BATEWAH Permainan Tradisional dengan unsur kearifan lokal Masyarakat Kalimantan

Bagikan Artikel ini :

Halo Sobat TGR! Mengulas berbagai macam permainan tradisional di negara kita tercinta ini tidak akan ada habisnya. Salah satu permainan yang cukup populer dikalangan anak-anak di daerah Kalimantan Selatan adalah permainan tradisional Batewah.

Menurut literatur, Batewah diambil dari kata “Tiwah” yang merupakan nama suatu upacara keagamaan yang dilakukan oleh penganut agama Kaharingan di pedalaman Kalimantan. Tiwah dilaksanakan oleh keluarga yang telah kehilangan salah satu anggota kerabatnya. Dalam melaksanakan upacara Tiwah, pihak yang ditinggalkan akan membeli seekor kerbau untuk dijadikan hewan kurban. Selama upacara berlangsung, kerbau akan diikat di sebatang kayu dan seluruh anggota keluarga akan mengitari kerbau tersebut sambil memegang tombak. Masing-masing anggota keluarga akan melemparkan tombak tersebut ke kerbau sampai tidak berdaya lagi, kemudian menyembelihnya untuk dimakan bersama berserta masyarakat desa lainnya. Tiwah memiliki makna yaitu mengantarkan arwah kerabat yang sudah meninggal ke surga.

Namun, dalam permainan Batewah target yang dituju bukanlah kerbau melainkan tumpukan kayu yang disusun membentuk susunan api unggun. Permainan Batewah sekilas mirip dengan permainan Lempar Sendal yang juga cukup populer dimainkan di beberapa tempat di Indonesia. Terdapat beberapa perbedaan dalam memainkannya, jika sasaran yang digunakan dalam permainan Lempar Sendal adalah sususan sandal setiap pemain, berbeda halnya dengan Batewah yang dijadikan sasaran adalah tumpukan kayu, lalu jika tumpukan kayu itu rubuh makan pemain yang lain akan bersembunyi.

Permainan Batewah dimainkan minimal oleh tiga orang pemain, satu pemain sebagai penjaga dan pemain lainnya sebagai penewah atau pelempar. Permainan ini umumnya dapat dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan, selain itu bahan untuk memainkan permainan ini cukup mudah untuk didapatkan. Sebelum memainkan permainan ini, disiapkan beberapa buah bilah kayu yang memiliki panjang sekitar 30 cm yang kemudian disusun membentuk susunan api unggun dan disiapkan juga kayu lain sebagai pelempar atau disebut undas.

Cara memainkan dimulai dengan seluruh pemain berdiri sejajar sejauh 4 – 8 meter dari susunan kayu. Lalu, setiap pemain yang menjadi penewah melempar undas ke sasaran. Jika susunan kayu terkena lemparan dan rubuh, maka pemain yang bertindak sebagai penjaga akan menyusun kembali kayu-kayu yang berjatuhan secepatnya dan pemain yang lain akan bersembunyi. Ketika selesai disusun kembali, pemain yang jaga akan mencari pemain yang bersembunyi. Pemain yang pertama kali ditemukan akan mendapat giliran sebagai penjaga berikutnya.

Dalam memainkan permainan Batewah ini ada beberapa nilai budaya yang terkandung didalamnya seperti ketangkasan dan sportivitas. Nilai ketangkasan dapat dilihat dari kesigapan pemain yang bertindak sebagai penjaga untuk menyusun kembali kayu yang telah rubuh secepat mungkin. Sedangkan, nilai sportivitas dapat dilihat dari bagaimana pemain yang pertama kali tempat persembunyiannya diketahui oleh penjaga bersedia mendapat giliran sebagai penjaga berikutnya.

Nah, itulah tadi ulasan mengenai permainan tradisional dari Kalimantan Selatan. Sangat menarik, kan? Sebagai generasi penerus bangsa, mari kita bersama-sama mengenal dan melestarikan permainan tradisional dari setiap daerah di Indonesia, supaya tidak punah ditelan zaman. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (CAA/ed.AAA)


Referensi:

  • Abbas, E. W., Kamal, S., Syahruddin, & Irhasyuarna, Y. 2015. Kearifan Lokal sebagai Sumber Pembelajaran IPS. Ethnopedagogy (p. 277). Banjarmasin: Faculty of Teacher Training and Education Lambung Makurat University.
  • Dinas Kebudayaan Jakarta. 2021 (dinaskebudayaan.jakarta.go.id)
  • Beautiful Indonesia (beautiful-indonesia.umm.ac.id)
Bagikan Artikel ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *