Home / SARA - SELALU ADA HARAPAN / Berita Umum / Heboh !! Buku Cerita Anak Ini Diduga Mengajarkan Masturbasi

Heboh !! Buku Cerita Anak Ini Diduga Mengajarkan Masturbasi

IndonesiOne.org – Kehebohan terjadi kembali di dalam dunia buku cerita anak. Dimana buku berjudul “Aku Berani Tidur Sendiri” dengan sub judulnya ‘Aku Belajar Mengendalikan Diri’ terbitan Tiga Serangkai menjadi viral di dunia maya. Cerita di dalam buku tersebut menimbulkan banyak ‘tafsiran’ dari yang membacanya. Ada banyak orang tua yang menganggap bahwa buku tersebut mengajarkan anak bermasturbasi. Namun ada juga yang membantah, bahwa sebenarnya cerita dalam buku itu dimaksudkan untuk pendidikan seksual bagi anak.

Berikut adalah beberapa cuplikan gambar dan cerita dari buku berjudul ‘Aku Berani Tidur Sendiri’ :

aku-berani-tidur-sendiri_20170220_172241

Beragam komentar pun diutarakan oleh Netizen. Banyak dari antara mereka yang menganggap bahwa buku ini dapat merusak moral sang anak.

Berikut ini adalah komentar – komentar dari para Netizen :

panefamily: Itu bukan buku sex education namanya tapi buku ngajari anak bagaimana caranya mas****** ???????? apapun pembelaannya ini buku gak bener buat anak2.

sekarci: Oooohhhh, buku edukasi seks… Yayayayyaa…. Paham paham paham… Tapi memang karena bahasanya sangat sederhana jadi seakan buku ini hadir dengan harapan teknisnya anak tidak memerlukan pendamping ketika membaca.. Tapi.. Yah memang agak salah sih kalau sampai begitu… Semoga semakin banyak buku atau artikel sex education yg lebih tepat strateginya..

risa_achmad: Yeeee…. Gak setuju sex education pake buku cerita anak anak begini!!!!!!

zherasf: Kangen bobo jadi pengen beli lagi beli ah *gasadar umur 22tahun*

_cenil_88: Meskipun sex education tp gak pantas kata2nya sgt eksplisit…

yuanshaa: Kalaupun sex edu ga gini2 juga deh -_____-

n1sa.a: Sex education ga ky gini juga… di sini kan secara eksplisit diberitahu cara memuaskan diri sendiri. ??

mi_chiiii: Tetep aja kalo bocah yg baca trus dia nyoba2 pegang2 gimanaaa????

novita_maharani_Ini JAHAT !!! klo anak yg ga pnh tau ttg hal tsb trs baca ini halaman per halaman apa bkn nya malah penasaran… #USUTTUNTAS

kezinlove: Aduh gak masuk akal alasannya.

Di akun instagramnya penulis Fita Chakra mengklarifikasi isi buku tersebut.

fita-cakra_20170220_180921

Assalamualaikum, teman-teman.

Bismillahirohmanirrohim.

Saya menerima banyak konfirmasi baik melalui inbox, DM maupun WA hari ini. Jika ada teman-teman yang menanyakan buku ini, berikut klarifikasi saya.

Saya banyak berdiskusi dengan editor tentang buku ini jauh sebelum terbit. Proses menulisnya cukup panjang. Jujur saja, saya sedih sekali ketika buku ini diposting sebagian halamannya.
Jauh sebelum hari ini, saya, Mas Didit sebagai editor dari buku ini dan Mbak Andar banyak berdiskusi. Sampai pada akhirnya, penerbit memutuskan menariknya beberapa bulan lalu (teman-teman pasti tahu bagaimana beratnya ketika buku yang kita tulis ditarik). Niat kami sesungguhnya adalah supaya anak-anak bisa melindungi diri dari kejahatan seksual. Bila teman-teman mencermati, ada halaman tips orangtua di sini karena buku ini memang dibaca dengan bimbingan ortu.

Saya memahami perasaan teman-teman yang mengkhawatirkan anak-anak yang membaca buku ini tanpa pendampingan. Cukup, doakan saya semoga saya bisa melalui ini dengan baik. Banyak hikmah yang saya ambil dari kejadian ini. Dan saya bersyukur masih banyak orang-orang yang menyayangi saya serta memberikan dukungan pada saya.

Mohon maaf lahir batin. Insya Allah, saya akan tetap berkarya.
Terima kasih Mbak Tiara Andarastuti, Mas Didit, dan Penerbit Tiga Serangkai.

Sementara itu penerbit Tiga Serangkai juga telah membuat klarifikasi di akun instagramnya.

Sehubungan dengan maraknya pembicaraan dan beredarnya potongan halaman dari cerita Aku Belajar Mengendalikan Diri dalam Seri Aku Bisa Melindungi Diri, bersama ini kami sampaikan bahwa ketika kami menerbitkan Seri Aku Bisa Melindungi Diri, kami berkeinginan membantu orang tua menjelaskan pada anak-anak tentang pentingnya melindungi diri. Antara lain mengajarkan anak untuk melindungi diri dari orang-orang yang berniat tidak terpuji terhadap mereka, membekali anak cara melindungi diri dari ancaman penyakit dan kejahatan seksual, juga pengetahuan dasar seksual yang penting untuk diketahui anak sejak dini.

Kami mengangkat materi “masturbasi” dalam salah satu cerita karena berawal dari adanya fenomena anak yang mendapatkan keasyikan saat menyentuh, memegang, atau bahkan memainkan kemaluannya. Hal “negatif” ini sudah umum dijumpai. Apabila kita mengetikkan kata kunci “anak memainkan kemaluannya” di Google, muncul banyak sekali artikel yang relevan dengan hal tersebut. Beberapa artikel bahkan menunjukkan bahwa perilaku ini juga dilakukan oleh balita. Beberapa orang menamakan aktivitas memainkan kemaluan ini dengan sebutan masturbasi. Sebenarnya, perilaku pada anak tersebut belumlah layak disebut masturbasi karena makna masturbasi adalah proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin atau stimulasi organ seks oleh diri sendiri.

Anak, bahkan balita, tentu sama sekali belum punya hasrat tersebut. Seperti diutarakan oleh salah seorang psikolog dalam artikel yang kami acu, perilaku senang menyentuh atau memainkan alat kelamin adalah wajar karena anak usia prasekolah sedang berada dalam masa phallic (falik), bahwa salah satu sumber kenikmatan berada di daerah genital. Hal ini normal dan merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Namun, setiap orang tua tentu khawatir jika mengetahui anak mereka mengetahui hal tersebut. Mereka khawatir hal tersebut akan terus dilakukan anak sampai besar dan akhirnya berkembang menjadi masturbasi. Oleh karena itulah, cerita Aku Belajar Mengendalikan Diri ini ditulis.

Dengan latar belakang tersebut, buku ini berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kepada anak bahwa perbuatan tersebut, memainkan kemaluannya, tidak sepantasnya dilakukan dan memiliki risiko kesehatan. Tentu target buku ini lebih diutamakan kepada para orang tua yang merasa anaknya juga melakukan hal tersebut. Namun, tetap ada baiknya jika buku ini juga dibaca oleh orang tua dan anak pada umumnya sebagai pengetahuan yang bermanfaat sebagai bentuk upaya pencegahan.

Pada akhirnya, kami sadar bahwa sebagian masyarakat kita mungkin belum siap untuk menerima pendidikan seksual sejak usia dini. Sebagai bentuk tanggung jawab kami, buku tersebut sudah kami tarik dari peredarannya dari toko buku umum sejak Desember 2016, tak lama setelah buku itu terbit. Namun sayang, ternyata masih ada yang menjualnya di toko online.

Sebagai bentuk tanggung jawab kami lainnya, jika tidak keberatan, kami mempersilakan Bapak untuk mengirimkan buku yang telah Bapak beli tersebut kepada kami ke alamat Redaksi Tiga Ananda; Jln. Dr. Supomo No. 23 Surakarta 57141, Telp. (0271) 714344. Kami akan mengganti buku tersebut dengan produk kami yang lain. Atau, jika berkenan, kami akan mengembalikan uang (alternatif) karena buku tersebut sudah ditarik dan tidak dijual bebas.

Kami berharap penjelasan ini dapat menjawab keresahan Bapak dan Ibu. Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas perhatian Bapak dan Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Surakarta, 20 Februari 2017
Penerbit Tiga Serangkai

Pendidikan seksual bagi anak tentunya akan sangat tepat jika dilakukan oleh orang tua. Oleh karena itu, buku tersebut harusnya ditujukkan kepada orang tua, bukan kepada anak. Tentunya dengan gaya bahasa dan gambar yang lebih edukatif, bukan dengan kalimat yang cenderung ‘membangkitkan kesenangan ‘memainkan’ alat kelamin. Dan penempatan penjualan buku tersebut harus berada di dalam kategori bacaan untuk orang tua, atau lebih tepatnya pada kategori parenting. Sehingga sang anak tidak akhirnya menjadi ‘korban’ multi tafsir dalam setiap gambar dan tulisan dalam buku ‘Aku berani tidur sendiri’.

Tentunya pendidikan seksual bagi sang anak perlu kita perhatikan sumbernya. Jika kita berkiblat pada dunia barat, seks diluar nikah adalah hal yang lumrah terjadi disana. Dianggapnya, itu adalah bagian dari hak asasi manusia yang tidak boleh dilarang. Jadi, pendidikan seksual sejak dini yang diterapkan disana pun berbeda. Mereka akan menitik beratkan pada ‘bagaimana cara membangun hubungan seks yang ‘aman’ sehingga tidak terjadi kehamilan yang diinginkan. intinya, kepuasan bisa tersalurkan tanpa harus ada ikatan janji dalam pernikahan.

Namun jika pendidikan seks bersumber pada nilai – nilai kebenaran dan moril yang dijunjung tinggi, maka penerapannya pun berbeda. Sejak dini sang anak sudah diajarkan sudut pandang dan sikap hormat yang benar terhadap organ – organ seksual dan lawan jenis. Tentunya transfer edukasi bukanlah sesuatu yang instant bisa dicerna oleh sang anak. Karena dibutuhkan lingkungan sekitar yang sehat, terutama keluarga. Saat orang tua sang anak mempunyai komunikasi dan kedekatan emosional yang baik, serta menjadi teladan serta panutan bagi sang anak, maka transfer nilai – nilai hidup serta pendidikan seksual yang tepat dapat terjadi baik.

Check Also

Imam Radikal dan Provokator Dipecat di Arab Saudi

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, mengatakan pemerintah telah memecat beberapa ribu imam berpaham radikal dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *