LAWE, pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan

1-LAWE - IKRAR 10

Apa yang ada di benak kita saat membicarakan kain tradisional ? Batik.

Batik adalah salah satu jenis pakaian tradisional yang sangat dikenal oleh masyarakat luas, tapi sebetulnya Indonesia memiliki banyak sekali jenis kain tradisional yang tidak kalah keren. Mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua memiliki hasil tenun dan pakaian khasnya masing-masing.

Fitria Werdiningsih adalah manager Unit Bisnis Lawe, sebuah social enterprise yang memiliki visi untuk meningkatkan kualitas tenun tradisional dan fungsional melalui pemberdayaan perempuan.

Lawe lahir di tahun 2014, ketika para founder-nya melihat permasalahan dalam perkembangan industri kain tenun tradisional.

“Problemnya ada di pemasaran itu sendiri. Indonesia sudah sangat kaya dengan tenun tradisional. Tapi kesulitan mereka adalah bagaimana menemukan pasar, karena kain tenun itu cukup mahal,” tutur Fitri.

Kain tenun dibuat dengan tangan dan butuh waktu pengerjaan yang lama, sehingga harga kain tenun cenderung lebih mahal. Untuk menyiasatinya, Lawe mengolah kain tenun menjadi satu bentuk baru seperti dompet, gantungan kuci, tas, bahkan pakaian yang unik.

Dengan membuat produk turunan dari tenun, masyarakat dapat menikmati tenun dengan harga yang lebih terjangkau. Berbasis di Yogyakarta, Lawe pun berusaha mengembangkan kain tenun dari Lombok, Lampung, Pontianak, bahkan hingga ke Nusa Tenggara Timur.

Sejatinya nama Lawe telah berkibar jauh sebelum perhimpunan didirikan. Pada tahun 2004 silam, berangkat dari kegemaran dan kepedulian yang sama akan kain tenun tradisional, Adinindyah bersama keempat rekannya mencetuskan untuk mendirikan Lawe.

“Lawe yang mengelola ibu Adinindyah. Keempat orangnya adalah Ita Natalia, Paramita Iswari, Rita Anita, dan Westiani Agustin. Lawe sudah bertahan 12 tahun dengan tim ada 18 orang,” jelas Fitri

Dalam perjalanannya, Lawe menjunjung konsep membagi keuntungan yang didapat demi kepentingan bersama, antar pemilik dan pengrajin atau anggotanya. Hal ini dijalankan demi melangsungkan pemberdayaan manusia.

“Lawe milik kita bersama. 18 orang yang bekerja di Lawe ini kita anggap owner-nya. Majunya Lawe, itu berarti majunya kita semua,” ucap Fitri.

Produk tenun Lawe pada umumnya dikerjakan oleh perajin perempuan. Untuk itu, Lawe memiliki satu jargon yang menjadi ide besar mereka, yakni ‘Mother Friendly Working Hours’. Dengan ini, setiap pengrajin yang bekerja untuk Lawe tak perlu datang. Mereka tetap bisa di rumah, merawat anak-anaknya, bersosialisasi dengan tetangga, namun tetap menghasilkan.

“Jadi, mereka tetap bisa kerja di rumah. Bahan untuk jahitannya itu kita antar, terus mereka jahit sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kalau sudah jadi, mereka hubungi kami dengan tagihan dan kita bayar langsung,” jelas Fitri.

Fitri menambahkan, bahwa kini ada sekitar 25 penjahit yang bernaung di bawah Lawe. Itu khusus untuk penjahit saja. Sementara di tim penenun, Lawe membaginya jadi 3 kelompok; yakni kelompok tenun syal, stagen dan lurik.

Kesan ‘tua’ memang sepertinya masih menjadi sesuatu yang lekat dari tenun, terlebih kain lurik. “Kalau batik sekarang sudah lebih banyak dipakai orang. Tapi kalau bicara tenun, apalagi lurik, orang hanya ingat kalau itu kain yang biasa dipakai rakyat jelata. Kesannya lusuh gitu,” cerita Fitri.

Kehadiran Lawe dengan desain dan warna-warna cerah adalah usaha untuk memudarkan stigma tersebut. Kolaborasi dengan desainer-desainer muda Yogyakarta lewat ‘Weaving for Life’, sebuah project pengenalan tenun lewat pendekatan fashion masa kini sejak 2009, diharapkan dapat menjadi cara untuk menularkan ‘virus’ cinta tenun pada generasi muda. Selain ingin membuat masyarakat kenal dan cinta pada tenun, Lawe juga berusaha melestarikan profesi penenun yang kini sudah ditinggalkan. Minimnya antusias generasi muda menjalani pekerjaan ini menyebabkan profesi penenun terancam punah.

“Sekarang penenun itu sudah tua-tua. Sepuh-sepuh,” ujar Fitri. Di saat potensi kain tradisional memiliki peluang, di lain sisi pengrajinnya semakin loyo. Karena hal inilah Lawe memiliki program yang teramat penting, yakni meregenerasi pengrajin tenun Indonesia.

Jujur saja, regenerasi di tingkat ini memang terlihat minim. Hal ini pun diakui Fitri, sebagai salah seorang yang menjadi saksi dari pengembangan budaya kain tenun. Sebenarnya jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, potensi ini bisa menjadi mata pencaharian utama bagi para penenun.

“Kami ingin ‘meracuni’ lebih banyak lagi pengrajin perempuan. Perlu regenerasi agar tenun Indonesia terus berlanjut,” imbuhnya.

Di balik itu semua, Lawe memiliki segudang rencana untuk dijalankan. Salah satunya kebutuhan ekspor. “Kita bisa menunjukkan ke dunia kalau kain tradisional Indonesia ini harta kartun yang sangat indah. Kami mau bisa ekspor, tapi hambatannya susah bersaing untuk harga,” jelas Fitri.

LAWE 2

Dari ceritanya, ia pernah pergi ke Vietnam dan Paris untuk menghadiri pameran di tahun 2014. Lurik yang dibawa jauh dari Indonesia masih dipandang sebelah mata. Dalam arti, orang menganggap produk yang ia bawa serupa dengan hasil kain tekstil dari mesin. Dinilai dari stripe-nya yang berulang dan rapi sehingga terlihat generik.

“Kalo nggak ngerasain teksturnya pasti orang nggak akan tau kalo ini tuh tradisional,” tambahnya.

Harapan Lawe untuk mengembangkan kain tenun tradisional Indonesia setidaknya satu langkah mulia yang patut kita acungkan jempol. Usaha kerajinan tangan dengan kearifan lokal melekat pada akhirnya akan menjadi kebanggan kita tersendiri.

Buat kamu yang mau belajar tentang kain tenun tradisional Indonesia, Lawe membuka craft class setiap hari Selasa di Tegal Kenongo RT 3/ RW 8 No 82, DK 4, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. Dan semuanya gratis!