Connect with us

Kita Indonesia

Suku Sunda yang Unik dan Mempesona

“Kumaha damang ?” “Ini teh susu, ieu mah kopi atuh” itulah celetukan-celetukan khas orang Sunda yang ramah dan jenaka yang sudah sering kita dengar. Selain celetukan Sunda yang khas, masyarakat Sunda juga terkenal dengan budayanya yang masih terus diturunkan sampai ke muda mudi mereka, inilah beberapa di antaranya :

1. Botram

Makan bersama atau Botram sering dilakukan oleh orang Sunda, yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus bersenang-senang dan menjaga rasa kekeluargaan.

Acara botram biasanya dilaksanakan dalam rangka acara syukuran, selametan,menyambut bulan puasa atau bahkan hanya sekedar rekreasi dan berkumpul bersama keluarga atau teman.

Konsep botram atau makan bersama dalam suku Sunda punya beberapa ciri khasnya, yaitu “Ngariung” atau kumpul kumpul, dan biasanya dilakukan dengan posisi lesehan di tempat yang asri dan nyaman untuk lesehan.

Pada awalnya, botram tidak mengenal istilah tuan rumah, jadi tiap orang dipersilahkan membawa makanan sendiri-sendiri untuk kemudian semuanya bisa bertukar makanan dan mencicipi makanan satu sama lain. Menunya pun bebas, boleh bawa tempe goreng, ikan bakar, semur jengkol, dan lain-lain. Tapi biasanya menu favorit yang tidak pernah terlewatkan saat botram adalah nasi liwet dengan alas daun pisang yang membuat acara makan ini semakin nikmat dan kompak.

Intinya, kegiatan ini bertujuan untuk kebersamaan dan saling berbagi. Di acara inilah semua anggota bisa berbagi cerita, berbagi lelucon dan bersuka cita bersama.

2. Keramasan

Keramasan adalah tradisi orang Sunda yang sering dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Berasala dari kata keramas, yaitu mandi disertai dengan membasuh kepala secara sempurna.

Hal ini adalah simbol pembersihan dan penyucian diri lahir dan batin sebagai bagian dalam penyambutan bulan suci Ramadhan. Setiap anggota keluarga melakukan mandi besar atau kemarasan dan kemudian saling meminta maaf dari segala salah dan dosa.

Tidak hanya di lingkungan keluarga, tradisi keramasan juga dilakukan di lingkungan masyarakat sekitar, dilanjutkan dengan saling meminta maaf antar warga sekitar.

3. Nukilan

Nukilan atau kutipan dalam masyarakat Sunda biasanya berupa petuah hidup, dalam bentuk anjuran dan larangan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai kehidupan yang dikemas dalam bentuk kutipan inilah yang selalu dibawa oleh orang Sunda kemanapun mereka pergi.

Contoh nukilan anjuran adalah : Indung suku ge moal dibejaan : yang artinya bahkan ibu jari pun tidak akan diberi tahu. Memiliki filosofi komitmen dan integritas dalam menjaga rahasia yang diamanahkan oleh orang lain.

Contoh lain nukilan larangan : “Ulah nyieun pucuk ti girang” yang artinya jangan membuat pucuk di hulu. Memiliki pesan untuk setiap orang hidup damai, dan tidak mencari-cari masalah dan keributan.

Kutipan-kutipan hikmat inilah yang sering diwariskan orangtua kepada muda-mudi suku Sunda, yang terus dipegang teguh meskipun sudah merantau di luar tanah Sunda.

Itulah 3 budaya Sunda yang unik dan menarik, serta banyak sisi positif yang dapat kita tarik menjadi pembelajaran bagi hidup kita. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kita Indonesia

Betawi ga seperti yang ada di Televisi

Orang betawi itu urakan, ngomong nyablak, pemarah dan pemalas. Itulah citra negatif orang betawi yang sering kita lihat di layar televisi. Hal itu diakui oleh  Rizky Wahyuni,Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) DKI Jakarta bahwa ada banyak “stereotip negatif” yang ditampilkan di televisi terutama Sinetron dan FTV.

David Nurbianto, seorang standup Comedian Betawi mengatakan dalam sebuah seminar, hal itu disebabkan karena citra Betawi di televisi seringkali tidaklah utuh dan bukan representatif dari masyarakat Betawi yang sebenarnya. Tokoh Betawi terutama dalam FTV seringkali hanyalah peran tambahan sebagai tokoh konyol dan jenaka, dan berfungsi sebagai lucu-lucuan saja.

Orang Betawi urakan dan nyablak kalau ngomong, Hal itu jelas salah, karena sebetulnya orang Betawi itu justru sangat memegang Etika, kalo istilah Betawinya : “Punya Adab”. Mereka selalu hormat kepada Engkong, Babe, Enyak, dan orang yang lebih tua, apalagi dalam bertutur kata.

Tapi kalau ngomong dengan yang sepantaran, Orang Betawi memang terkenal nyablak dan apa adanya, kalo orang Betawi bilang : “Seenak perut lu”. Tapi itulah cara unik orang Betawi untuk bisa akrab dengan teman atau tetangga. Bertukar humor atau pantun untuk mencairkan suasana. Belum lagi kesenian teater komedi Betawi yang seringkita kenal dengan istilah Lenong Betawi, yang membuat identitas “jenaka” menjadi sangat melekat pada masyarakat Betawi.

Kita juga bisa belajar keikhlasan dari orang Betawi, yang seringkali menghadapi kedukaan bukan dengan meratap, tapi justru mengikhlaskan dan masih bisa tetap bercanda saling menghibur hati di tengah suasana duka.

Selain jenaka, orang Betawi juga sangat berjiwa sosial. Setiap kali lewat di depan rumah tetangga orang Betawi, pasti kerapkali diajak “ngupi dulu” sambil bercengkrama. Toleransi yang dimiliki oleh masyarakat Betawi, terlihat jelas dari budaya Betawi yang merupakan perkawinan dari berbagai jenis budaya. Lihat saja pakaian pernikahan betawi yang dipengaruhi banyak oleh Budaya Tionghoa maupun Arab, begitu juga dengan alat musik Tanjidor yang akarnya dari budaya Portugis. 

Jiwa sosial dan rasa kekeluargaan dalam masyarakat Betawi, terlihat jelas dalam bentuk dan desain rumah Betawi, yaitu rumah Kebaya. Rumah ini punya 2 konsep ciri khas yang paling mencolok, yaitu hanya 1 lantai saja dan selalu ada teras yang luas di depan rumahnya. Rumah yang hanya 1 lantai membuat seluruh anggota keluarga membaur satu sama lainnya, dan teras yang luas selalu digunakan untuk tempat menyambut tamu, atau tempat nongkrong dan bercengkrama keluarga. Kebersamaan keluarga di teras itulah yang membuat ikatan kekeluargaan di masyarakat Betawi sangatlah kuat.

Dan yang terakhir, citra Pemalas dari orang Betawi hanyalah anggapan salah yang disimpulkan hanya melihat kelakuan sebagian besar oknum yang mengatasnamakan masyarakat Betawi. Almarhum Benyamin Sueb, seorang aktor legendaris dari Betawi pernah mengatakan :

Emang kalo rejeki kagak kemane. Tapi kalo lu kagak kemane-mane, mane mau dapet rejeki. Muke gile!

Itulah dia keunikan suku Betawi yang jenaka dan selalu bisa mencairkan suasana. Semoga informasi ini bermanfaat. Salam Cinta Indonesia..

Continue Reading

Kita Indonesia

Suku Kanibal terakhir di Indonesia

Halo sobat Indonesiaone, perkenalkan inilah suku Korowai, salah satu suku Primitif di Indonesia yang paling terisolasi dan hampir tak tersentuh oleh peradaban manusia. Mereka adalah salah satu suku dari beberapa suku kanibal yang tersisa di peradaban modern ini. Suku ini tinggal di wilayah Kaibar, sebelah Selatan pulau Papua.

Tapi, berbeda dengan suku kanibal di tempat-tempat lain yang umumnya sangat agresif dan menolak sama sekali kontak dengan dunia luar, suku Korowai adalah suku yang sangat ramah dan berhati lembut. Adat kanibalisme di dalam suku Korowai pun berbeda dengan konsep kanibalisme yang biasa kita kenal lewat film-film. Tidak sembarang manusia dibunuh lalu disantap begitu saja, tapi hanya orang-orang yang dianggap menyimpang dari aturan dan kepercayaan mereka, yang mereka sebut sebagai Khakhua yang artinya Penyihir atau dukun.

Sejak pertama kali ditemukan 40 tahun yang lalu di tahun 1978 oleh Misionaris dari Belanda, Johanes Veldhuizen, Suku Korowai yang pada mulanya mempercayai kepercayaan DInamisme (menyembah roh leluhur), mulai dibaptis dan menerima ajaran Injil Kristiani. Sejak saat itu pula suku Korowai meninggalkan tradisi kanibalisme yang selama ini mereka pegang. Hampir setiap orang yang pernah berkunjung ke perkampungan suku Korowai mengatakan, bahwa suku korowai sangatlah ramah, ketulusan terpancar dari sorot mata mereka.

Suku ini sangat teguh dalam menjaga nilai-nilai dari nenek moyangnya, termasuk dalam cara bermasyarakat. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai kesetaraan dalam hubungan sesama manusia, itulah juga mengapa mereka tidak mengenal strata sosial seperti Pemimpin suku ataupun panglima perang seperti suku-suku yang lainnya.

Mereka juga memiliki konsep rumah tinggal yang sangat unik, yaitu membangun rumah di puncak pohon, untuk menghindari pemangsa dan binatang buas. Suku Korowai merupakan satu-satunya suku di dunia yang memiliki rumah pohon yang tingginya mencapai 50 meter dari permukaan tanah. Mereka membuat rumah tersebut dari bahan-bahan alami seperti dahan dan ranting pohon, temboknya pun terbuat dari ranting dan dedaunan yang kemudian diikat dengan tali yang terbuat dari rotan. Rumah ini memang terlihat primitif, tapi sebetulnya sangatlah jenius. Bayangkan, hanya dengan bahan alami, rumah ini sanggup bertahan hingga 3 tahun, dan juga anti gempa.

Suku Korowai adalah definisi manusia yang benar-benar hidup dari alam, tanpa mengenal adanya alat tukar ekonomi (uang). Mereka berburu di hutan menggunakan kapak dan tombak primitif yang terbuat dari batu. Selain itu mereka juga menangkap ikan di sungai, serta berkebun menanam berbagai sayuran dan buah-buahan. 

Itulah dia Suku Korowai, salah satu harta budaya yang tersimpan di ujung Timur Indonesia.

Continue Reading

Kita Indonesia

Suku yang paling ditakuti oleh Penjajah Belanda

Sobat Indonesiaone, taukah kamu bahwa ternyata ada sejumlah suku di Indonesia yang sangat ditakuti oleh Belanda saat dahulu hendak menjajah negeri kita. Salah satunya adalah suku Dayak yang mendiami pedalaman Kalimantan. Bahkan sangking takutnya, Kompeni belanda sering menjuluki suku yang satu ini “Pasukan Hantu”, lantaran keterampilan seni perang dari Suku Dayak yang sangat menakutkan. Mereka mampu berkamuflase dengan sempurna di hutan, dan ahli dalam beladiri jarak dekat dengan senjata ikonik mereka yakni Mandau.

Tidak hanya itu, Suku Dayak juga memiliki kemampuan bertarung jarak jauh yang mengerikan menggunakan sumpit beracun, yang membuat Belanda kewalahan dalam menaklukkan daerah Kalimantan.

Tapi di luar dari kemampuan seni perang dari suku Dayak, ternyata masih ada banyak fakta dan hal yang menarik lainnya, yang kadang tidak kita tahu sebagai saudara sesama bangsa Indonesia.

Salah satunya adalah kreativitas tanpa batas dari suku Dayak.

Jika kita melihat secara sekilas saja, kita pasti terkagum-kagum dengan keindahan pakaian adat dari suku Dayak, yang mencerminkan keanggunan, kegagahan dan jati diri dari suku Dayak.

Dari situ juga terlihat bagaimana masyarakat suku Dayak sangat kreatif dalam berkreasi. Bahkan masyarakat dayak memiliki banyak kearifan lokal dalam mengolah sumber daya alamnya, salah satunya adalah kerajinan dari getah pohon nyatu.

Getah pohon tersebut mereka rebus berkali-kali sampe jadi lunak dan bisa dibentuk jadi kerajinan tangan yang sangat unik dan detail

Selain kreatifitasnya, masyarakat dayak juga dikenal dengan filosofinya yang cinta damai.

Berbanding terbalik dengan reputasinya sebagai suku yang mahir dalam berperang, pada dasarnya suku dayak adalah suku yang mencintai perdamaian. Hal itu tergambar jelas dari salam khas masyarakat Dayak yaitu : Adil Ka’talino Bacuramin Ka’Saruga Basengad Ka’Jubata yang memiliki arti adil ke sesama, bercermin ke surga, bernafas kepada Tuhan.

Selain kreatif, masyarakat Dayak juga dikenal sebagai orang yang cinta damai. Biarpun mereka punya reputasi jago berperang, tapi sebetulnya suku Dayak itu cinta damai. Di Kalimantan sana, kamu akan sering mendengar salam suku Dayak yaitu : Adil Ka’talino Bacuramin Ka’Saruga Basengad Ka’Jubata yang punya arti yang dalem banget : adil ke sesama, bercermin ke surga, bernafas kepada Tuhan.

Filosofi ini yang jadi pegangan suku Dayak dalam bermasyarakat, mereka akan selalu adil pada sesama manusia, ga pernah beda-bedain orang. Mereka juga selalu punya prinsip untuk bercermin kepada surga, yang punya prinsip untuk terus menjaga perilaku di dunia ini, karena hidup di dunia hanya sementara. Dan terakhir, bernafas kepada Tuhan artinya dalam setiap nafasnya mereka mengingat dan bersyukur pada Tuhan sang pemberi nafas manusia.

Karena filosofi itulah orang suku Dayak begitu menghormati alam yang diberikan oleh Tuhan, bahkan mereka punya aturan sendiri bagi orang Dayak setempat yang mau nebang pohon, dibatasin jumlahnya, dan juga ga boleh untuk dijual seenaknya. Intinya, mereka sangat peduli dan memelihara alam sekitarnya.

Nah sobat IO, itu dia beberapa keunikan suku Dayak yang pastinya banyak banget yang bisa diambil jadi pelajaran kehidupan buat kita. Semoga informasi ini bisa bermanfaat ya.

Continue Reading

Trending!!