Keretakan rumah tangga

4 Aspek Penyebab Keretakan Yang Biasa Terjadi Dalam Keluarga

Bagikan Artikel ini :

IndonesiaOne.org – Kasus-kasus keretakan rumah tangga semakin hari semakin sering terjadi, hingga menimbulkan opini publik bahwa perceraian itu adalah hal yang normal.

Tetapi apakah kita yang tahu akan kebenaran menyetujui dengan pernyataan ini !??

Jika kamu salah satu orang yang rindu untuk terjadinya keluarga yang harmonis, setia dan kuat. Maka ada baiknya kamu mengetahui apa-apa saja faktor penyebab keretakan yang biasa terjadi di dalam keluarga.

Jika kamu sudah mengetahuinya maka kamu bisa menyelamatkan satu keluarga yang sedang diambang kehancuran.

1. Aspek Hirarki Dalam Keluarga

Hirarki dalam keluarga adalah sikap saling menghormati antara suami dan istri sehingga tercipta keteraturan dalam berumah tangga. Istri menaruh respek dan hormat pada suami, begitu pula suami juga harus terus mengalirkan kasih, penjagaan dan kepemimpinan yang benar kepada istri.

Dan berikut ada beberapa hal yang merusak tatanan hirarki dalam keluarga :

  • Masalah hirarki sering disebabkan karena istri lebih dominan dibanding suami. Dan akhirnya membuat fungsi serta peran dari suami mulai berkurang bahkan hilang didalam keluarga.
  • Adanya kasus-kasus dimana anak dianggap lebih penting atau lebih berarti dibandingkan pasangan suami/istri
  • Adanya kasus-kasus mertua atau orangtua yang ikut campur dalam keluarga baru tersebut.

rusaknya hirarki di dalam rumah tangga akan membuat seorang suami atau istri tidak berfungsi seperti yang seharusnya dan menyebabkan ketimpangan dalam rumah tangga.

2. Aspek Prioritas Dalam Keluarga

Aspek prioritas di dalam keluarga terkadang menjadi problem yang cukup rumit. Karena saat ada anggota keluarga yang  salah menempatkan prioritas di dalam keluarga, maka efeknya bisa dirasakan oleh seluruh anggota yang lain.

Berikut 3 hal yang harus dimengerti soal aspek prioritas ini :

  • Jika salah satu pasangan memiliki anggota keluarga lain yang sedang hidup susah, maka biasanya akan ada rasa empati untuk membantu. Tetapi tanpa disadari banyak pasangan suami istri yang justru terjebak dalam lubang ini, mereka atau salah satu pasangan berusaha keras untuk membantu keluarga lain yang sedang susah itu. Dan pada akhirnya menyebabkan prioritas di dalam keluarganya sendiri menjadi salah karena terlalu mendahulukan keluarga lain hingga kebutuhan didalam rumah pun terabaikan.
  • Apabila pasangan suami-istri yang baru saja memasuki bahtera rumah tangga dan masih berada dalam kondisi taraf perekonomian yang ‘pas-pasan’. Biasanya pekerjaan akan akan dianggap sebagai prioritas yang lebih penting dibanding keluarganya. Meski alasan yang dikemukakan, “bekerja mati-matian kan juga ujung-ujungnya buat keluarga juga kok, tetap saja alasan itu tidak baik dan tidak sehat bagi kelangsungan keluarganya sendiri.
  • Keluarga yang memiliki prioritas yang sehat selalu dimulai dari memprioritaskan Yang Maha Kuasa menjadi prioritas yang utama, setelah itu kemudian keluarga inti dan barulah yang lainnya.

3. Aspek Komunikasi Dalam Keluarga

Aspek komunikasi merupakan hal yang sangat fondasional sekali di dalam sebuah keluarga. Banyak sekali keluarga yang rusak diakibatkan pola komunikasinya yang tidak sehat. Berikut  2 penyebab kerusakan komunikasi yang pada umumnya terjadi di dalam keluarga :

  • Di kota-kota besar, keluarga-keluarga yang ada mulai kehilangan waktu berkualitas dengan keluarga padahal ini adalah momen yang sangat baik untuk dapat berkomunikasi dari hati ke hati.
  • Komunikasi yang rusak dalam keluarga juga disebabkan karena banyaknya masalah dan tantangan hidup yang menyebabkan atmosfir komunikasi menjadi jelek.
  • Apabila suami-istri tidak membawa energi positif satu sama lain maka pergumulan hidup akan membuat kedua pasangan saling menyakiti dan berakhir dengan konflik serta komunikasi yang rusak.

4. Aspek Kemampuan Untuk Berempati

Kemampuan untuk berempati dari masing-masing anggota keluarga juga bisa menjadi faktor penyebab keretakan dalam keluarga.

Berikut beberapa hal yang harus dimengerti mengenai aspek empati.

  • Di era globalisasi saat ini menghasilkan berbagai efek yang positif dan juga negatif. Jika dilihat dari sisi negatifnya, banyak orang menjadi lebih individualis dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Budaya individualistik telah mengikis habis kemampuan untuk saling berempati satu sama lain.
  • Ganjalan-ganjalan yang pernah terjadi di antara sesama anggota keluarga, harus segera dibereskan dengan ketulusan hati dan sikap mengampuni. Jika ganjalan atau konflik terus disimpan, maka secara otomatis empati tidak akan terbangun di dalam keluarga.
  • Saat kita menabur perhatian, kasih ataupun empati kepada anggota keluarga kita yang sedang membutuhkannya, maka percayalah kita akan menuai perhatian serta keharmonisan secara berlimpah-limpah di dalam keluarga.

Penulis : S.O

Bagikan Artikel ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *