Tips Pertama – Membangun Komunikasi yang Sehat

30-Harmonis

IndonesiaOne.org – Pertikaian, kemarahan, dan akhirnya bercerai seringkali terjadi dalam bahtera rumah tangga. Dari orang biasa, sampai kepada kaum selebriti ataupun tokoh ternama bisa mengalami hal tersebut. Walaupun sebenarnya perceraian bukanlah jalan keluar dari suatu permasalahan. Tapi itulah yang fakta yang sering terjadi.

Bagi kita yang sangat menghargai ikatan janji pernikahan dan menyadari bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh bercerai, maka kita haruslah mencari akar permasalahan dari setiap kemarahan atau pertikaian yang ada.

Ternyata ada banyak sekali permasalahan di dalam rumah tangga (bahkan bisa dikatakan lebih dari 80%) disebabkan oleh karena masing – masing pasangan tidak memahami prinsip berkomunikasi yang benar. Sehingga ada saja permasalahan yang sebenarnya hanya masalah kecil, namun menjadi besar dan tidak bisa terkendali.

Berikut ini adalah beberapa prinsip berkomunikasi yang wajib diketahui oleh pasangan suami istri:

  1. Komunikasi adalah seni untuk mendengar lawan berbicara

    Pasangan1

Selama ini kita hanya paham bahwa komunikasi adalah ‘berbicara’. Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar. Karena prinsip sejati komunikasi adalah bagaimana kita mendengarkan lawan berbicara kita dengan penuh perhatian. Karena sebenarnya, apa yang kita ucapkan berasal dari data yang masuk dan kita kelola dalam hati dan pikiran. Jika kita salah memahami, maka yang keluar dari mulut kita pun akan menimbulkan kesalahpahaman lawan bicara. Jadi ada baiknya kita belajar untuk mendengarkan pasangan kita dengan baik saat ia sedang berbicara.

  1. Intonasi bicara menentukan respon / reaksi dari istri atau suami.

Pasangan2

Maksud, makna, dan pemahaman akan menjadi sangat berbeda ketika intonasi juga berbeda. Contoh ; panggilan ‘sayang….’ dengan ‘SAYANG…….!!!!’ adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama dengan kelembutan, yang kedua dengan intonasi yang cukup kuat dan keras. Pastinya kedua hal tersebut akan memunculkan respon dan reaksi. Walaupun kata – katanya sama, tapi intonasi yang berbeda memunculkan makna yang berbeda.

Oleh karena itu, betapa pentingnya kita menjaga kalimat yang kita ucapkan dengan intonasi yang tepat dan emosi yang terkendali. Walaupun pertengkaran sepertinya tidak bisa dielakkan, namun percayalah, intonasi yang tepat dan lembut akan meredakan segala kegeraman.

  1. Pilihlah kata dan kalimat yang sifatnya membangun.

Pasangan3

Kebiasaan kita saat sedang marah biasanya mengucapkan kalimat – kalimat yang bersifat destruktif (menghancurkan, menyakiti, merusak). Kecenderungan itu sering kita lakukan hanya untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Untuk sesaat hati kita merasa puas, tapi hal itu justru tidak pernah memberikan solusi dan justru membuat hubungan suami-istri menjadi renggang.

Jadi, tenanglah dan ingatlah bahwa lawan kita bicara adalah suami atau istri yang sangat kita kasihi. Tenangkan pikiran dan hati. Pilih kata – kata yang bersifat konstruktif (membangun) Dan ucapkanlah dengan intonasi yang tepat maka hasilnya pun akan memberikan ketenangan, kedamaian, solusi.

Contoh kata-kata destruktif : “Kamu kok ga berubah-berubah” , “Aku bilang juga apa nggak nurut sih”

Contoh kata-kata konstruktif : “Kita coba lagi ya sama-sama, kita pasti bisa…”, “Aku selalu mendukungmu..”

  1. Sadarilah, bahwa pasangan kita sesungguhnya tidak punya niat menyakiti hati kita.

Pasangan4

Pernikahan tentunya didasari oleh rasa cinta dan rasa suka satu sama lain. Namun ketika sedang bertengkar , hal itu sepertinya terlupakan begitu saja. Kata – kata dan kalimat yang tajam dan keras membuat kita berpikir bahwa pasangan kita memang berniat menyakiti hati kita.

Konsep pikir inilah yang membuat kita akhirnya tersulut emosi dan tanpa sadar membalas ucapan dengan kalimat yang tidak kalah tajam dan pedas. Pada akhirnya kita malah sibuk saling melontarkan ucapan-ucapan yang menyakiti orang yang sebetulnya sangat kita sayangi dan cintai.

Oleh karena itu, yakinlah bahwa pasanganmu tetap mencintaimu dan tidak berniat menyakitimu. Pemikiran tersebut akan membuat hatimu ‘terpasang anti gores’. Setiap kali terjadi konflik atau pertengkaran,  kita akan dapat mengingat betapa pasangan kita mencintai kita meskipun di detik itu mukanya senewen, marah ataupun cemberut.

Kita dapat dengan mudah meminta maaf dan cepat mengampuni tanpa harus bersitegang dan membuat suasana semakin runyam.