Connect with us

Inspirasi

Inilah Bedanya Orang Yang Berprinsip Teguh dan Orang Yang Keras Kepala !!!

IndonesiaOne.org – Terkadang orang sulit membedakan mana orang yang memiliki prinsip atau keyakinan yang teguh (strong conviction) dengan orang yang memang tabiatnya keras kepala.

Steven Agustinus seorang Potential Explorer dan Motivator handal menjelaskan ada 5 perbedaan yang mencolok antara orang yang memiliki keyakinan teguh dengan orang yang keras kepala :

Perbedaan Pertama

Bagi kamu yang memiliki strong conviction atau keyakinan yang teguh maka kamu akan selalu membangun hidupmu di atas dasar prinsip kebenaran yang hakiki atau mutlak sifatnya. Dan sangat menjunjung nilai-nilai yang luhur seperti kejujuran, kebenaran, kesucian dsb. Kamu pun tidak pernah merasa malu untuk menunjukkan prinsip itu kepada orang-orang yang ada di sekitarmu. Bahkan kepada orang yang pada dasarnya tidak suka dan menentang prinsip kebenaran itu.

Sedangkan sifat keras kepala selalu di dasari dari pertimbangan dan pemikiran yang kamu anggap benar meski itu bertentangan dengan prinsip nilai kebenaran. Seperti contoh, kamu akan menganggap ‘free sex’ itu lumrah di kalangan anak muda. Kamu beranggapan bahwa hal itu benar karena aktivitas seksual ini sudah biasa dan sewajarnya dilakukan anak muda sebagai bentuk saling menyukai. Tapi jika bertanya, “apakah free sex itu boleh ??” jawabannya sudah pasti sangat tidak boleh.

berprinsip-versus-keras-kepala-1

Perbedaan Kedua

Keyakinan teguh akan menjadikanmu sebagai pribadi yang memiliki hati yang lemah lembut, mudah diajar dan mudah berubah. Kamu terbuka dengan setiap koreksian yang diberikan oleh orang-orang yang ada di sekitarmu. Kamu pun tidak pernah merasa tinggi hati tapi tetap mau belajar dari siapapun meski memang kamu tahu bahwa kamu memiliki kemampuan yang lebih dari yang lain.

Sedangkan sifat keras kepala akan menjadikanmu sebagai pribadi yang memiliki hati yang keras dan tidak mudah menerima setiap koreksian. Karena kamu merasa bahwa apa yang kamu lakukan itu benar bagimu. Padahal mungkin orang yang sedang memberi nasehat padamu sudah mengetahui bahwa apa yang kamu lakukan itu salah dan pada akhirnya merugikan dirimu sendiri.

berprinsip-versus-keras-kepala-2

Jadilah KUAT saat engkau lemah, dan jadilah Rendah Hati saat engkau sukses.

Perbedaan Ketiga

Keyakinan teguh akan membuat dirimu menjadi tidak sombong karena cita-cita ataupun tujuan hidup yang kamu miliki. Melainkan dengan rendah hati melihat posisi atau keberadaan orang lain juga sebagai hal yang baik dan tidak menganggap sesuatu yang lebih rendah di bawahmu. Namun kamu cenderung untuk terus membandingkan apa yang sudah kamu lakukan dengan tujuan hidupmu yang mulia yang telah Tuhan tetapkan bagimu. Sehingga kamu akan terus menciptakan energi yang positif, tidak hanya untuk dirimu namun juga kepada orang-orang yang ada di dekatmu.

Sedangkan sifat keras kepala akan selalu membuatmu terus membandingkan dirimu dengan orang-orang lain yang ada di bawahmu. Kamu cenderung mudah berpuas diri dan suka merendahkan serta menghakimi orang lain. Kamu juga memiliki emosi yang tidak stabil dan tanpa disadari sering mengeluarkan energi negatif kepada dirimu sendiri serta orang yang ada di sekitarmu.

Perbedaan Keempat

Keyakinan teguh akan menjadikanmu pribadi yang menginspirasi dan membangun banyak orang. Akan ada banyak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadamu. Karena integritas sudah mulai terbangun kuat dalam dirimu.

