Meninggal Tahun 1994, Namun Jantungnya Baru Berhenti Berdetak di tahun 2017

3379
9-Nicholas

Indonesiaone.org – Nicholas Green adalah seorang anak berumur 7 tahun yang tewas pada tanggal 29 September 1994 ketika sedang berlibur bersama keluarganya di Italia Selatan.

Nicholas mengalami kematian yang cukup tragis, ia tertembak oleh kawanan perampok yang salah mengira bahwa mobil yang ditumpangi Nicholas adalah mobil yang membawa perhiasan.

Reginald Green (Reg) masih dapat mengingat dengan jelas tragedi tersebut. Malam itu, ia sedang menyetir ketika ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan mobil di belakangnya yang mengikuti mobil mereka cukup lama. Tidak lama kemudian mobil itu menyusul mobil yang dikemudikan Reg dan terdengar seseorang berteriak dalam bahasa Italia menyuruhnya berhenti.

Reg yang tahu bahwa mereka tidak akan mendapat ampun jika berhenti, justru mempercepat laju mobilnya. Terjadi susul menyusul antara mobil Reg dan para perampok. Kemudian terdengar suara tembakan yang diarahkan ke mobil mereka.

Nicholas dan adiknya, Eleanor sedang tertidur pulas di bangku belakang. Ibu Nicholas, Margaret Green (Maggie) melihat ke kursi belakang dan melihat bahwa Nicholas terkena tembakan di bagian kepala. Sedangkan Eleanor luput dari tembakan dan masih tertidur pulas.

Para perampok menyerah dan berhenti mengejar mobil keluarga Reg setelah melepaskan dua kali tembakan. Nicholas langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat, namun nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Nicholas meninggal satu jam kemudian.

“Aku melihat lidah Nicholas yang terjulur dengan sedikit bekas muntah di sekeliling mulutnya. Momen itu adalah saat-saat paling menyedihkan dalam hidupku” kata Reg.

Reg dan Maggie merasa sangat kehilangan dan merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Namun, Reg dan Maggie tidak mau jasad anaknya terkubur begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu untuk kehidupan yang baru.

“Menjadi depresi, menyalahkan diri sendiri serta situasi dan larut dalam kesedihan adalah pilihan, namun kami memilih untuk meresponinya dengan benar”

“Kalau dihadapkan pada dua pilihan, marah atau mengulurkan bantuan ke orang lain, Nicholas pasti akan memilih yang kedua.”

Mereka pun memutuskan untuk menyumbangkan organ-organ penting Nicholas kepada orang yang membutuhkan. Jantung, dua kornea, dua ginjal, hati, dan pankreas milik Nicholas semuanya didonasikan ke 6 keluarga yang berbeda.

Donors

Berdiri (Kiri ke Kanan) : Reg Green, Maggie Green, Andrea Mongiardo (Penerima Jantung), Francesco Mondello (Penerima Kornea), Tino Motta (Penerima Ginjal), Anna Maria Di Ceglie (Penerima Ginjal), Elleanor Green (Adik Nicholas)

Duduk  : Laura Green (bayi), Maria Pia Pedala (Penerima Hati), Domenica Galleta (Penerima Kornea), Silvia Ciampi (Penerima Pankreas), Martin Green (bayi).

Andrea Mongiardo yang menerima jantung Nicholas, meninggal pada tahun 2017 ini. Artinya, jantung Nicholas baru berhenti berdetak setelah 23 tahun setelah kematian Nicholas.

Dari sinilah kisah legendaris mengenai “Nicholas Effect” bermula.

Kisah Nicholas ini menginspirasi banyak orang di Italia untuk menyumbangkan organ. Italia adalah salah satu negara dengan donasi organ terendah di Eropa. Namun akibat “Nicholas Effect”, jumlahnya naik tiga kali lipat hanya dalam kurun waktu satu dekade.

Kedua orangtua Nicholas diundang oleh presiden Italia Oscar Luigi Scalfaro, untuk menerima gelar kehormatan tertinggi bagi warga Italia yaitu  “Medaglia d’Oro al Merito Civile”. Selain itu, nama Nicholas juga banyak dipakai oleh berbagai Sekolah Dasar di seluruh Italia.

Nama Nicholas juga dibadikan dalam berbagai nama jalan, taman, dan monumen lainnya :

  • 50 nama Jalan
  • 27 Taman
  • 16 Monumen, jembatan, dan amfiteater

Keputusan terbaik

Reg Green dan istrinya, Maggie, yakin betul bahwa menyumbangkan organ-organ penting Nicholas adalah keputusan terbaik dan almarhum anaknya pun pasti mendukung keputusan tersebut.

Ada tujuh warga Italia yang menerima organ Nicholas dan enam di antarnya pernah dipertemukan dengan Reg Green, yang ia gambarkan sebagai pertemuan yang sangat mengharukan. Satu orang lagi tak bisa datang karena ketika itu tengah menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ketika pintu dibuka dan melihat keenam orang yang masuk ke ruangan, rasanya luar biasa, tak bisa digambarkan. Mereka tersenyum lebar, beberapa menangis karena begitu gembira dan juga berterima kasih,” kata Green.

“Hampir semuanya pernah berada pada titik di mana mereka tak punya harapan lagi untuk hidup… di situlah saya merasa betapa sangat berharganya sumbangan dari Nicholas.”

Di dalam hidup manusia, setiap kejadian sebaik atau seburuk apapun akan selalu menghadapkan manusia kepada pilihan, apakah akan bersikap reaktif  (bereaksi dengan negatif, kecewa, menyerah, menyalahkan orang lain) atau bersikap proaktif (meresponi dan menyingkapi dengan positif, mandiri, bertanggung jawab, inisiatif)

Pilihan yang tepat akan selalu membawa hal-hal yang positif dan membangun tidak hanya untuk kehidupan manusia itu sendiri, tapi juga dapat bermanfaat bagi kehidupan banyak orang lain di sekitarnya.