Ternyata Asal Usul Lomba Makan Kerupuk dan Panjat Pinang Sangat Mengharukan

116
asal muasal makan kerupuk dan panjat pinang

IndonesiaOne.org – Siapa sih yang ngak tau lomba makan kerupuk dan panjat pinang? Dua perlombaan ini telah menjadi ciri khas pada saat Indonesia memperingati hari kemerdekaannya.

Pernah gak sih kita kepikir asal muasal dari perlombaan tersebut?

Sejarawan dan budayawan JJ Rizal, mengatakan, tradisi perlombaan mengisi hari kemerdekaan Indonesia sebenarnya baru dimulai pada tahun 1950-an dari inisiatif masyarakat. Berbagai permainan itu asalnya bukan perintah negara, namun inisiatif masyarakat.

Kenapa harus krupuk?

Ternyata krupuk adalah salah satu menu makanan bangsa Indonesia ketika masa penjajahan. Nasi dan kerupuk menjadi paduan menu keseharian masyarakat yang tidak mampu membeli bahan makanan enak. Jadi, untuk terus mengenang dan bersyukur akan perjalanan kemerdekaan Indonesia dari penjajah, maka lomba makan kerupuk dijadikan perlombaan wajib pada setiap perayaan kemerdekaan.

Ngak cuma lomba makan kerupuk aja yang sangat seru, tapi juga ada lomba panjat pinang. Lomba ini sangat menarik karena menggunakan batang pohon pinang yang ditegakkan dan dilumuri oleh oli atau lumpur agar licin. Tingkat paling atas digantung berbagai benda/makanan sebagai hadiah yang siap untuk diperebutkan oleh para peserta lomba yang berhasil memanjat sampai puncak.

Asal muasa panjat pinang?

Asal muasal perlombaan ini ternyata dimulai dari zaman penjajahan penjajahan belanda. Orang – orang belanda yang ada di nusantara pada waktu itu menyiapkan perlombaan ini sebagai hiburan pada saat ada pernikahan atau acara – acara tertentu. Dan yang turut serta perlombaan ini adalah rakyat jajahan. Dimana para rakyat yang terlibat menjadi bahan tertawaan/hiburan saat menaiki batang pinang untuk meraih bahan – bahan makanan seperti  keju, gula, serta pakaian yang diikat pada ujung tiang.

Saat Indonesia merdeka, permainan ini dipertahankan untuk mengenang betapa sulitnya masa – masa penjajahan. Sehingga rakyat yang bermain dan menyaksikan perlombaan tersebut dapat selalu bersyukur pada Tuhan yang memberikan kemerdekaan pada rakyat Indonesia.

Begitulah nilai sejarah dari dua perlombaan 17 an tersebut. Jadi bagi kita yang merayakan kemerdekaan Indonesia, jangan pernah lupakan penderitaan nenek moyang kita dan perjuangan para pahlawan. Sehingga kita bisa merawat, menjaga, memelihara, serta mengisi kemerdekaan dengan karya – karya yang membanggakan.