Connect with us

Inspirasi

9 Cara Memberi Dukungan Kepada Seseorang Untuk Menjadi Yang Terbaik

IndonesiaOne.org – Salah satu kebanggaan dan pencapaian kita sebagai manusia adalah saat kita berhasil membawa orang-orang terdekat dan orang yang kita sayangi ada di dalam puncak potensinya.

Apapun peran kita baik sebagai orangtua, pasangan, sahabat, pemimpin, ataupun rekan kerja, kita tentunya ingin anak, kekasih, sahabat dan anak buah kita dapat mencapai puncak potensi hidupnya.

Berikut ini adalah 9 tips dari Indonesiaone, bagaimana cara kita menolong orang lain menggali dan menemukan potensi terbaik yang mereka miliki :

  1. Percaya kepada mereka dan berikan semangat

Kepercayaan dapat menjadi motivasi dan daya dorong yang sangat besar bagi seseorang. Kata-kata penyemangat yang tulus seperti “Aku yakin kamu pasti bisa..” dapat membangkitkan kembali rasa percaya diri seseorang dan memunculkan kemampuan terbaiknya.

Seringkali orang ragu terhadap diri sendiri terutama saat harus mengesekusi ide baru, memasuki sebuah promosi dan hal-hal yang baru. Memiliki seseorang yang percaya pada kemampuan kita di saat-saat penting seperti ini adalah hal yang tidak ternilai.

  1. Berharap Penuh

Seringkali kita diajarkan untuk memiliki harapan yang REALISTIS. Namun, berbicara tentang menolong orang lain menjadi yang terbaik, kita harus belajar untuk meningkatkan level harapan kita terhadap mereka.

Hal ini bisa saja menjadi ekstrem, misalnya seorang guru, orangtua atau bos yang menuntut seseorang lebih dari kemampuannya. Ternyata orang itu justru dapat bangkit melampaui kemampuannya sebelumnya.

  1. Berkata Jujur

Terkadang kita sungkan untuk berkata jujur karena ingin terlihat baik, namun sesungguhnya berkata jujur adalah tindakan kasih. Mungkin saja kita menjadi satu-satunya orang yang berani mengatakan apa yang perlu dikoreksi dari seseorang, sehingga ia dapat menjadi lebih baik lagi.

Kita dapat berbicara terbuka dan jujur tanpa harus menyerang dan menyakiti hatinya.

  1. Menjadi Teladan

Tindakan nyata berbicara jauh lebih kuat dari 1000 perkataan. Salah satu cara terbaik untuk membawa pengaruh adalah dengan menjadi teladan bagi orang lain. Seringkali kita tidak sadar bahwa oranglain ternyata memperhatikan tindakan kita.

Ada banyak orang yang sanggup mencapai puncak potensinya karena mengagumi dan meneladani seorang sosok teladan di dalam hidupnya.

  1. Berbagi Pengalaman

Setiap keberhasilan yang pernah kita raih dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, kegagalan dan kebangkitan yang kita alami juga dapat menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Dengan demikian, hidup kita akan selalu dapat “dilihat” dan “dibaca” oleh orang lain menjadi sebuah pelajaran dan menarik hikmah untuk hidup mereka.

  1. Berikan tantangan

“Tantangan” selalu dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif dan menyulitkan, namun sebetulnya setiap tantangan dan ujian akan selalu menguji kemampuan seseorang dan memunculkan potensi terbesarnya.

Setiap orang yang mau naik level tentu harus menjalani ujian.

  1. Ajukan pertanyaan yang mendalam

Seorang pelatih atau mentor yang baik tidak hanya memberikan perintah dan arahan tentang apa yang harus dilakukan, namun mengajukan pertanyaan agar anak didiknya memahami cara untuk menjadi lebih baik.

Pertanyaan yang mendalam dari orang lain akan membantu seseorang berpikir jernih dan menemukan solusi dari permasalahan atau jalan buntu yang sedang ia hadapi.

  1. Berikan pengakuan dan apresiasi

Manusia akan selalu menemukan apa yang ia “cari”. Saat kita mencari-cari kesalahan seseorang, kita pasti akan mendapatkannya. Begitu juga jika kita mencari hal terbaik dari seseorang, kita juga akan mendapatkannya.

Carilah hal-hal positif dan keunggulan dari orang itu dan berikan apresiasi yang tulus untuknya. Mereka akan terdorong untuk lebih banyak melakukannya dan semakin mengasah kelebihan yang mereka miliki.

  1. Berikan waktu untuk mereka

Dengan kita menyediakan waktu bagi orang lain, menunjukkan bahwa kita menghargai mereka. Investasikan waktu terbaik untuk hubungna yang kita miliki, karena itulah arti sebuah kehidupan. (SS)

Penulis : Siska Srilanti

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Dalam Bisnis Kawan pun Dimakan!

Bisnis itu Kejam

Dunia bisnis itu kejam, ga kenal kawan ataupun lawan, ga kenal perasaan, semua pesaing bisnis pasti dilibas..

Itulah kehidupan dunia bisnis yang selama ini kita kenal. Kawan saja bisa dimakan, demi keuntungan bisnis semata. Tidak ada yang namanya hati nurani di dalam dunia bisnis.

Padahal sejatinya, dunia bisnis sebetulnya tidak terpisahkan dari hati nurani dan etika dalam bekerja. Ideologi dasar berbisnis adalah mencari keuntungan dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Itulah sebabnya hati nurani seharusnya menjadi “rambu-rambu” yang terpasang di dalam hidup setiap manusia, yang memberikan sinyal untuk kita mengenali hal-hal mana yang boleh dilakukan dan hal mana yang tidak boleh kita lakukan dan harus kita hindari.

Seseorang yang menggunakan nurani dalam berbisnis, tidak akan pernah memakai fasilitas dan jabatan yang ia miliki hanya untuk memperkaya diri sendiri diatas kerugian dan kesengsaraan orang lain.

Persoalannya, seringkali keuntungan materi dan pertimbangan logis (hitung-hitungan) seringkali menyajikan data bahwa cara-cara yang tidak etis, curang, dan egois justru memberikan keuntungan materi yang jauh lebih banyak dibandingkan cara-cara yang terhormat.

Disinilah manusia dihadapkan dengan pilihan, apakah tetap mempertahankan integritas dan kemurnian hati nuraninya, atau justru mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jalan curang yang mengorbankan integritas dan hati nuraninya.

Hati nurani yang terus dilanggar akan membuat suara hati nurani orang itu menjadi mati, ia pun menjadi terbiasa dengan tindakan yang salah dan tidak lagi merasa salah. Barulah jika kesalahannya itu terbongkar, ia akan mengaku “khilaf” melakukannya untuk menutupi rasa malu atau menarik simpati orang lain.

Continue Reading

Inspirasi

Berubah itu Mudah

Seringkali dalam sebuah profesi yang kita sedang jalani menuntut perubahan, dan kita akan kesulitan beradaptasi jika tidak memiliki paradigma yang mencintai perubahan.

Menjadi sesuatu yang sulit bagi kebanyakan orang untuk membangun mentalitas mencintai perubahan, karena memang lebih nyaman bagi seseorang untuk tetap diam di posisinya dan menghindari hal-hal atau tantangan yang baru.

Untuk dapat memiliki mentalitas yang mencintai perubahan, kita perlu memiliki paradigma yang mencintai perubahan, sehingga kita tidak akan mengalami kendala untuk berubah. 

Kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana, misalnya mencoba rute alternatif saat pulang atau pergi kerja, atau mencoba resep makanan baru yang belum pernah kita coba, atau jika setelah pulang kerja kita terbiasa menonton tv di sofa, kali ini lakukanlah hal yang baru seperti berolahraga atau membaca buku.

Pada awalnya alam bawah sadar kita akan memberi sinyal “tidak nyaman”, bahwa ini adalah hal di luar rutinitas kita. Tetapi setelah 2-3 kali kita mendisiplin diri melakukan hal di luar rutinitas kita, maka secara perlahan rasa tidak nyaman itu akan hilang dan kita mulai bisa menikmati aktivitas-aktivitas baru tersebut.

