Home / BERANI - BERTEKAD dan NIAT / Membedakan Pengakuan Terpaksa dan Pengakuan Tulus

Membedakan Pengakuan Terpaksa dan Pengakuan Tulus

IndonesiaOne.org – Mengakui suatu kebohongan merupakan tindakan terpuji yang perlu diapresiasi. Tapi ternyata, mengakui kebohongan memiliki “makna dan kualitas” tersendiri.  Ada yang mengaku bohong karena sudah ketahuan, ada juga yang mengakui kebohongannya karena kesadaran dari nurani walaupun kebohongannya belum terbongkar.

Orang yang mengakui karena sudah ketahuan bohongnya hal itu disebabkan karena faktor eksternal dan rancangannya yang gagal. Jika tidak ketahuan dan rancangannya berhasil, maka kebohongannya akan terus berlanjut mencapai tujuan yang diinginkan. Biasanya orang seperti ini sudah sering melakukan kebohongan. Agar orang tersebut jera, maka dibutuhkan “tindakan pendisiplinan/hukum/konsekuensi dari pihak lain yang memang berotoritas melakukan hal itu demi kasus yang sama tidak terulang lagi.

Berbeda dengan orang yang memang mengakui karena nuraninya menegur dirinya sendiri walaupun belum ada yang mengetahui bahwa dirinya berbohong.  Orang yang berciri seperti ini memang tidak terbiasa berbohong. Jadi sebenarnya sulit bagi dirinya untuk berbohong walaupun ada tekanan dari faktor eksternal. Pengakuannya biasanya akan menunjukkan penyesalan teramat sangat dan perubahan yang signifikan. Biasanya hal itu sering disebut sebagai tindakan pertobatan!

Seperti contoh ; misalkan ada orang yang mengaku dirinya mencuri walaupun belum ketahuan. Biasanya orang ini akan mengganti rugi kepada pihak yang dirugikan dan menjadi orang yang suka memberi. Konsekuensi hukum juga siap ia jalani, karena merasa layak mendapatkannya dan sangat yakin bisa melaluinya karena akan keluar sebagai pribadi yang jauh lebih baik.

Lain ceritanya jika orang tersebut mencuri lalu tertangkap tangan, ya sudah pasti ngaku. Kalau ngak ngaku ya kebangetan. Jadi mau tidak mau memang harus mengakui kebohongannya. Tapi belum tentu setelah itu dirinya menyesal dan berubah.

Pilihan keputusan ada pada diri kita sendiri. Ada baiknya kita mengaku segala kebohongan yang selama ini kita simpan sebelum itu terbongkar. Karena perubahan dari kesadaran diri akan jauh lebih berkualitas daripada pengakuan karena tersingkapnya kepalsuan.

So guys, mari kita memiliki kualitas hati yang terbaik! Mengakulah sebelum ketahuan! Berubahlah bukan karena konsekuensi yang buruk, melainkan karena mendengarkan nurani yang terus berbicara! Jadilah generasi bangsa yang bernurani murni demi tercapainya cita – cita yang tinggi!

Check Also

Lampaui Target Emas, Indonesia Cetak Sejarah di Asian Para Games 2018

Indonesia berhasil melewati raihan 16 emas yang dijadikan target Asian Para Games 2018. Total emas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *