Connect with us

Berita Umum dan Opini

Budidaya Lalat Menjadi Solusi Pakan Ternak

Kabar yang cukup unik datang dari Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Lalat yang selama ini dianggap sebagai hewan yang menjijikan dan tidak berguna, justru dibudidayakan menjadi pakan ternak.

Rata-rata, lalat membawa lebih dari 200 bakteri berbahaya hasil dari tempat-tempat kotor yang mereka hinggapi seperti makanan busuk dan kotoran hewan. Lalat dapat mentransfer penyakit menular yang serius seperti kolera, disentri, dan tipus. Itulah mengapa lalat selalu dihindari dan dianggap tidak berguna.

Meski demikian ternyata hewan kecil ini ternyata memiliki manfaat untuk menjadi sumber protein yang baik bagi pakan ternak dan dapat menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan pakan murah berprotein tinggi, apalagi lalat berkembang biak dengan subur di wilayah Indonesia yang beriklim tropis.

Pemerintah Kabupaten Situbondo saat ini sedang mengembangkan inovasi budi daya lalat hitam sebagai pakan ternak di pembuangan akhir (TPA) sampah.

“Inovasi pengembangan bahan organik untuk budi daya lalat hitam sudah dipelajari teknologinya dan ke depan tinggal belajar bagaimana budi daya lalat pada daerah-daerah lain yang telah melakukannya terlebih dahulu,” ujar Bupati Situbondo Dadang Wigiarto di Situbondo.

Ia mengemukakan, dengan mengembangkan inovasi budi daya lalat tersebut di TPA sampah sehingga kehadiran lalat hitam tidak membawa dampak buruk, melainkan bisa diolah menjadi pakan ternak.

Mantan deputi bidang agroindustri di Kementerian BUMN, Agus Pakpahan, adalah salah satu yang menyelisik manfaat lalat. Dalam sebuah literatur, Agus menemukan fakta bahwa lalat merupakan sumber protein untuk pakan ternak.

Dalam proses dekomposer (penguraian sampah), Bakteri adalah unsur penghancurnya. Tapi, proses pembusukannya sendiri memakan waktu yang lama hingga enam bulan. Sementara itu, ada satu makhluk yang memakan barang-barang busuk, yaitu lalat.

Agus menjelaskan, satu kilogram sisa makanan akan menjadi tempat hidup bagi 100 ribu ekor lalat. Jika satu rumah tangga membuang sampah dan sisa makanan dua setengah kilogram, ada 250 ribu ekor lalat yang siap menyerbu. Jika separuh dari lalat itu betina, seekor lalat bisa menghasilkan telur hingga 500.

Dengan demikian, dalam satu siklus hidup selama satu bulan, dua setengah kilogram sampah menghasilkan 62,5 juta telur lalat. Sumber protein dari lalat terdapat pada fase larva dan prepupa.

Larva lalat tentara hitam
Larva lalat tentara hitam © Dennis Kress /Wikimedia Commons

Buku Flies karangan Stephen A. Marshall menjelaskan bahwa ada 400 hingga 800 jenis lalat di dunia. Dari sekian banyak tersebut lalat tropis dengan nama latin Hermetia illucens atau yang dikenal dengan sebutan black soldier flies (lalat tentara hitam), merupakan jenis yang aman dan sehat untuk pakan ternak.

Tidak hanya bisa menjadi pengganti, Menurut Agus, lalat tentara hitam memiliki banyak keunggulan untuk dikembangkan sebagai bahan pakan ternak. Antara lain, ia dikenal tahan banting dan makannya banyak.

Kandungan protein larva dan prepupanya mencapai 45 persen, lemaknya 35 persen, dan asam aminonya lengkap. Selain itu, lalat tersebut mengandung zat kitin yang baik untuk pupuk, kemampuan berkembang biaknya cepat, dan hidup di iklim tropis.

Cara mengembangbiakkan lalat ini tergolong mudah, yaitu dengan menyiapkan ruang berjaring yang tidak terlalu luas guna mencegah lalat berkeliaran.

