Connect with us

Opini

Bisakah Indonesia Bebas Narkoba?

IndonesiaOne.org – Angka kematian akibat Narkoba di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Menurut data yang disampaikan oleh oleh BNN 30 – 40 orang di Indonesia mati karena barang haram tersebut. Tidaklah mengherankan jika Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia berada dalam darurat Narkoba. Untuk membuat efek jera terhadap para pengedar, pemerintahan Indonesia menetapkan hukuman mati terhadap para pengedar.

Tetapi apakah tindakan tersebut akan membuat statistik di atas mengalami penurunan? Belum tentu, karena kita masih mendengar berita – berita yang mengatakan bahwa para pengedar masih dengan leluasa mengendalikan pengedaran dari bali jeruji penjara. Seperti halnya yang terjadi pada Terpidana mati kasus narkotika Freddy Budiman. Ia diduga kuat masih mengendalikan peredaran narkotika jaringan internasional meski berada di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah.

Belum lagi kejadian kaburnya 10 tahanan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 31 Maret lalu yang lima di antaranya merupakan jaringan Aceh dalam kasus peredaran narkoba jenis sabu sejumlah 77,3 kilogram. Sementara dua lainnya merupakan anggota jaringan pengedar sabu sejumlah 25,2 kilogram di San Diego Hill. Satu lagi adalah anak buah Sylvester Obiekwe, bandar narkoba asal Nigeria yang mengedarkan 7,6 kilogram.

Dari peristiwa – peristiwa itu, maka perlunya sinergi antara pihak Lapas, BNN dan Kepolisian untuk bersama – sama dengan serius menumpas pengedaran Narkoba. Karena tidak mungkin pengedar Narkoba masih bisa dengan leluasa beraksi di dalam lapas tanpa sepengetahuan petugas/sipir di dalamnya. Begitu juga peristiwa kaburnya tahanan. Tidak mungkin petugas di dalam tidak ada yang mengetahui. Mudah – mudahan para petugas pemberantas Narkoba tidak ada yang terlibat masuk ke dalam lingkaran mafia penjualan Narkoba tersebut. Karena jika sampai terlibat, artinya percuma saja kita menghukum mati para pengedar. Semakin “bersih” institusi pemberantas Narkoba, maka semakin besar kemungkinan Indonesia bebas dari Narkoba.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

Antara Ada dan Tiada

Sekedar mengingatkan, di China khususnya kota Wuhan pernah mencapai 0 kasus Covid-19. Sejak Mei 2020 sampai 1 Januari 2021, tercatat tidak ada satu pun warga Wuhan yang terpapar. Bahkan mereka dapat merayakan tahun baru dengan sangat meriah seolah tidak pernah terjadi apa pun di kota tersebut.

Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo sudah menyampaikan, bahwa masyarakat harus sudah bersiap, bahwa Indonesia sedang berada dalam proses ‘pandemi’ menuju ‘endemi’. Artinya, Covid – 19 akan sama seperti Malaria dan juga Demam berdarah yang menjadi karakteristik dari suatu wilayah dengan frekuensi atau jumlah kasus yang rendah.

Menjadi suatu pertanyaan, apakah terlalu terburu – buru menyatakan sikap tersebut? mengingat kota Wuhan yang pernah mengalami 0 kasus. Artinya virus tersebut bisa hilang, atau daya tahan tubuh bisa meningkat drastis dan membuat terjadinya kekebalan.

Keoptimisan untuk menggapai angka 0 kasus perlu dibangun bersama, tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat. Ini waktunya perjuangan bersama dimulai untuk menyingkirkan ketakutan batin menghadapi ”makhluk” (Covid-19) antara ada dan tiada ini. Sehingga kelak nanti, ingatan mengenai pandemi ini dapat terhapus dari pikiran seluruh masyarakat Indonesia. Indonesia pasti bisa mencapai 0 kasus. Kapan waktunya hal tersebut akan terjadi? sikap pemerintah dan masyarakat sangat menentukan.

Continue Reading

Berita Umum dan Opini

Menggiring Mimpi Giring Menjadi Presiden RI

IndonesiaOne.org – Menjadi presiden merupakan cita – cita yang seringkali diucapkan oleh anak sewaktu kecil. Walaupun kenyataannya saat dewasa perubahan sering terjadi. Tapi semua orang ‘berhak untuk bercita – cita’ atau bermimpi. Itulah yang dilakukan oleh Giring Ganesha yang sedang bermimpi menjadi presiden dan mencoba meraihnya.

Mantan vokalis band Nidji tersebut mengaku memang kerap kali memiliki mimpi yang terwujud. Beliau menegaskan, bahwa memiliki band dan tour keliling kota juga pernah terwujud karena berawal dari suatu impian. Jadi jika itu semua terjadi mengapa harus takut bermimpi untuk menjadi presiden.

“Saya Giring Ganesha, memberanikan diri mewakili generasi saya, untuk maju sebagai presiden Republik Indonesia di 2024”.

Itulah statement dari vokalis yang cukup terkenal menyanyikan lagu ‘Laskar Pelangi’.

Lalu apakah PSI (Partai Solidaritas Indonesia) sanggup menggiring Giring menjadi presiden RI 2024? Tentunya pemilu masih panjang, tapi persiapan sudah bisa dilakukan. Bisakah giring menggiring opini publik bahwa dirinya sosok yang kredibel untuk memimpin Indonesia? Kita tunggu saja sepak terjangnya bagi masyarakat.

Dari sikap Giring kita bisa belajar, semua orang boleh bermimpi dan berhak menjadi pemimpin negara, tapi juga harus bangun dari tidur dan segera bertindak mewujudkannya. Pastinya, rakyat menantikan pemimpin yang berbeda dan membawa Indonesia keluar dari berbagai birokrasi kaku yang telah berakar sekian puluh tahun lamanya. Sanggupkah Giring meraih mimpinya, atau ada sosok lain yang lebih layak darinya? Pembuktian diri menjadi orang yang berdampak dan berguna bagi masyarakat lebih dinantikan daripada sekedar bermimpi.

 

Continue Reading

Opini

Surat Kejenuhan Mengenai Iklim Politik di Indonesia

IndonesiaOne.org – Iklim politik Indonesia di Media Sosial kian lama semakin membosankan. Lihat saja tokoh – tokoh yang sering muncul untuk menyatakan pendapat dan juga kritikan atau nyinyiran, itu – itu saja orangnya. Sebut saja Denny Siregar dari garis keras pendukung Jokowi. Lalu Rocky Gerung yang selalu membawa narasi kedunguan yang diarahkan ke pemerintah. Tidak ketinggalan Abu Janda, Fadli Zon, Rizal Ramli, dll. Ditambah lagi imbas pilpres 2019 antara kampret dan cebong yang masih terus bertikai sampai sekarang ini. Jadi apapun peristiwa, situasi, dan keadaan di negara kita, seolah masih terkotakkan dengan iklim pilpres masa lampau. Padahal itu adalah kotak usang yang harus kita singkirkan untuk mencapai kemajuan yang signifikan baik dalam kehidupan pribadi atau berbangsa.

Kotak itu berbau ambisi dan kehausan akan kekuasaan yang sangat tajam. Kotak itu juga bau kotoran dari mulut dalam bentuk hujatan, cercaan, dan hinaan. Kotak itu juga penuh kekerasan dan kebencian. Itulah kotak neraka yang masih terus memanasi kondisi politik di Indonesia! Apakah itu semua akan berakhir? Pasti! Sebab rasa jenuh terhadap kebencian, kemarahan, dan nyinyiran mulai dirasakan. Keinginan untuk merdeka dari kungkungan kota tersebut juga semakin kuat. Rasa ingin menikmati “ketenangan surgawi” di bumi Indonesia mulai sangat dibutuhkan.

Indonesia butuh iklim politik yang sehat. Kata – kata yang membangun, bukan saling hujat. Indonesia membutuhkan orang – orang yang kritis namun optimis. Kita butuh bergandeng tangan untuk membawa Indonesia semakin kuat. Siapa yang mau memulai? Harus dari kita yang sadar betapa “kotornya” iklim politik yang ada dan siap untuk membersihkannya.

Marilah kita memulai menjadi pribadi yang “berpengaruh”. Mungkin kita “orang kecil”, tapi berpikirlah dan berkatalah sebagai pribadi yang matang. Kita bisa memulai dari media sosial dengan memberikan harapan. Singkirkan segala hujatan, nyinyiran, dan hinaan yang sangat melelahkan jiwa. Berfokuslah untuk membangun hidup jadi lebih baik dan melakukan segala yang berguna untuk bangsa Indonesia. Berhentilah menjadi korban pilpres di masa lampau, sebab jaman sudah lebih maju yang membutuhkan pemikiran terbuka untuk hidup bisa tetap eksis. Kita semua sudah jemu dan bosan terhadap kejahatan mulut. Kita semua sudah muak terhadap sikap kasar. Biarlah nurani yang murni  mulai mengajarkan kita bertingkah sebagai manusia yang luhur dan memanusiakan sesama manusia. Mari segarkan kembali Indonesia kita dengan pikiran dan perasaan sebagai manusia yang sesungguhnya. Manusia yang beradab dan bermoral!

 

 

 

 

Continue Reading

Trending!!