Sedangkan sifat keras kepala menjadikanmu sebagai  seseorang yang susah dipercayai oleh orang banyak. Sehingga kamu sering berusaha untuk mencari perkenanan, pengakuan dan penerimaan dari orang banyak. Namun sayangnya sebuah kepercayaan itu tidak bisa dibangun dengan waktu yang singkat. Dibutuhkan kurun waktu yang tidak bisa ditentukan, pengorbanan dsb untuk membangun kepercayaan dan integritas dalam dirimu.

berprinsip-versus-keras-kepala-5a

Perbedaan Kelima

Keyakinan teguh akan menjadikanmu sebagai pribadi yang mau dan senang untuk dipimpin oleh pemimpinmu yang ada di atasmu. Karena untuk menjadi seorang pemimpin yang baik maka kamu harus menjadi orang yang mau dipimpin dan diarahkan oleh orang yang ada di atasmu.

berprinsip-versus-keras-kepala-5b-1024x640

Sedangkan sifat keras kepala akan menjadikanmu seseorang yang individual dan merasa tidak membutuhkan orang lain. Sehingga kamu selalu memiliki masalah dengan pemimpin yang ada di atasmu karena pada dasarnya kamu tidak mau dipimpin dan merasa diri sudah benar.

Kesimpulan

Itulah 5 perbedaan orang yang memiliki keyakinan atau prinsip yang teguh (strong conviction) dengan orang yang memang memiliki watak keras kepala. Jika ternyata kamu masih memiliki ada beberapa ciri dari orang yang keras kepala maka solusinya mudah yakni membuka diri dan siap untuk dikoreksi oleh orang-orang yang sudah ditetapkan untuk menjadi pemimpinmu. Bahkan kamu juga siap untuk menerima koreksian dari orang-orang yang ada di sekelilingmu.

Karena percayalah dengan kamu memiliki hati yang lemah lembut, mudah diajar dan mau berubah maka niscaya integritas dalam hidupmu akan mulai terbangun. Dan orang banyak akan mempercayai dan mengenalmu sebagai orang yang berintegritas dan memiliki idealisme yang tidak mudah digoyahkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Dalam Bisnis Kawan pun Dimakan!

Bisnis itu Kejam

Dunia bisnis itu kejam, ga kenal kawan ataupun lawan, ga kenal perasaan, semua pesaing bisnis pasti dilibas..

Itulah kehidupan dunia bisnis yang selama ini kita kenal. Kawan saja bisa dimakan, demi keuntungan bisnis semata. Tidak ada yang namanya hati nurani di dalam dunia bisnis.

Padahal sejatinya, dunia bisnis sebetulnya tidak terpisahkan dari hati nurani dan etika dalam bekerja. Ideologi dasar berbisnis adalah mencari keuntungan dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Itulah sebabnya hati nurani seharusnya menjadi “rambu-rambu” yang terpasang di dalam hidup setiap manusia, yang memberikan sinyal untuk kita mengenali hal-hal mana yang boleh dilakukan dan hal mana yang tidak boleh kita lakukan dan harus kita hindari.

Seseorang yang menggunakan nurani dalam berbisnis, tidak akan pernah memakai fasilitas dan jabatan yang ia miliki hanya untuk memperkaya diri sendiri diatas kerugian dan kesengsaraan orang lain.

Persoalannya, seringkali keuntungan materi dan pertimbangan logis (hitung-hitungan) seringkali menyajikan data bahwa cara-cara yang tidak etis, curang, dan egois justru memberikan keuntungan materi yang jauh lebih banyak dibandingkan cara-cara yang terhormat.

Disinilah manusia dihadapkan dengan pilihan, apakah tetap mempertahankan integritas dan kemurnian hati nuraninya, atau justru mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jalan curang yang mengorbankan integritas dan hati nuraninya.

Hati nurani yang terus dilanggar akan membuat suara hati nurani orang itu menjadi mati, ia pun menjadi terbiasa dengan tindakan yang salah dan tidak lagi merasa salah. Barulah jika kesalahannya itu terbongkar, ia akan mengaku “khilaf” melakukannya untuk menutupi rasa malu atau menarik simpati orang lain.

Continue Reading

Inspirasi

Berubah itu Mudah

Seringkali dalam sebuah profesi yang kita sedang jalani menuntut perubahan, dan kita akan kesulitan beradaptasi jika tidak memiliki paradigma yang mencintai perubahan.

Menjadi sesuatu yang sulit bagi kebanyakan orang untuk membangun mentalitas mencintai perubahan, karena memang lebih nyaman bagi seseorang untuk tetap diam di posisinya dan menghindari hal-hal atau tantangan yang baru.

Untuk dapat memiliki mentalitas yang mencintai perubahan, kita perlu memiliki paradigma yang mencintai perubahan, sehingga kita tidak akan mengalami kendala untuk berubah. 

Kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana, misalnya mencoba rute alternatif saat pulang atau pergi kerja, atau mencoba resep makanan baru yang belum pernah kita coba, atau jika setelah pulang kerja kita terbiasa menonton tv di sofa, kali ini lakukanlah hal yang baru seperti berolahraga atau membaca buku.

