Koboi Pujaan Hati Vs Anies


IndonesiaOne.org – Saya seorang warga Jakarta yang sudah 30 tahun tinggal di Jakarta. Tentunya, masih belum lama dibanding dengan orang tua terdahulu yang sudah merasakan kerasnya Ibu Kota. Tapi Jakarta bagi saya hanyalah tempat tinggal, tidak lebih dari itu. Dan tidak ada sesuatu yang spesial. Bahkan cenderung negatif ketika berpikir tentang Jakarta. Macet, banjir, birokrasi yang bertele – tele dan korupsi. Namun sudut pandang tersebut berganti ketika hadirnya sosok Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama yang memimpin Jakarta di tahun 2012. Seolah ada harapan besar melihat kedua sosok ini. Apalagi ketika pak Jokowi jadi presiden, keceriaan dan senyum lebar yang selama ini tersimpan dalam asap panas ibu kota kembali muncul. Ya, ada harapan besar. Dan Jakarta pasti akan menjadi lebih baik.

Ahok (Basuki) pun melanjutkan tongkat kepemimpinan di DKI. Gayanya seperti koboi brutal penembak maling uang rakyat kian menjadi – jadi. Semua orang yang menantangnya habis disikat olehnya. Ia bagaikan pembunuh berdarah dingin yang berdiri menjaga kota. Banyak yang kesal dengannya, terutama para koruptor. Banyak yang sayang dengannya, terutama rakyat yang telah merasakan air hujan dan sungai tidak lagi menenggelamkan atap rumahnya. Banyak yang suka dibuatnya, sebab Kalijodo tempat para suami “bermain api” dibuat rata dengan tanah tanpa gentar sedikitpun melawan preman dan ancaman massa.

Memasuki PILKADA serentak 2017. Sang koboi ini berpasangan dengan wakilnya Djarot untuk bertarung memperebutkan posisi menjadi pelayan masyarakat Jakarta. Sebagian senang, sebagian gundah. Dan sebagian lagi berpikir keras menentukan calon yang sepadan. Muncullah Agus – Sylvi dan Anies – Sandi. Mantap !! Alhasil Agus – Sylvi tidak cukup suara untuk bertarung di putaran kedua. Ahok – Djarot dan Anies – Sandilah yang menaiki ring tinju selanjutnya.

Jujur saja, Anies Baswedan adalah sosok yang sangat berkharisma bagi saya. Senyumnya dan cara menjelaskan sebuah konsep terbilang sempurna. Apalagi ia adalah bagian dari kesuksesan Jokowi menuju RI 1. Walaupun akhirnya tidak lagi menjabat sebagai menteri pendidikan, hal itu tidaklah mengurangi kesan yang mendalam terhadapnya. Pak Anies hebat, tidak menjelek – jelekkan Joko Widodo ketika menggantinya dengan orang lain. Ia tetap bisa melihat segala sesuatunya dari sudut pandang seorang negarawan sejati. Salut dengannya. Berharap, ia bisa terus berkarya bagi bangsa ini.

Namun dahi saya mulai berkerut ketika membaca berita Anies Baswedan menjadi cagub yang diusung oleh beberapa partai. Dan lebih berkerut lagi ketika saya sadar, lawan beliau adalah sosok koboi brutal pujaan hati saya. Dilema hati dan penuh pertanyaan. Kenapa ini semua bisa terjadi???? Mengapa bapak Anies yang dahulunya berseberangan dengan partai pengusungnya sekarang, justru menjadi begitu akrab. Ya, mungkin itulah karakteristik kenegarawan yang saya belum pernah tau.

Masih terus berpikiran positif dengan bapak Anies yang sangat nasionalis menurut padangan saya. Tapi saya hampir menyerah ketika melihat dirinya berada dalam program acara Mata Najwa.

Berikut adalah kutipan tanya jawab Najwa terhadap Anies dalam program tersebut yang membuat saya melotot di depan televisi :

Najwa : “Pertanyaan saya belum terjawab mas Anies, sependapat dengan sikap politik FPI, gubernur harus orang Islam?”

Anies   : “Kalau kita berbicara tentang ayat Quran, jelas disitu dikatakan itu. Tapi kalau sudah sampai keputusan politik, keputusan politik maka itu diserahkan pada rakyat. Karena itulah ada proses demokrasi.”

Najwa  : “Jadi anda tidak sependapat?”

Anies    : “Tentang?

Najwa   : “Tentang sikap politik FPI gubernur harus orang Islam, gubernur Jakarta..”

Anies     : “Sebagai seorang Muslim saya mentaati Al Maida 51.”

https://www.youtube.com/watch?v=1Y2yaVM_nvQ

Saya orang Kristen. Harapan saya bisa menemukan pemimpin Jakarta yang bisa mengayomi semua umat beragama. Tidak peduli agama apapun pemimpinnya. Namun sosok pak Anies langsung tereleminasi dari benak saya. Tapi saya tetap berpikir positif terhadapnya. Karena apa yang dia katakan mungkin dari sudut pandang seorang yang beragama Muslim. Itu sah – sah saja tentunya. Namun artinya jauh di dasar hatinya ia pun menolak keberadaan bapak Ahok sebagai pemimpin Jakarta sebelumnya. Dan secara tidak langsung memunculkan pengertian dalam diri saya, bahwa bapak Anies memang tidak menghendaki pemimpin kota atau bangsa beragama lain selain Muslim. Tapi sekali lagi saya katakan, itu sah – sah saja. Tapi tidak bagi saya !

Sangat was – was tentunya ketika mengetahui hasil hitung suara dimenangkan oleh Ahok – Djarot namun dengan selisih yang cukup tipis dengan Anies – Sandi. Memasuki putaran kedua membuat saya lebih was – was lagi. Karena saya berpikir, bagaimana nasib orang yang beragama lain jika seandainya Anies yang duduk di kursi nomer 1. Saya sebenarnya sangat yakin, Anies Baswedan adalah sosok negarawan dan nasionalis sejati, dan akan selalu bersikap adil bagi semua warga dari segala kalangan dan agama. Tapi pilihan saya tetap pada nomer 2, walaupun hati gentar jika yang memimpin bukan koboi pujaan hati.

Sebagai seorang negarawan bapak Anies telah menunjukkan sikapnya sebagai seorang yang taat beragama. Saya pun tidak mau ketinggalan. Sebagai seorang Kristiani, saya yakin, kalaupun bapak Anies yang akan memimpin Jakarta kelak, maka Tuhan yang saya sembah tidak akan pernah meninggalkan kami. Ia Allah yang setia, dan punya kuasa untuk memberi keadilan bagi umatNya. Dan tidak akan pernah membiarkan bangsa ini menjadi bangsa yang menentang dasar negaranya sendiri, yaitu Pancasila yang telah dirumuskan dan disahkakan oleh Soekarno dan para pahlawan lainnya. Mudah – mudahan doa saya tersebut tidak dikabulkan ! Sebab harapan saya tetap nomer 2 yang akan menjadi gubernur DKI Jakarta.

Penulis : Gideon

+ There are no comments

Add yours