Home / BERANI - BERTEKAD dan NIAT / Lagian Nyokap Gue Kan Nga Pernah Di Rumah, Dia Ke Mall Mulu, Mana Dia Tau Gua Beneran Sakit Apa Kagak

Lagian Nyokap Gue Kan Nga Pernah Di Rumah, Dia Ke Mall Mulu, Mana Dia Tau Gua Beneran Sakit Apa Kagak

IndonesiaOne.org – WAhh …elu nih.. parah banget deh… nyokap lu emang nga tau kalo elo bolos?! Yaa.. nga taulah… gue bilang gue sakit kepala banget. Lagian nyokap gue kan nga pernah di rumah, dia ke mall mulu, mana dia tau gua beneran sakit apa kagak. Yookk terusin main “mobile legend” nya.. lanjutt.. wow ini asyik banget deh.. … lalu mereka asyk bermain games di dlam handphone mereka. Dan sesekali mereka mengatakan kata – kata kasar dan kotor yang mereka dengar dari games yang dimainkan…

Mereka adalah anak usia SMP dan situasi di atas adalah hal yang umum terjadi dimana-mana. Mengapa mereka bisa seperti itu? Mengapa mereka bisa berbohong dan bertingkah laku seprti demikian?
Usia 11 sampai dengan 17 tahun adalah usia mencarian jati diri dalam fase kehidupan seseorang. Menurut Erik Erikson dalam teori perkembangan psychosocial diusia 12-18 tahun adalah fase identitas versus kebingungan peran (identity vs. role confusion). Dimana anak – anak seusia itu mencari identitas pribadi melalui eskplorasi nilai- nalai kehidupan, tujuan hidup dan prinsip-prinsip kepercayaan.

Pada fase ini seseorang berada di periode transisi dari masa kanak-kanak kepada masa dewasa. Sebab itu mereka mulai menunjukkan sikap lebih mandiri dan mulai mencari tujuan masa depan dalam hal pekerjaan, hubungan, keluarga, atau hal2 yang berhubungan dengan kehidupan seorang yang sudah dewasa. Mereka mulai merasa ingin diterima di masyarakat atau komunitas yang lebih luas dari sekedar lingkungan sekolah dan rumah.

Erikson berkata secara psikologis, pemikiran orang remaja sebetulnya dalam kondisi berhenti sejenak diantara pemikiran kanak-kanak dan dewasa, yaitu diantara nilai-nilai moralitas yang dipelajari dimasa kanak – kanak dengan nilai-nilai etika kehidupan yang akan dimengerti saat seorang menjadi dewasa. (Erikson, 1963, p. 245). Karenanya usia ramaja adalah usia yang sangat rentan untuk menerima nilai-nilai apapun yang ditawarkan dari sekitarnya.

Apa yang terjadi pada kedua anak remaja di atas memang hasil dari proses tumbuh kembang mereka seusianya. Secara natural mereka sedang dalam fase mencari identitas pribadi melalui eskplorasi nilai- nilai kehidupan. Mereka mencari penerimaan dari sekeliling mereka. Mereka menjadi hasil dari apa yang mereka alami, lihat, rasakan dan dengar. Sayangnya mereka menemukan kominitas yang tidak membangun nilai-nilai kehidupan yang baik. Seperti yang dikatakan Erikson, karena secara psikologis usia remaja ada di kondisi statis untuk sejenak namun tetap saja setiap nilai yang masuk bukan berarti tidak terekam dalam pemikiran mereka. Mereka sedang mencari dan membandingkan nilai yang pernah mereka terima dan nilai yang sedang mereka terima. Ketika mereka mendapati nilai yang baru dirasakan lebih nikmat dan nyaman untuk mereka adopsi dan aplikasikan , mereka pasti dengan mudah menjadi seperti yang diterima.

