Home / BERANI - BERTEKAD dan NIAT / Membunuh Keserakahan

Membunuh Keserakahan

IndonesiaOne.org – Tidak bisa dipungkiri mengapa puluhan tahun sejak kemerdekaan, Indonesia nampak tertinggal jauh di belakang dari negara-negara tetangganya, baik dari sisi ekonomi dan pembangunan. Sebab musababnya tidak lain dikarenakan maraknya praktek korupsi dari pejabat-pejabat yang ingin memperkaya dirinya sendiri. Rakyat susah, rakyat sengsara, rakyat miskin, ora urus, sing penting aku kaya. Pemberantasan korupsi harus menjadi salah satu agenda utama dalam usaha membangun bangsa ini untuk menjadi setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sebuah kekeliruan jika ada yang berpendapat untuk mengurangi tindakan korupsi adalah dengan menaikkan gaji karena nyatanya mereka yang ditangkap karena kasus korupsi adalah mereka yang mendapatkan gaji yang terbilang besar. (https://news.detik.com/berita/4389947/prabowo-sebut-gaji-rendah-picu-korupsi-ini-gaji-pejabat-korup-ri).

Besar kecilnya gaji tidak menentukan apakah seseoang akan korupsi atau tidak. Jika mau dirunut keserakahan adalah akar dari tindakan korupsi. Keserakahan selalu ingin memperoleh lebih untuk dirinya sendiri. Tindakan korupsi bukan hanya milik para pejabat saja. Setiap orang yang memberikan kesempatan untuk benih keserakahan terus bertumbuh di dalam dirinya, satu waktu dia akan mendapati ia akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh atau memiliki sesuatu dengan lebih dengan menghalalkan segala cara sekalipun dengan cara-cara tidak terpuji dan melawan hukum.

Bagaimana caranya menanggulangi mentalitas serakah agar kelak kita tidak terjerat pada perbuatan yang tidak terpuji yang akhirnya menghantarkan kita pada dinginnya jeruji besi? Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membunuh keserakahan:

  1. Membangun kultur gaya hidup secukupnya.

Jepang adalah salah satu negara yang warga negaranya sudah menghidupi gaya hidup secukupnya ini. Bagaimana hidup secukupnya diterapkan di Jepang, berikut adalah aplikasi nyatanya:

  • Masyarakat Jepang hanya memiliki pakaian secukupnya, sesuai yang dibutuhkan. Cukup untuk bekerja dan aktivitas sehari-hari. Selain menghemat uang, mereka juga menghemat waktu untuk memilih baju yang akan dikenakan.
  • Tidak memiliki banyak perabotan. Langkah ini dinilai hemat karena tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli perabotan dan juga efisiensi waktu karena akan menghemat banyak waktu untuk bersih-bersih. Selain itu juga keluarga dapat dengan leluasa berinteraksi di ruang yang luas.
  • Hanya memiliki barang yang dibutuhkan. Penganut budaya minimalis di Jepang hanya memastikan apa yang ada dalam rumah mereka adalah apa yang benar-benar mereka butuhkan. Langkah sederhana ini akan menghemat biaya yang akan dikeluarkan begitu juga dengan efisiensi waktu yang dapat dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya.

Jika kita terus memastikan, gaya hidup secukupnya terus terbangun dalam hidup kita, maka keserakahan otomatis tidak ada dalam hidup kita. Jika kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, mengambil apa yang bukan menjadi milik kita tidak akan pernah terlintas dalam benak kita. Cukupkanlah dirimu dari apa yang ada padamu.

  1. Miliki konsep pikir : Lebih baik memberi daripada menerima.

Jika ditanya: Saudara lebih suka memberi atau menerima? Kebanyakan orang akan menjawab memberi. Tapi aplikasinya, lebih banyak orang lebih senang menerima daripada memberi. Banyak orang begitu agresif dalam menerima, tapi menjadi pasif dalam memberi. Mereka suka menerima, tapi enggan untuk memberi. Tanpa disadari benih keserakahan mulai menancapkan akar-akarnya dan terus bertumbuh dalam hidupnya.

Makanya tidak heran ada beberapa pejabat yang sebelum terpilih mengobral janji akan memberi ini dan itu kepada rakyat tapi begitu terpilih malah sibuk mencari apa yang bisa aku terima (baca: peroleh) selama aku menjabat.

Jika ingin membunuh sikap serakah, tidak bisa tidak kita harus mengganti pola pikir yang selama ini berkata lebih baik menerima daripada memberi. Memberi adalah penangkal jitu untuk bertumbuhnya benih keserakahan dalam hidup kita.

Jika datang saatnya untuk memberi, berilah. Karena di situlah proses pembersihan sedang terjadi.

Ask not what your country can do for you, but what you can do for your country – Jangan tanyakan apa yang negaramu berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu.” (John F. Kennedy)

 

 

 

 

 

 

Check Also

Ini dia 3 Manfaat Membaca yang Dapat Mengubahkan Hidupmu

Sobat Indonesiaone, apakah menurutmu membaca itu penting ? Setelah akhir-akhir ini melekat julukan “generasi micin” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *