Pilih Pemimpin Yang Rendah Hati


IndonesiaOne.org – Menjadi gubernur DKI Jakarta sebenarnya tidaklah sulit dan tidak perlu saling menjegal satu sama lain demi meraih posisi sebagai pelayan masyarakat. Apalagi sampai menyerang dan terkesan ambisius tanpa langkah kerja yang konkrit. Alhasil hanya menuai tawa dari masyarakat dan gurauan meme yang semakin brutal. Jika saya jadi paslon nomer 1, maka saya akan dengan rendah hati mengakui program kerja petahana dan kerja nyata yang dihasilkan. Hanya tinggal melanjutkan, mempertahankan, dan mengembakan untuk semakin baik lagi. Jika ingin menunjukkan faktor pembeda, maka latar belakang TNI rasanya menjadi faktor menarik. Sebagai seorang mantan TNI, tentunya cagub nomor 1 mempunyai komitmen kerja yang tidak kalah hebat dari paslon lainnya. Dan jiwa nasionalisme yang lebih melekat dari yang lain. Jadi, tonjolkan saja program – program kerja lanjutan tanpa perlu merombak, dan ngak perlu pakai ‘bahasa vikinisasi’ yang buat rakyat di pinggir kali jadi tambah bingung.

Jika saya jadi paslon nomor 3, maka saya pun akan melakukan hal yang sama. Tidak perlu merombak program dengan cara membangun image bahwa dirinya adalah pemimpin yang menyatukan, sedangkan pasangan nomor 2 adalah pemimpin yang mencerai beraikan. Tunjukkan saja komitmen untuk melanjutkan setiap pekerjaan yang belum terselesaikan. Dan tunjukkan faktor pembeda yang pernah membangun komunitas Indonesia mengajar yang sangat bermanfaat bagi bangsa. Dan juga pengalaman kerja saat menjadi Mendikbud. Itu adalah pengalaman berharga yang harus ditonjolkan sebagai kebanggaan yang layak dipertimbangkan. Selebihnya, ijinkan masyarakat yang menilai seturut dengan ‘selera’ masing – masing.

Saya yakin, bukan mustahil jika paslon 1 dan 3 akan menjadi pilihan mayoritas masyarakat Jakarta. Jika masyarakat butuh pemimpin yang lebih santun dalam berbicara, tentunya sangat tepat jika memilih Agus atau Anies. Jika mayoritas lebih senang memilih pemimpin yang beragama Muslim, maka paslon 1 dan 3 adalah pilihan yang akurat.

Tapi terlambat sudah, gengsi sudah membuat semua paslon saling menjatuhkan satu sama lain dan tidak mau mengakui kelebihan masing – masing pasangan. Padahal, jika kita ingin membangun pendidikan moral dan pekerti yang kuat pada masyarakat Jakarta, maka sebagai para cagub dan wagub haruslah memberikan contoh yang benar. Jika memuji keberhasilan dan kelebihan orang lain saja sulit, bagaimana ingin mengajarkan kerendahan hati pada masyarakat. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Jakarta butuh pemimpin yang siap kerja dan menjadi teladan yang benar !!

+ There are no comments

Add yours