Terjebak Dalam Ruang Pendingin

15-Terjebak Dalam

Seorang buruh pekerja pabrik menceritakan pengalamannya “di ujung tanduk” kematian saat terkunci di ruangan pendingin.

Pekerja

Saya adalah seorang pekerja di sebuah pabrik “Frozen Food” yang memiliki beberapa ruang pendingin untuk tempat penyimpanan produk.

Suatu hari, saya bekerja seorang diri mengecek stok bahan makanan di dalam ruang pendingin. Karena hanya ingin mengecek sebentar, saya hanya menahan pintu ruangan dengan tumpukan makanan yang ada di dekat pintu. Namun ternyata tumpukan makanan tersebut terlalu ringan dan tidak dapat menahan pintu tersebut. Alhasil pintu pun tertutup dan saya pun terkunci di dalamnya.

 Seketika itu juga saya langsung panik dan merogoh kantong untuk mencari handphone saya, tapi ternyata handphone saya tinggal di meja kerja saya. Saya pun mulai berusaha memukul pintu keras-keras dan berharap ada seseorang yang lewat dan mendengarnya. Tapi sepertinya usaha saya sia-sia karena pintu pendingin sangatlah tebal dan kemungkinan para pekerja yang lain sudah pulang karena saat ini memang sudah lewat dari jam kerja dan sangat jarang sekali ada yang masuk dan mengecek ke dalam pabrik, apalagi ke ruangan pendingin.

Saya mulai kedinginan dan meringkuk di dekat pintu, mulai pasrah dan hanya berdoa semoga terjadi keajaiban dan datang pertolongan sebelum saya mati membeku disini. Setelah kira-kira empat puluh lima menit meringkuk kedinginan, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan secara samar-samar saya mendengar beberapa orang yang langsung bergegas menolong saya dan membawa saya ke rumah sakit.

Beberapa hari setelahnya, saya baru mengetahui bahwa yang menolong saya ternyata adalah satpam Pabrik yang bekerja di shift siang. Saya pun penasaran, kenapa Bapak satpam yang baik hati ini bisa tahu bahwa saya terkunci di ruangan pendingin.

Saat saya bertemu dengannya, saya pun bertanya kepada dia : “Pak, kenapa anda bisa mengingat saya diantara ratusan pekerja di pabrik ini ? Lagipula bukannya bapak juga sudah ada di rumah ?”

Bapak itu tersenyum dan menjawab : “Betul Pak, saya memang sudah sampai di rumah. Saat saya sedang istirahat tiba-tiba saya teringat kepada Bapak, dan saya agak gelisah kenapa sore harinya tidak melihat Bapak, padahal Bapak menyapa saya saatt pagi hari.

Dari ratusan pekerja di tempat ini, setiap hari bapak selalu menyapa kami para satpam yang bertugas. Bapak mengingat nama kami dan selalu tersenyum dan tidak jarang memberi kami semangat saat kami harus jaga malam.”

Saya pun tertegun akan jawaban si Bapak Satpam. Alasan yang begitu sederhana namun penuh makna. Dari kisah ini saya semakin belajar, bahwa kebaikan sekecil apapun yang kita berikan sebagai manusia kepada sesama tidak akan pernah sia-sia.

Setiap kebaikan yang kita lakukan akan membangun “jembatan penghubung” yang mempersatukan kita dengan sesama manusia yang lain. Namun kebencian, rasa iri hati, prasangka buruk hanyalah membangun tembok pembatas antara kita dengan sesama manusia.