Patah Satu Tumbuh Seribu

11-Ahok

Indonesiaone.org – Kenapa kebaikan selalu kalah ?

Mengapa orang benar selalu ditindas dan dicurangi ?

Mengapa peradaban manusia justru semakin merosot ?

Itulah beberapa pertanyaan yang melintas di benak saya saat melihat rentetan kejadian yang terjadi  baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Zaman semakin modern, namun sepertinya menjadi semakin langka melihat keadilan ditegakkan, kebenaran dijunjung tinggi. Justru yang kita lihat korupsi merajalela, degradasi moral masyarakat, kriminalitas yang meningkat tajam, kasus perselingkuhan dan perceraian dimana-mana.

Harapan yang baru mulai muncul saat melihat beberapa orang benar naik menjabat pada posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Jalan mereka lurus dan tidak neko-neko.

Reformasi birokrasi, pemeliharaan fasilitas kota, penutupan tempat-tempat prostitusi, pembangunan taman, jembatan dan jalan adalah beberapa contoh dari sekian banyak manfaat yang dirasakan masyarakat.

Namun harapan yang baru saja mulai menyala dan bergelora , seakan dipaksa untuk kembali padam melihat ketidakadilan yang terjadi di Negeri ini. Hukum dibulak balik, kebencian dan intoleransi masih menjadi senjata utama yang ampuh di negeri ini. Bahkan, melihat seorang pejuang keadilan yang selama ini berdiri di garis depan, akhirnya tumbang juga.

Melihat sosoknya, saya seakan melihat seorang “Rambo” yang berjuang sendirian menghadapi para “Bandit berdasi” yang terus berusaha menyelewengkan anggaran pemerintah guna kesejahteraan rakyat untuk keserakahan pribadi.

Hingga sejauh ini,  kita hanya bisa menonton ‘kehebatan sang Rambo’ karena sama sekali tidak mempersiapkan barisan untuk bisa secara langsung ikut mensupport ‘sang Rambo yang sedang berlaga’. Kita juga melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana musuh melakukan konsolidasi, merapatkan barisan, dan bersatu padu melancarkan serangan balik terhadap sang Rambo tanpa kita bisa berbuat apapun.

Jumlah orang benar terlalu sedikit. 

Secara perlahan tapi pasti, sang Rambo mulai kehilangan pijakannya. Bukan karena sang Rambo kurang hebat tapi karena ia hanya sendirian dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia kewalahan menghadapi kepungan dan gempuran para lawan yang ironisnya justru bersatu padu menjatuhkannya.

Sebenarnya, dari peristiwa tumbangnya sang Rambo, ada 3 point penting yang dapat disingkapi :

1. Wake up call

Inilah saatnya orang-orang benar mulai bersuara dan bertindak.

Setiap elemen masyarakat, memiliki kontribusi sesederhana apapun dalam membangun negeri ini. Seorang guru, dapat mulai mendidik dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kebenaran pada murid-muridnya, agar suatu saat kelak mereka dapat tumbuh menjadi para pemimpin negeri yang jujur, tulus, dan kompeten.

Para orangtua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Para musisi dapat menelurkan karya-karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Para pengusaha dapat melakukan berbagai inovasi untuk ikut mensejahterakan ekonomi masyarakat.

Intinya adalah, mari berkontribusi bagi negeri ini sekecil apapun itu. Negeri ini membutuhkan lebih banyak lagi munculnya orang-orang benar yang jujur, tulus dan mau bekerja.

2. Patah satu tumbuh seribu

Sebuah biji haruslah jatuh ke tanah dan mati terlebih dahulu, sebelum tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan banyak buah.

Biarlah lewat beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, kita tidak menjadi apatis dan menyalahkan keadaan yang ada, namun justru tersulut dan terinspirasi untuk ikut bangkit menjadi orang benar yang mengubahkan negeri. Mari kita pastikan setiap perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.

3. Happy Ending

Saya percaya dalam segala sesuatu seburuk apapun itu, selalu ada di dalam kedaulatan Tuhan sang Pencipta, dan Ia adalah sutradara yang handal.

Jika situasi dan keadaan yang ada belum happy, artinya belum ending. Kalau belum ending, artinya Tuhan masih terus bekerja…

Perjuangan belum selesai !

Jangan kehilangan pengharapan…,teruslah mengarahkan pandangan kita ke depan; rapatkan barisan, satukan langkah kita untuk memastikan terjadinya semboyan: Patah satu, tumbuh seribu…!