogasolin dari produksi minyak sawit dan limbah plastik menjadi bahan bakar.

“Alasannya mengambil Katalis karena sejak S1 saya sudah konsen di sini, jadi lebih mendalami. Apalagi untuk Katalis khususnya zeolit di Indonesia belum berkembang. Industri di Indonesia saja masih impor dari luar negeri,” ungkap dia.

Selama menyelesaikan program PMDSU, Grandprix mendapat bimbingan dari Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya. Selama empat tahun, ia mampu mempublikasikan tujuh jurnal ilmiah skala internasional.

Target dari program PMDSU adalah lulus empat tahun dengan dua publikasi internasional. Tetapi Grandprix mampu melampaui target itu dengan tujuh publikasi internasional.

Wah betul-betul sesuai namanya ya… Semoga ke depannya Grandprix sanggup melakukan “overlap” yang lebih lagi di bidang Kimia yang ia tekuni lagi…