 Dari hal-hal yang sederhana, pikiran kita mulai terbiasa untuk berpikir “out of the box”, keluar dari limitasi yang tanpa sadar selama ini kita miliki. Kita pun mulai mendapati bahwa ada banyak hal-hal yang menarik dari sesuatu yang baru dan secara perlahan kita mulai berani untuk mencoba hal-hal yang baru.

Keteraturan vs mencintai perubahan.

Mencintai perubahan bukan berarti hidup kita jadi sembrono dan tidak terkontrol begitu saja, kita memang harus terus memiliki keteraturan dalam hidup ini.

Yang menjadi poin adalah, jangan ijinkan pola hidup teratur yang kita miliki menjadi “penjara” bagi hidup kita, tapi jangan juga mentalitas mencintai perubahan membuat kita tidak menata hidup kita. Keduanya harus seimbang dan menjadi 1 paket yang terbangun dalam hidup kita.

Continue Reading

Inspirasi

Kenapa Saya Minder ?

Ada banyak orang yang sering merasa minder, tanpa tahu apa sebenarnya alasan mereka minder.

“Udah bawaan dari sononya” gitu katanya.

Padahal, seseorang menjadi minder pasti selalu memiliki alasan dibaliknya. Pada umumnya hal itu disebabkan oleh sesuatu hal di masa lalunya, akibat dibesarkan di keluarga yang kurang suportif, dan tidak pernah dilatih untuk tampil di depan umum.

Sebetulnya orang-orang yang terkenal, para pembicara hebat yang sering berbicara di hadapan ribuan orang, juga memulai dari titik yang sama. Mereka gugup, jantung berdebar, ataupun mulut kaku saat hendak berbicara di depan umum. Perbedaannya adalah, mereka terus mencoba, semakin ahli dan terbiasa dan seiring waktu mereka memiliki “jam terbang” yang lebih dari orang-orang lainnya.

Kekuatiran adalah tembok penahan.

Ketakutan dan kekhawatiran yang menahan kita melakukan hal-hal baru atau menciptakan peluang di tengah tantangan sebetulnya hanyalah ketakutan fiktif.

Hal itu disebabkan karena kita terlanjur memiliki jalan berpikir dan mentalitas yang negatif. Melihat segala sesuatu dari sisi yang negatif. Tanpa kita sadari, alam bawah sadar selalu mengirim sinyal alarm yang menahan kita untuk melangkah maju.

Efek trauma masa lalu.

Mentalitas negatif dan kekhawatiran juga dapat disebabkan oleh trauma masa lalu yang meninggalkan bekas luka yang mendalam/membekas sehingga seseorang memiliki rasa takut untuk hal tersebut terulang.

Untuk itu kita harus belajar merasionalisasi apa yang kita takutkan dan mencari akar masalahnya. Jika hal tersebut terjadi karena kelalaian kita sendiri, maka kita harus memastikan bahwa kesalahan tersebut tidak akan terulang kembali.

Jika hal itu terjadi karena kesalahan orang lain, maka kita hanya perlu lebih waspada. Dengan demikian kita dapat menanggulangi setiap ketakutan dan kekhawatiran yang seringkali muncul akibat trauma.

Seringkali orang yang pernah mengalami trauma akan menjadi terlalu waspada dan khawatir berlebihan, namun sebetulnya dalam setiap peristiwa yang kita alami, kita selalu dapat mengkalkulasi resiko yang ada. 

Menanggulangi efek trauma.

Kembali, untuk menanggulangi trauma yang “tersimpan” di alam bawah sadar, kita harus mengedit ulang alam bawah sadar kita dengan teknik afirmasi (memperkatakan perkataan positif + membayangkannya)

Kita juga dapat melakukan rasionalisasi peristiwa trauma tersebut dan menganalisanya serta mencari solusi agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Kombinasi antara teknik afirmasi dan rasionalisasi akan membawa dampak besar bagi diri kita dan mulai membersihkan “File” dalam alam bawah sadar kita serta mengklasifikasikan trauma tersebut sebagai “special case” saja, sehingga kita bisa kembali hidup dengan normal seperti sebelum peristiwa itu terjadi.

Continue Reading

Trending!!