Pada awalnya alam bawah sadar kita akan memberi sinyal “tidak nyaman”, bahwa ini adalah hal di luar rutinitas kita. Tetapi setelah 2-3 kali kita mendisiplin diri melakukan hal di luar rutinitas kita, maka secara perlahan rasa tidak nyaman itu akan hilang dan kita mulai bisa menikmati aktivitas-aktivitas baru tersebut.

 Dari hal-hal yang sederhana, pikiran kita mulai terbiasa untuk berpikir “out of the box”, keluar dari limitasi yang tanpa sadar selama ini kita miliki. Kita pun mulai mendapati bahwa ada banyak hal-hal yang menarik dari sesuatu yang baru dan secara perlahan kita mulai berani untuk mencoba hal-hal yang baru.

Keteraturan vs mencintai perubahan.

Mencintai perubahan bukan berarti hidup kita jadi sembrono dan tidak terkontrol begitu saja, kita memang harus terus memiliki keteraturan dalam hidup ini.

Yang menjadi poin adalah, jangan ijinkan pola hidup teratur yang kita miliki menjadi “penjara” bagi hidup kita, tapi jangan juga mentalitas mencintai perubahan membuat kita tidak menata hidup kita. Keduanya harus seimbang dan menjadi 1 paket yang terbangun dalam hidup kita.

Continue Reading

Inspirasi

Kenapa Saya Minder ?

Ada banyak orang yang sering merasa minder, tanpa tahu apa sebenarnya alasan mereka minder.

“Udah bawaan dari sononya” gitu katanya.

Padahal, seseorang menjadi minder pasti selalu memiliki alasan dibaliknya. Pada umumnya hal itu disebabkan oleh sesuatu hal di masa lalunya, akibat dibesarkan di keluarga yang kurang suportif, dan tidak pernah dilatih untuk tampil di depan umum.

Sebetulnya orang-orang yang terkenal, para pembicara hebat yang sering berbicara di hadapan ribuan orang, juga memulai dari titik yang sama. Mereka gugup, jantung berdebar, ataupun mulut kaku saat hendak berbicara di depan umum. Perbedaannya adalah, mereka terus mencoba, semakin ahli dan terbiasa dan seiring waktu mereka memiliki “jam terbang” yang lebih dari orang-orang lainnya.

Kekuatiran adalah tembok penahan.

Ketakutan dan kekhawatiran yang menahan kita melakukan hal-hal baru atau menciptakan peluang di tengah tantangan sebetulnya hanyalah ketakutan fiktif.

Hal itu disebabkan karena kita terlanjur memiliki jalan berpikir dan mentalitas yang negatif. Melihat segala sesuatu dari sisi yang negatif. Tanpa kita sadari, alam bawah sadar selalu mengirim sinyal alarm yang menahan kita untuk melangkah maju.

Efek trauma masa lalu.

Mentalitas negatif dan kekhawatiran juga dapat disebabkan oleh trauma masa lalu yang meninggalkan bekas luka yang mendalam/membekas sehingga seseorang memiliki rasa takut untuk hal tersebut terulang.

Untuk itu kita harus belajar merasionalisasi apa yang kita takutkan dan mencari akar masalahnya. Jika hal tersebut terjadi karena kelalaian kita sendiri, maka kita harus memastikan bahwa kesalahan tersebut tidak akan terulang kembali.

Jika hal itu terjadi karena kesalahan orang lain, maka kita hanya perlu lebih waspada. Dengan demikian kita dapat menanggulangi setiap ketakutan dan kekhawatiran yang seringkali muncul akibat trauma.

Seringkali orang yang pernah mengalami trauma akan menjadi terlalu waspada dan khawatir berlebihan, namun sebetulnya dalam setiap peristiwa yang kita alami, kita selalu dapat mengkalkulasi resiko yang ada. 

Menanggulangi efek trauma.

Kembali, untuk menanggulangi trauma yang “tersimpan” di alam bawah sadar, kita harus mengedit ulang alam bawah sadar kita dengan teknik afirmasi (memperkatakan perkataan positif + membayangkannya)

Kita juga dapat melakukan rasionalisasi peristiwa trauma tersebut dan menganalisanya serta mencari solusi agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Kombinasi antara teknik afirmasi dan rasionalisasi akan membawa dampak besar bagi diri kita dan mulai membersihkan “File” dalam alam bawah sadar kita serta mengklasifikasikan trauma tersebut sebagai “special case” saja, sehingga kita bisa kembali hidup dengan normal seperti sebelum peristiwa itu terjadi.

Continue Reading

Trending!!