Paris Van Sumatera

Bagikan Artikel ini :

Ave Neohistorian!

Sumatra Timur adalah salah satu wilayah makmur pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Perkebunan tembakau dan lokasi strategis di jalur pelayaran internasional menjadikan Sumatra Timur sebagai kekuatan ekonomi di area Selat Malaka. Kota Medan menjadi pusat ekonomi di Sumatra Timur, dan tentu saja tembakau menjadi komoditas bernilai tinggi pada masa itu.

Meningkatnya ekonomi membuat banyak pengusaha Eropa datang ke Medan untuk berbisnis, dan bertambahnya pundi-pundi uang mempercepat pembangunan kota dengan arsitektur dan kehidupan gaya Eropa. Suatu kebanggaan bagi Belanda memiliki koloni di Sumatra Timur, sebab telah mengangkat gengsi terhadap negara Eropa lainnya, terutama Inggris.

Pulau Pinang, Singapura, dan Melaka sudah terlebih dahulu menjadi wilayah maju koloni Inggris, yang menjadi simbol kesuksesan kolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Sehingga, Belanda sering diejek karena memiliki wilayah yang lebih luas, tetapi tidak semakmur koloni Inggris yang wilayahnya lebih kecil.

Namun, perkembangan pesat perkebunan tembakau dan majunya Kota Medan membuat Inggris merasa tersaingi, bahkan sampai menahan para pekerja Tionghoa dan India agar tidak menyeberang ke Sumatra Timur. Orang Belanda dengan senang hati menyebut Medan sebagai “Parijs van Soematera” karena keindahannya. Sebutan ini tidak hanya membuat Inggris tersinggung, tetapi juga Prancis yang berkoloni di Indocina dan belum mampu membangun kota seindah ibu kota mereka.

Belanda justru lebih dahulu mengeklaim kota yang seindah Paris, dan menaikkan popularitas Medan di Asia Tenggara.

-Gian Silitonga (Gojira1998)
Editor: Fidel Cristo Imanuel Saragih

Sumber:
Avan, Alexander. 2010. Parijs Van Soematera. Medan: Rainmaker Publishing House.

Bagikan Artikel ini :

Leave a Reply