Di dalamnya disiapkan kotak sampah dari rangka kayu yang diberi saringan. Sedangkan bagian atas tempat itu diberi potongan-potongan kardus sebagai tempat lalat bertelur. Telur di rongga-rongga kardus tersebut nanti jatuh dan ditampung sampai menjadi larva. Larva inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan pakan ternak.

Bio-konversi oleh larva lalat tentara hitam (black soldier fly larvae [BSF]) dapat mendegradasi sampah lebih cepat, tidak berbau, dan menghasilkan kompos organik, zero waste, serta larvanya dapat menjadi sumber protein yang baik untuk pakan.

Pengembangan budidaya lalat hitam dengan menggunakan sampah menjadi salah satu konsep yang tengah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Situbondo. Hal ini dilakukan untuk dapat mempertahankan Piala Adipura.

Pekan lalu, Kabupaten Situbondo kembali mendapat Piala Adipura. Penghargaan tertinggi bidang kebersihan untuk kategori kota kecil. Ini merupakan piala keempat kalinya bagi kabupaten tersebut. Sebelumnya Situbondo sempat absen mendapatkannya pada 2015 dan 2016.

Budidaya lalat dan belatung (larva/bayi lalat) memang sedang banyak berkembang di banyak daerah. Bahkan pada Februari lalu Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pemerintah Kota Depok merencanakan pembinaan warga untuk budidaya belatung atau larva lalat hitam, yang dinilai mampu mengurai sampah organik.

Bukan hanya sekadar bermanfaat dalam mengurai sampah, belatung juga bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat yang turun tangan buat budi daya belatung. “Maggot–belatung–kalau dijual bisa dihargai Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Kalau begitu kan bisa juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Etty Surhayati.

Selengkapnya tentang teknologi Bio-Konversi sampah : Biomagg

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Umum dan Opini

Kritik Tes PCR

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, membeberkan selama ini ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) tes PCR di lapangan banyak diakali oleh penyedia sehingga harganya naik berkali lipat.

“HET PCR di lapangan banyak diakali oleh provider (penyedia) dengan istilah ‘PCR Ekspress’, yang harganya tiga kali lipat dibanding PCR yang normal. Ini karena PCR normal hasilnya terlalu lama, minimal 1×24 jam,” tutur Tulus dilansir dari Antara.

Dia juga menilai kebijakan wajib PCR bagi penumpang pesawat diskriminatif karena memberatkan dan menyulitkan konsumen.

“Diskriminatif, karena sektor transportasi lain hanya menggunakan antigen, bahkan tidak pakai apapun,” katanya.

Tulus menyebutkan syarat wajib PCR sebaiknya dibatalkan atau minimal direvisi. Misalnya, waktu pemberlakuan PCR menjadi 3×24 jam, mengingat di sejumlah daerah tidak semua laboratorium PCR bisa mengeluarkan hasil cepat.

“Atau cukup antigen saja, tapi harus vaksin dua kali. Dan turunkan HET PCR kisaran menjadi Rp 200 ribuan,” imbuhnya.

Tulus meminta agar kebijakan soal syarat penumpang pesawat terbang benar-benar ditentukan secara adil.

“Jangan sampai kebijakan tersebut kental aura bisnisnya. Ada pihak pihak tertentu yang diuntungkan,” pungkas Tulus Abadi.

Bisnis PCR

Senada dengan YLKI, masih dikutip dari Antara, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setidjowarno, mengungkapkan selama ini banyak lab kesehatan yang memaksimalkan keuntungan dari PCR.

Djoko pun menilai kewajiban PCR bagi penumpang pesawat seharusnya bisa dihapuskan. Jika hal itu bisa dilakukan, ia meyakini bisnis angkutan udara bisa kembali membaik.

“Kalau mau perbaiki bisnis udara, ya hilangkan saja (syarat PCR) atau dibayarkan oleh pemerintah. Lagipula harganya beda-beda. Bahkan di beberapa tempat juga ditawari surat hasilnya. Tes PCR juga tidak tersedia di semua tempat,” ucap dia. 

Dalam aturan terbaru surat keterangan hasil negatif RT-PCR maksimal 2×24 jam dijadikan syarat sebelum keberangkatan perjalanan dari dan ke wilayah Jawa-Bali serta di daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4.

Untuk luar Jawa-Bali, syarat ini juga ditetapkan bagi daerah dengan kategori PPKM level 1 dan 2, namun tes antigen tetap berlaku dengan durasi 1×24 jam. Sebelumnya, pelaku penerbangan bisa menggunakan tes antigen 1×24 jam dengan syarat calon penumpang sudah divaksin lengkap.

Djoko juga meminta pihak bandara untuk memperbaiki layanan sebagaimana syarat penerbangan yang sudah ditentukan.

Misalnya saja, terkait aturan tes, pihak bandara dinilai tidak sigap menyiapkan fasilitas tes guna memudahkan penumpang.

“Jujur saja, pelayanan di bandara itu tidak jelas. Kalau di stasiun, untuk pemberangkatan jam 6 pagi, pelayanan tes sudah dibuka sejam sebelumnya. Kalau di bandara tidak jelas. (Tes) Genose saja antrenya panjang, bahkan saya pernah sampai satu jam. Ini membuat konsumen malas dan enggan bepergian (naik pesawat),” katanya.

Belum lagi terkait biaya tes yang tidak sama antara di Jawa dan luar Jawa meski pemerintah sudah menetapkan harga tertingginya sebesar Rp 495 ribu dan Rp 525 ribu.

Continue Reading

Berita Umum dan Opini

Ganjar Berada di Puncak Survei

Kabar dari AntaraNews (Rabu, 20 Oktober 2021) menyatakan hasil survei dari Center for Political Communication Studies (CPCS). Ternyata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menempati posisi pertama tingkat keterpilihan (elektabilitas) untuk Pemilihan Presiden 2024 menggeser Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto yang dalam beberapa waktu ini bertahan di puncak survei.

Yang menarik dari naiknya elaktabilitas Ganjar diiringi oleh ‘teguran’ serta ‘sindiran’ keras dari partai PDI Perjuangan yang menganggap bahwa sekarang belum waktunya untuk ‘promosi diri Capres 2024’. Hal ini akhirnya membuat barisan pendukung Gubernur Jawa Tengah tersebut justru lebih militan menyatakan dukungan. Dan media secara tidak langsung turut mengangkat elaktabilitas yang ada dengan menjadikan pemberitaan ‘gesekan antara PDI-P dan Ganjar yang merupakan kader partai sendiri’ menjadi konsumsi publik. Tentunya hal ini bukan “kebetulan”. Apalagi PDI-P sebagai partai besar yang sarat pengalaman politik. Setiap sikap, pernyataan, maupun keputusan, semuanya itu memiliki perencanaan dan tujuan serta strategi jitu juga sistematis untuk kepentingan yang lebih besar.

Layak atau tidaknya Ganjar Pranowo tentunya bukan ditentukan oleh partai saja, juga bukan ditentukan oleh fanatisme militan pengagumnya, melainkan oleh hasil kerja dan dampak yang dapat dirasakan langsung di tengah masyarakat. Joko Widodo telah menetapkan standart kepemimpinan dan ia layak dijadikan barometer. Terbukti ada banyak hasil kerja yang memudahkan kehidupan masyarakat dan perekonomian, minimal pembangunan infrastruktur terlihat dan tidak ada yang mangkrak. Permasalahan beberapa janji kampanye yang dianggap belum tercapai, bisa dilanjutkan dan diselesaikan oleh penerusnya yang memiliki visi dan misi yang serupa.

Membenahi dan membangun Indonesia bukan perkara gampang. Butuh waktu dan butuh pemimpin yang kuat, bukan cuma tahan menghadapi cemoohan dan fitnah, tapi tangguh dalam iman serta takwa. Apalagi menghadapi “peperangan” politik dalam negeri yang kian bertambah panas jika sudah memasuki masa pemilihan umum, butuh pemimpin yang SANGAT KUAT! Apakah Ganjar masuk dalam kriteria rata – rata masyarakat Indonesia? Atau “kepopulerannya” akan segera surut? pastinya rakyat tidak butuh orang yang rajin mengisi konten Youtube, tapi membutuhkan pemimpin yang bekerja tulus dan berdampak walau tidak ada yang meliput!

Continue Reading

Berita Umum dan Opini

“Dipaksa” Ibadah Online

Bagi umat nasrani di Indonesia yang selama ini mengikuti ibadah via ‘online’ akibat pandemi Covid-19, tentunya sudah merasakan “pengikisan iman” yang cukup mendalam. Belum lagi jika ada ‘halangan’ signal, ibadah pun kerap kali terganggu. Tapi begitulah kebijakan pemerintah dalam PPKM beberapa level yang diterapkan di tiap wilayah. Protokol kesehatan menjadi hal yang sangat diperhatikan demi kesehatan bersama. Selain pengaturan jarak dan penggunaan masker, jumlah orang pun dibatasi. Dan tiap gereja juga menerapkan kebijakannya masing – masing. Misalkan, mereka yang berusia lanjut tidak diperbolehkan untuk hadir di tempat. Apalagi mereka yang sedang ‘sakit’, harus tetap berada di rumah.

Bandingkan kondisi gereja sekarang dengan kondisi masa lampau yang begitu bersemangat dan antusias mengundang orang yang sakit apapun untuk datang ke dalam suatu ibadah. Karena mereka percaya bahwa segala penyakit dapat sembuh ketika datang ke suatu ibadah untuk beroleh jamahan Tuhan. Tapi keyakinan tersebut seolah sirna dengan berbagai aturan pembatasan. ‘Suara lantang’ itu tidak lagi terdengar dan akhirnya terpaksa menerima ‘nasib’ ibadah yang berganti online dengan satu narasi ; Tuhan tidak terbatas dengan ruang dan waktu!

Mungkinkah semua akan kembali normal, atau umat nasrani memilih pasrah mengalami kondisi seperti ini?

Dilema, itulah perasaan yang sedang dialami oleh banyak pemimpin gereja. Ingin membuka ibadah kembali akan menyebabkan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah, yang tentunya dapat berhadapan dengan hukum. Ingin mengundang banyak orang demi merasakan ‘jamahan Tuhan secara bersama’ juga sulit, sebab teringat ada banyak pendeta yang merenggang nyawa akibat penularan dalam ibadah seperti itu.

Alhasil berbagai cara untuk ‘menanggulangi dilema batin’ dengan ayat – ayat firman pun muncul sebagai bahan khotbah ‘penghiburan’ untuk memaklumi kondisi yang ada. Jemaat harus meyakinkan diri bahwa ‘ibadah’ di mana saja dampaknya tetap sama. Tapi realitanya seringkali berbeda. Ibadah menjadi semaunya dan senyamannya! Rasa hormat terhadap realita Tuhan pun jadi sirna.

‘Lelah ibadah online’, itulah seruan hati tersembunyi. Kapan pandemi ini berakhir? Itulah pertanyaan yang tidak kunjung usai. Malahan terdengar kabar, Indonesia akan memasuki Gelombang ketiga Covid-19 bulan Januari 2022 nanti.

Rasanya umat Nasrani harus bersabar, dan berpikir realistis atas kondisi ini. Ibadah via online ternyata juga banyak untungnya terhadap penyebaran PENGAJARAN KEBENARAN agar bisa sampai ke seluruh penjuru bumi. Tugas Amanat Agung bagi mereka yang selama ini menginjil tanpa lelah jadi terasa lebih ringan dengan kemajuan teknologi.

Siapa yang bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini akan tetap bisa tenang menjadi umat nasrani yang baik, tapi bagi mereka yang tidak mau menerima keadaan akan terus mendesak dalam doa untuk terjadinya perubahan. Ya, hanya DOA yang bisa mengubahkan kondisi BURUK ini menjadi BAIK kembali!

Continue Reading

Trending!!