Connect with us

Inspirasi

Menjadi Pribadi yang Ramah dan Mudah Bergaul

Tahukah anda, bahwa sebenarnya tidak perlu uang yang banyak untuk dapat mengubahkan hidup orang banyak ?

Senyuman hangat dan sapaan yang tulus, sanggup mencerahkan hari seseorang. Bahkan dapat mengubahkan keputusasaan yang dialami seseorang dan mengubahnya menjadi pengharapan baru dan semangat yang baru.

Menjadi pribadi yang hangat, ramah, dan mudah bergaul memberikan banyak sekali manfaat positif, tidak hanya bagi orang lain tapi juga bagi diri sendiri.

Hal yang paling pasti adalah, kita memiliki lebih banyak relasi dan koneksi, yang sudah tentu membuka lebih banyak pintu peluang dan kesempatan. Lebih banyak teman dan sahabat juga artinya kita mendapatkan dukungan moral yang lebih dalam menjalani hari-hari kita, dan tentunya itu akan berdampak sangat positif bagi kesehatan mental diri kita sendiri.

“Tapi saya memang pada dasarnya pemalu dan sungkan untuk bergaul.., jadi harus bagaimana donk ? “

Tenang saja, semua yang ada di dunia ini sebetulnya bisa dipelajari dan ditumbuhkan, ini dia beberapa caranya :

1. Melatih diri menjadi pribadi yang selfless dan tulus.

Jika kita beramah-tamah kepada orang lain dengan hati yang terpaksa, hal itu capek lho..

Kita akan selalu merasa menjadi orang yang munafik dan sebetulnya enggan untuk melakukannya.

Karena itu, untuk menjadi pribadi yang ramah, sesungguhnya haruslah bersumber dari hati yang tulus dan selfless. Hal itu menjadikan keramahan yang kita berikan kepada orang lain bersifat murni dan natural.

  • Mulailah berlatih untuk memberikan senyum yang tulus kepada orang lain, tanpa perlu mengharapkan balasan ataupun pujian. Hal ini akan melatih menumbuhkan keramahan yang natural dari dalam diri kita.
  • Membiasakan diri mengingat nama orang lain. Seseorang akan merasa dihargai saat kita mengingat namanya dengan benar.
  • Mencoba mendengarkan perkataan orang lain dengan hati. Terkadang kata-kata terbatas, tetapi saat kita mencoba mendengarkan dengan fokus dan memahami juga dengan hati kita, kita akan dapat menangkap makna di balik kata-kata yang ada, dan memperkecil kesalah-pahaman yang dapat terjadi.
  • Saat mengobrol dengan orang lain, jangan asyik sendiri dengan topik yang ingin kita bahas, tapi masuklah dalam topik bahasan yang orang lain juga minati.
  • Menumbuhkan empati dengan selalu berusaha menolong orang lain, dimulai dari hal-hal yang sederhana.
  • Menaikkan doa yang tulus bagi siapapun yang kita jumpai dan berinteraksi dengan kita.

Dengan berlatih melakukan hal-hal diatas, membuat kita menumbuhkan sifat yang tulus dan ramah secara alami dalam diri kita.

2. Menjadi pribadi yang ramah, hangat, dan mudah bergaul.

Seseorang yang ramah dan disukai oleh orang lain, memiliki ciri-ciri berikut ini :

  • Selalu menggunakan kata-kata yang konstruktif dan positif, membuat orang berbesar hati dan optimis. Bahkan saat harus menyampaikan kritis, disampaikan dengan tujuan membangun, bukan merusak.
  • Sopan dan beritikad baik.
  • Selalu berusaha menghindari debat kusir yang tidak esensial.
  • Mudah meminta maaf dan berbesar hati mengakui kesalahan.

3. Menggunakan kesamaan hobi, minat, domisili, dan aspek tertentu menjadi pintu masuk pertemanan.

Kesamaan hobi, minat , atau aspek tertentu dapat mempererat hubungan yang ada. Misalnya saja, sama-sama suka fotografi, atau pernah tinggal di kota yang sama, sama-sama suka sepakbola, dll. Hal itu membuat topik pembicaraan menjadi mengalir begitu saja dan mempererat pertemanan yang ada.

Pengaruh positif terbesar bagi orang lain.

Dampak positif yang terbesar yang dapat kita berikan kepada orang lain bukanlah uang ataupun materi, melainkan saat kita dapat membantu seseorang menemukan potensi dan keunggulan terbesar dalam hidupnya dan menolong ia memaksimalkan potensinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Dalam Bisnis Kawan pun Dimakan!

Bisnis itu Kejam

Dunia bisnis itu kejam, ga kenal kawan ataupun lawan, ga kenal perasaan, semua pesaing bisnis pasti dilibas..

Itulah kehidupan dunia bisnis yang selama ini kita kenal. Kawan saja bisa dimakan, demi keuntungan bisnis semata. Tidak ada yang namanya hati nurani di dalam dunia bisnis.

Padahal sejatinya, dunia bisnis sebetulnya tidak terpisahkan dari hati nurani dan etika dalam bekerja. Ideologi dasar berbisnis adalah mencari keuntungan dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Itulah sebabnya hati nurani seharusnya menjadi “rambu-rambu” yang terpasang di dalam hidup setiap manusia, yang memberikan sinyal untuk kita mengenali hal-hal mana yang boleh dilakukan dan hal mana yang tidak boleh kita lakukan dan harus kita hindari.

Seseorang yang menggunakan nurani dalam berbisnis, tidak akan pernah memakai fasilitas dan jabatan yang ia miliki hanya untuk memperkaya diri sendiri diatas kerugian dan kesengsaraan orang lain.

Persoalannya, seringkali keuntungan materi dan pertimbangan logis (hitung-hitungan) seringkali menyajikan data bahwa cara-cara yang tidak etis, curang, dan egois justru memberikan keuntungan materi yang jauh lebih banyak dibandingkan cara-cara yang terhormat.

Disinilah manusia dihadapkan dengan pilihan, apakah tetap mempertahankan integritas dan kemurnian hati nuraninya, atau justru mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jalan curang yang mengorbankan integritas dan hati nuraninya.

Hati nurani yang terus dilanggar akan membuat suara hati nurani orang itu menjadi mati, ia pun menjadi terbiasa dengan tindakan yang salah dan tidak lagi merasa salah. Barulah jika kesalahannya itu terbongkar, ia akan mengaku “khilaf” melakukannya untuk menutupi rasa malu atau menarik simpati orang lain.

Continue Reading

Inspirasi

Berubah itu Mudah

Seringkali dalam sebuah profesi yang kita sedang jalani menuntut perubahan, dan kita akan kesulitan beradaptasi jika tidak memiliki paradigma yang mencintai perubahan.

Menjadi sesuatu yang sulit bagi kebanyakan orang untuk membangun mentalitas mencintai perubahan, karena memang lebih nyaman bagi seseorang untuk tetap diam di posisinya dan menghindari hal-hal atau tantangan yang baru.

Untuk dapat memiliki mentalitas yang mencintai perubahan, kita perlu memiliki paradigma yang mencintai perubahan, sehingga kita tidak akan mengalami kendala untuk berubah. 

Kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana, misalnya mencoba rute alternatif saat pulang atau pergi kerja, atau mencoba resep makanan baru yang belum pernah kita coba, atau jika setelah pulang kerja kita terbiasa menonton tv di sofa, kali ini lakukanlah hal yang baru seperti berolahraga atau membaca buku.

Pada awalnya alam bawah sadar kita akan memberi sinyal “tidak nyaman”, bahwa ini adalah hal di luar rutinitas kita. Tetapi setelah 2-3 kali kita mendisiplin diri melakukan hal di luar rutinitas kita, maka secara perlahan rasa tidak nyaman itu akan hilang dan kita mulai bisa menikmati aktivitas-aktivitas baru tersebut.

 Dari hal-hal yang sederhana, pikiran kita mulai terbiasa untuk berpikir “out of the box”, keluar dari limitasi yang tanpa sadar selama ini kita miliki. Kita pun mulai mendapati bahwa ada banyak hal-hal yang menarik dari sesuatu yang baru dan secara perlahan kita mulai berani untuk mencoba hal-hal yang baru.

Keteraturan vs mencintai perubahan.

Mencintai perubahan bukan berarti hidup kita jadi sembrono dan tidak terkontrol begitu saja, kita memang harus terus memiliki keteraturan dalam hidup ini.

Yang menjadi poin adalah, jangan ijinkan pola hidup teratur yang kita miliki menjadi “penjara” bagi hidup kita, tapi jangan juga mentalitas mencintai perubahan membuat kita tidak menata hidup kita. Keduanya harus seimbang dan menjadi 1 paket yang terbangun dalam hidup kita.

Continue Reading

Inspirasi

Kenapa Saya Minder ?

Ada banyak orang yang sering merasa minder, tanpa tahu apa sebenarnya alasan mereka minder.

“Udah bawaan dari sononya” gitu katanya.

Padahal, seseorang menjadi minder pasti selalu memiliki alasan dibaliknya. Pada umumnya hal itu disebabkan oleh sesuatu hal di masa lalunya, akibat dibesarkan di keluarga yang kurang suportif, dan tidak pernah dilatih untuk tampil di depan umum.

Sebetulnya orang-orang yang terkenal, para pembicara hebat yang sering berbicara di hadapan ribuan orang, juga memulai dari titik yang sama. Mereka gugup, jantung berdebar, ataupun mulut kaku saat hendak berbicara di depan umum. Perbedaannya adalah, mereka terus mencoba, semakin ahli dan terbiasa dan seiring waktu mereka memiliki “jam terbang” yang lebih dari orang-orang lainnya.

Kekuatiran adalah tembok penahan.

Ketakutan dan kekhawatiran yang menahan kita melakukan hal-hal baru atau menciptakan peluang di tengah tantangan sebetulnya hanyalah ketakutan fiktif.

Hal itu disebabkan karena kita terlanjur memiliki jalan berpikir dan mentalitas yang negatif. Melihat segala sesuatu dari sisi yang negatif. Tanpa kita sadari, alam bawah sadar selalu mengirim sinyal alarm yang menahan kita untuk melangkah maju.

Efek trauma masa lalu.

Mentalitas negatif dan kekhawatiran juga dapat disebabkan oleh trauma masa lalu yang meninggalkan bekas luka yang mendalam/membekas sehingga seseorang memiliki rasa takut untuk hal tersebut terulang.

Untuk itu kita harus belajar merasionalisasi apa yang kita takutkan dan mencari akar masalahnya. Jika hal tersebut terjadi karena kelalaian kita sendiri, maka kita harus memastikan bahwa kesalahan tersebut tidak akan terulang kembali.

Jika hal itu terjadi karena kesalahan orang lain, maka kita hanya perlu lebih waspada. Dengan demikian kita dapat menanggulangi setiap ketakutan dan kekhawatiran yang seringkali muncul akibat trauma.

Seringkali orang yang pernah mengalami trauma akan menjadi terlalu waspada dan khawatir berlebihan, namun sebetulnya dalam setiap peristiwa yang kita alami, kita selalu dapat mengkalkulasi resiko yang ada. 

Menanggulangi efek trauma.

Kembali, untuk menanggulangi trauma yang “tersimpan” di alam bawah sadar, kita harus mengedit ulang alam bawah sadar kita dengan teknik afirmasi (memperkatakan perkataan positif + membayangkannya)

Kita juga dapat melakukan rasionalisasi peristiwa trauma tersebut dan menganalisanya serta mencari solusi agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Kombinasi antara teknik afirmasi dan rasionalisasi akan membawa dampak besar bagi diri kita dan mulai membersihkan “File” dalam alam bawah sadar kita serta mengklasifikasikan trauma tersebut sebagai “special case” saja, sehingga kita bisa kembali hidup dengan normal seperti sebelum peristiwa itu terjadi.

Continue Reading

Trending!!