Home / SARA - SELALU ADA HARAPAN / Opini / Jika Saja Ahok Legalkan Prostitusi

Jika Saja Ahok Legalkan Prostitusi

IndonesiaOne.org – Pasca pembunuhan seorang wanita yang diduga Pekerja Seks komersial (PSK) online Deudeuh Alfisahrin ‘Tata Chubby’ (26) oleh Rio Santoso (24) pada beberapa waktu lalu memunculkan banyak reaksi. Tempat kost – kostan di Tebet yang menjadi lokasi kematian Tata langsung menjadi sorotan. Di duga kuat, di wilayah tersebut banyak tempat “prostitus terselebung”.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melemparkan sebuah wacana ke publik sebagai salah satu cara untuk menekan angka pertumbuhan tempat prostitusi. Ahok mempunyai ide menyediakan tempat prostitusi legal bagi para PSK. Wacana ini sontak saja menimbulkan banyak tanggapan. Ada sebagian masyarakat yang menyetujui tetapi juga ada yang langsung menolak wacana tersebut. Orang nomer 1 di DKI ini pun mengungkap maksud dan alasan di balik wacananya itu. Menurut Ahok, dengan adanya tempat prostitusi legal maka tingkat penularan HIV-AIDS akan terkendali. Dan juga dapat menekan pembukaan lokalisasi baru di Jakarta.

Di beberapa negara maju, seperti halnya di Belanda. Ada satu wilayah yang disebut dengan area RLD atau Red Light District. Tempat ini adalah tempat khusus yang dilegalkan oleh pemerintah untuk judi, ganja dan prostitusi. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah memungkinkan sistem seperti ini diterapkan di Indonesia khususnya di Jakarta? Bisakah kita membayangkan tempat tersebut akan membludak dengan para lelaki hidung belang yang mengantri? Tempat yang ilegal saja sangat diminati dan ramai pengunjung, apalagi jika tempat “esek – esek” itu dilegalkan.

Tetapi bukan berarti kita harus menentang wacana gubernur tersebut. Cobalah kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Para PSK biasanya dimiliki oleh para Germo atau biasa yang dipanggil dengan sebutan mami atau papi. Para pekerja seks ini harus menyetor sejumlah uang kepada mereka sebagai jatah. Tidak sedikit dari para wanita ini yang sebetulnya mengalami “siksaan yang cukup sadis” seperti yang ditemukan oleh menteri sosial Khofifah. Mereka bisa dipaksa dengan keadaan pendarahan berat untuk melayani 19 – 20 tamu setiap harinya. Pasti jauh di lubuk hati yang terdalam, para PSK ini ingin keluar dari lingkaran setan tersebut dan menjalani hidup dengan normal sebagai manusia seutuhnya.

Jika pemprov DKI bisa menyediakan tempat legal prostitusi beserta dengan tempat pembinaannya. Maka tidak tertutup kemungkinan, para PSK ini bisa bebas dari dunia hitam itu. Di tempat prostitusi legal itu para PSK disediakan wadah pelatihan untuk mereka dapat memilih jalan alternatif kehidupan lainnya yang sebelumnya mereka tidak dapatkan. Para “mami dan papi” mereka tidak akan pernah memberikan jalan hidup yang benar kepada mereka. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akan menerima resiko berat jika memilih keluar dari tempat lokalisasi. Dengan adanya tempat prostitus legal yang diwacanakan oleh Ahok, diharapkan juga para PSK ini dapat melihat titik terang menuju jalan hidup yang lebih baik.

Wacana Ahok bisa didukung oleh masyarakat luas jika pemprov DKI tidak hanya memikirkan menekan jumlah wilayah praktek prostitusi dan penyebaran virus HIV. Tetapi dapat bekerja sama dengan institusi sosial lainnya, baik dari pemerintah dan swasta untuk memberikan jalan hidup alternatif yang benar. Ketika pemprov DKI dapat menjamin dan mendukung keputusan para PSK untuk keluar dari dunia hitam tersebut, dengan memberikan perlindungan dan pekerjaan serta keahlian, bukanlah tidak mungkin kita akan melihat para PSK berubah menjadi warga negara yang berdaya guna bagi bangsa Indonesia.

Pemprov DKI tidak sama dengan “papi dan mami”. Perbedaan akan terlihat jelas ketika Ahok tidak hanya memberikan tempat legal bagi para PSK, namun juga memberikan jalan hidup alternatif untuk mereka dapat berdiri sebagai wanita terhormat dan seutuhnya.

Check Also

Mengenang 6 Ucapan Gus Dur Yang Mempersatukan

IndonesiaOne.org – Isu Suku, Agama, dan Ras (SARA) seringkali dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *