Melarikan Duit Nasabah 1800 Triliun, Diciduk di Indonesia

3077
16-Zhang

Indonesiaone.org – Pelaku kejahatan berkerah putih seringkali melibatkan angka kerugian yang fantastis. Mulai dari korupsi, penipuan, hingga penggelapan uang selalu melibatkan uang dengan jumlah yang sangat banyak.

Salah satu pelaku penipuan yang terkenal paling “brengsek dan gila” adalah Zhang Jian, seorang bos Multilevel Marketing asal Tiongkok. Jika dulu publik Amerika ditipu besar-besaran oleh Bernie Madoff saat krisis ekonomi 2008 dengan skema ponzi nya, kelakuan Zhang ini sama jenisnya dan bahkan lebih parah dari apa yang dilakukan oleh Madoff.

Sehari-harinya Zhang selalu mengesankan dirinya sebagai pengusaha yang sukses, dengan perhiasan emas dan rajin membagi-bagikan kekayaannya pada banyak orang. Tidak heran, ada banyak sekali pengikut setia dan fanatik dari Zhang yang rela melakukan apapun demi menyukseskan mimpi dan slogan Zhang yaitu  “calon orang terkaya sedunia”.

Baca juga : Ciri-ciri Orang Yang Hedonis

Pengikut fanatik Zhang bagaikan kerbau dicocok hidungnya dan melakukan hal-hal gila demi mempromosikan koin emas dari MLM Zhang, yang sebetulnya tidak memiliki nilai sama sekali. Para pengikut wanita di MLM tersebut rela menggunduli rambutnya demi promosi koin emas Zhang. Puluhan pria juga menyemir rambutnya dengan warna emas saat menghadiri acara amal MLM Zhang.

Lihat rekaman acara “aneh bin ajaib” buatan MLM Zhang :

Mengapa orang-orang tersebut seperti kehilangan akalnya dan rela mengikuti Zhang ? Ternyata semua bersumber dari iming-iming kekayaan yang selalu dipromosikan oleh Zhang. Ia berhasil merebut simpati banyak orang dengan membagi-bagikan mobil mewah gratis kepada para peserta yang mengikuti MLM miliknya. Mobil dan semua hadiah tersebut setelah ditelusuri bersumber dari dana US$ 140 miliar (Setara Rp 1800 Triliun) yang ia larikan dari nasabah yang tersebar di empat negara.

Petualangan Zhang dan kehidupan ekstravagannya berakhir setelah berhasil diringkus oleh kepolisian Indonesia pada tanggal 6 Juni 2017 yang lalu.

Ternyata, Zhang bukanlah nama asli si bos MLM. Menurut akta lahirnya, ia bernama Song Miqiu, pria yang diburu oleh kepolisian Cina selama beberapa tahun terakhir karena menipu 200.000 nasabah dan melarikan uang senilai 600 juta Yuan. Penipuan Zhang dilakukan dengan metode yang sama yaitu skema ponzi.

Baca juga : Ciri-ciri Orang Yang Tamak dan Berakhir Menjadi Miskin Karena Uang

Bagi anda yang tidak mengetahui apa itu skema ponzi, skema tersebut adalah sebuah sistem yang menarik sebanyak mungkin investor dengan tujuan “gali tutup lubang”. Berbeda dengan investasi biasa yang memutarkan uang dari nasabah dan membagikan keuntungan dengan nasabah setiap bulannya, skema ponzi memberi keuntungan pada nasabah melalui uang investasi dari nasabah baru.

Skema ponzi tersebut menguntungkan investor awal, karena mereka mendapatkan uang banyak dari nasabah berikutnya (biasanya mereka sebut kaki atau downline), dan setelah terkumpul sejumlah banyak uang biasanya pemilik perusahaan akan lari begitu saja membawa uang investasi dari para nasabah.

Cara kerja Zhang yang sebetulnya tolol” ini menjanjikan keuntungan besar dengan modal yang terbilang kecil. Para nasabah hanya diminta menyetor 300 Ringgit Malaysia (setara Rp 936 ribu) untuk membeli paket koin Yun Shu Mao alias YLSM.

Dengan uang itu, Zhang menjanjikan akan memberikan keuntungan bersih rutin per bulan senilai 6.800 Ringgit (Setara Rp 21 juta). Seharusnya dengan akal sehat saja para nasabah curiga akan investasi yang “too good to be true” ini. Tetapi rupanya ada banyak warga Asia Tenggara yang lebih senang cara cepat untuk jadi kaya dan termakan mentah-mentah dengan umpan “tolol” dari MLM Zhang. Tentu saja, Zhang yang berada di puncak “rantai makanan” skema ponzi tersebut akan menikmati kemakmuran yang sangat berlimpah dibandingkan para downline nya yang baru bergabung belakangan.

Setelah dilacak oleh polisi dari berbagai negara, termasuk dibantu otoritas keamanan Tiongkok, lokasi Zhang akhirnya diketahui yaitu di Indonesia. Setelah diringkus pada tanggal 6 Juni, ia langsung diterbangkan ke Beijing untuk segera diproses oleh pengadilan di sana.