Di dalam ilustrasi di atas, kedua remaja tersebut tidak menemukan nilai kehidupan yang baik yang teraplikasi dari lingkungan keluarga mereka. Mereka berasal dari keluarga dimana orang tua terlalu sibuk dengan urusan pribadinya dan melupakan tanggung jawab sebagai orang tua yang seharusnya menanamkan nilai- nilai kehidupan yang benar dan baik. Ditambah pula mereka diberikan akses untuk anak – anak sepuasnya mengeskpolari di area yang berbahaya untuk remaja diusia pubertas. Mereka dengan mudah dan terus menerus dapat mengkonsumsi informasi dan pengetahuan sehingga tanpa mereka sadari hal – hal tersebut mempengaruhi pola pikir, cara bertutur kata serta gaya hidup mereka. Dan seperti yang diceritakan kedua anak – anak remaja tersebut mengucapkan kata – kata yang kotor dan kasar tanpa rasa bersalah atau tertuduh. Ketika kondisi seperti ini secara terus menerus menghujani kehidupan para remaja, saya bisa pastikan mereka akan memiliki jati diri yang kasar, temperamen, dan menutup diri bahkan perusak lalu dikucilkan orang.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menolong anak – anak remaja yang sudah mulai terjangkit “virus” tidak peduli sekitar. Dan disinilah peran pendidikan menjadi sangat penting. Kata pendidika Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Sedangkan jika mengambil pengertian pendidikan berdasarkan apa yang di sampaikan oleh bapak pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara, tentang pengertian pendidikan adalah sebagai berikut : “ Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Jika dirangkum dari kedua definisi tersebut saya bisa memaknai arti pendidikan adalah : menuntun anak-anak keluar dari apa yang mereka miliki dan ketahui untuk melakukannya, sehingga mereka akan menjadi manusia yang berdampak besar untuk masyarakat sekitar mereka.

Anak remaja harus bertemu dengan pendidik yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menuntun anak didik menemukan jati diri mereka dengan cara menggali keterampilan yang mereka punya sehingga dapat menghasilkan hal – hal yang berdampak untuk diri sendiri maupun orang lain. Pendidik harus dapat memberikan nilai-nilai kehidupan yang positif lewat pola pemikiran dan gaya hidup yang dapat dilihat lalu ditiru.

Contohnya jika ada seorang remaja gemar dan terampil untuk membuat sesuatu dari kertas origami, pedidik harus bisa mendorong dia untuk membuat suatu karya yang bagus, lalu membantu dia untuk mungkin menjualnya secara online, bantu dia untuk menjadi seorang entrepreneur yang hebat dalam mengelola keuangan. Ajarkan dia untuk menyimpan uangnya yang nantinya bisa digunakan untuk biaya perguruan tinggi. Ketika akhirnya anak ini bisa menghasilkan karya yang berharga rasa percaya dirinya akan timbul.

Seperti yang dikatakan Erikson bahwa usia remaja ada di fase identity vs. role confusion, jadi para pendidik harus membantu mereka melihat bahwa mereka dapat menghasilkan sesuatu yang berdampak sehingga mereka dapat menilai hidup mereka sebagai seorang yang berarti. Ketika hal ini tercapai, pastilah mereka akan mulai berpikir hal apa lagi yang mereka dapat lakukan agar berguna. Mereka menjadi remaja yang percaya diri, berpikiran positif serta bertingkah laku positif juga.

Ketika mereka merasa berguna, maka keinginan untuk mengikuti hal – hal yang mereka lihat yang hanya akan menghasilkan dampak negaitif akan segera sirna. Mereka menjadi anak anak remaja yang tahu persis nilai-nilai kehidupan yang benar, sehingga mereka dapat menggalinya dan mengeluarkannya dari kehidupan mereka. Dan pada akhirnya mereka bukan menjadi pengikut, namun justru menjadi penggagas dan pencetus atau : “ they are not a follower but a trend setter”.

 

Penulis : Rubi Mirayani

 

 

Check Also

10 Tips Jitu Berhasil Menabung

IndonesiaOne.org – Sejak usia dini kita telah diajarkan bahwa menabung itu adalah sebuah kebiasaan baik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *