Connect with us

Sejarah Indonesia

Ali Moertopo : Sang Ahli Adu Domba

Dalam pelbagai buku mengenai kajian perubahan sosial, strategi kebudayaan, dan komunikasi massa, biasanya terdapat penjelasan tentang metode penjagaan keseimbangan (equilibrium) kekuatan di masyarakat.

Salah satu caranya adalah dengan membentuk kelompok sosial yang saling berlawanan—secara ideologi, ekonomi, dan kepercayaan. Namun, tidak boleh ada di antara mereka yang terlalu kuat atau lebih kuat dari kelompok lainnya. Mudahnya, masyarakat dipecah dengan politik belah bambu dan di setiap pecahan itu dipercayakan seorang petugas yang menyamar untuk memberi arahan, pelatihan, pengawasan, dan penyaluran dana.

Di zaman Orba dulu, tokoh yang cukup ahli dalam menciptakan skema seperti ini adalah Menteri Penerangan, Letnan Jendral Ali Moertopo. Banyak kelompok sosial, agama, politik, dan ekonomi yang ia rancang lewat satuan sakti di bawah komandonya, yang dikenal dengan nama Opsus. Tujuan utamanya hanya satu, yaitu mengokohkan suatu partai di puncak kekuasaan Indonesia.

Skema yang dibuat oleh Ali Moertopo ini tentu memakan korban, yakni rakyat biasa yang selalu dibentur-benturkan. Karena cara-cara begini sudah teruji keampuhannya, mungkinkah masih ada yang melakukan praktik semacam ini di Indonesia ?. Jika iya, ada kemungkinan mereka masih satu arah keilmuan, aliran dana, dan ideologi.

-Muhammad Gamal Abdurrahman
Editor: Gilang

Sumber:
-Ali Moertopo. Strategi Kebudayaan. Yayasan Proklamasi dan CSIS
-Tim Penulis Gema Insani Press. Tanjung Priok Berdarah. Gema Insani Press
-M. Busyro Muqoddas. Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad. PUSHAM UII
-Jalaluddin Rakhmat. Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi?. Remaja Rosdakarya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sejarah Indonesia

Sejarah Pramuka Indonesia

Neo historia

Ave Neohistorian!

Robert Stephenson Smyth atau lebih dikenal dengan Lord Baden-Powell merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari lahirnya organisasi Pramuka di Indonesia. Dia menulis tentang pengalamannya membimbing anak-anak muda di Inggris yang kemudian berkembang menjadi gerakan kepanduan (scouting).

Ide Baden-Powell yang diterbitkan dalam buku “Scouting for Boys” menyebar ke negara-negara lain, termasuk Belanda dengan nama “Padvinder” yang berarti penemu jalan. Padvinder juga membuka cabang di Hindia Belanda sehingga lahirlah organisasi Nederland Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) yang berarti Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Gerakan kepanduan Hindia Belanda yang menarik perhatian anak-anak muda membuat para tokoh pergerakan nasional berniat mendirikan gerakan kepanduan untuk anak bangsa. Gerakan kepanduan yang didirikan oleh para tokoh pergerakan nasional yaitu Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) yang didirikan oleh Mangkunegaran VII, Jong Java Padvinderij (JJP), Nationale Islamitische Padvinderij (NATIPIJ), Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP), dan Padvinders Muhammadiyah yang berubah nama menjadi Hizbul Wathan (HW).

Gerakan kepanduan berperan aktif dalam kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 sehingga tumbuh suburlah kepanduan Indonesia. Setelah pemerintah Hindia Belanda melarang penggunaan istilah Padvinderij, K.H. Agus Salim mencetuskan untuk mengganti nama menjadi Pandu atau Kepanduan. Pada tahun 1930, pelbagai organisasi kepanduan bergabung menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) akibat dari meningkatnya kesadaran nasional pasca sumpah pemuda.

Terakhir, KBI ditranformasi kembali menjadi Gerakan Pramuka Indonesia oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Apabila Mangkunegara VII dijuluki sebagai Bapak Kepanduan sebab mendirikan gerakan kepanduan pribumi pertama, maka Hamengkubuwono IX yang mengubah Kepanduan Bangsa Indonesia menjadi Gerakan Pramuka Indonesia dijuluki sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

-Nanda
Editor : Thomas

Sumber:
Tim Esensi. Surjadi & Ida Farida (Ed.). (2020). Mengenal Gerakan Pramuka. Jakarta: Esensi.

Continue Reading

Sejarah Indonesia

Yang Chil Sung : Pahlawan Indonesia Keturunan Korea

Ave Neohistorian

Yang Chil-sung alias Shichisei Yanagawa alias Komaruddin, adalah pejuang pasca-kemerdekaan Indonesia asal Korea. Komaruddin awalnya merupakan tentara rekrutan Jepang yang dikirim ke Indonesia sebagai penjaga tawanan sekutu di Bandung pada tahun 1942. Selama di Indonesia, Komaruddin menikahi seorang gadis Garut dan berkeluarga di sana.

Ketika Jepang mengaku menyerah kepada Sekutu, beberapa tentara Jepang di Indonesia memutuskan untuk pulang. Namun, beberapa kapal tak cukup mengangkut seluruh tentara. Maka dari itu, Komaruddin memutuskan untuk tinggal di Indonesia.

Pasukan Pangeran Pakpak (PPP) yang dipimpin Mayor Saoed Moestofa Kosasih menangkap tentara Jepang yang masih tertinggal/menetap di Indonesia. Alih-alih menghukum mati, Mayor Kosasih merekrut mereka sebagai pasukannya. Sejak saat itu, Komaruddin memutuskan untuk masuk Islam bersama Hasegawa (Abu Bakar) dan Aoki (Usman) yang namanya diganti berdasarkan nama lokal.

Komaruddin dikenal sebagai perakit bom ulung. Beliau berjasa dalam meledakkan beberapa markas dan pasukan Sekutu dalam Agresi Militer II dan Bandung Lautan Api. Namun, Komaruddin bersama Abu Bakar dan Usman berhasil ditangkap oleh Belanda setelah salah seorang pengkhianat membocorkan lokasi markas rahasia mereka. Komaruddin dan Pasukan Pangeran Pakpak lainnya dihukum mati oleh Belanda dan dieksekusi di Lapangan Kerkhoff. Komaruddin yang memakai setelan koko putih dan sarung merah berteriak, “Merdeka!” sebelum akhirnya sebutir peluru mengakhiri hidupnya.

-Calvin Winardi
Editor: Fidel Christo Emanuel

Sumber:
MBC Jeonju In Korea (2021)
[Korea MBC-TV Dokumenter] Yang Chil Sung, Pahlawan Garut Asal Korea yang Ditakuti Belanda (1919-1949).

Continue Reading

Sejarah Indonesia

Sumpah Pemuda dan Semangat Kesukarelaan

Neo historia

Ave Neohistorian!

Sumpah Pemuda adalah salah satu pemicu yang menandai lahirnya pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 dan pelaksanaan Sumpah Pemuda pada tahun 1928, menjadi awal tumbuhnya bunga-bunga perjuangan, bunga yang merekah dari tembok represi penjajahan Belanda. Ikrar yang menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia ini, merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang dilaksanakan di rumah kos milik seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liang yang berlokasi di bilangan Jakarta, pada bulan Oktober tahun 1928.

Kongres Pemuda II ini ditutup dengan mengumumkan hasil kongres yang ditulis oleh Mohammad Yamin dan awalnya dibacakan oleh Soegondo Djojopuspito dengan penuh kobaran semangat. Rumusan hasil Kongres Pemuda II tersebut, saat itu disebut Sumpah Setia. Adapun isinya dalam ejaan yang belum disempurnakan sebagai berikut:
Pertama: “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.”
Kedoea: “Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.”
Ketiga: “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Apa hal penting yang bisa kita petik dari peristiwa Sumpah Pemuda?

Satu hal yang penting adalah, bahwa sumpah ini diucapkan secara ikhlas dan sukarela, tanpa tekanan atau intimidasi pihak manapun. Hal ini membuktikan, bahwa perjalanan dan perjuangan untuk mendirikan Indonesia bukan terjadi lewat darah dan besi (Blut und Eisen), seperti yang dicontohkan oleh Kanselir Jerman, Otto Eduard Leopold von Bismarck. Para pemuda ingin menciptakan Indonesia sebagai suatu negara yang baru, untuk menggantikan kata Nusantara dengan kalimat yang mereka sumpahkan secara ikhlas.

Bagaimana dengan pemuda-pemudi milenial saat ini, masihkah semangat kesukarelaan itu ada?

-Nanda
Editor: adnan rizki

Sumber:
Sri Sudarmiyatun, S.Pd. Makna Sumpah Pemuda. PT. Balai Pustaka (Persero), 2012.

Continue Reading

Trending!!