Rute Gerilya Jendral Sudirman

Rute Gerilya Jendral Sudirman

Bagikan Artikel ini :

Ave Neohistorian

Jenderal Sudirman merupakan Panglima Besar TKR pertama yang mempraktikkan strategi perang gerilya walaupun dalam keadaan sakit dan ditandu. Beliau bersama tentara dan dokter pribadinya melakukan gerilya selama 7 bulan. Saat itu, para pemimpin politik sedang berlindung di Keraton Kesultanan usai Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer II, bersamaan juga dengan ditangkapnya Soekarno dan Hatta oleh Belanda. Sudirman yang berada di hutan secara otomatis memimpin pemerintahan darurat militer bersama PDRI di Bukittinggi.

Nah, rute mana sajakah yang diambil oleh Sudirman selama perang tersebut? Beliau memulai rute dari Yogyakarta ke arah Bantul, yang merupakan lahan subur dan padat penduduk. Dari Bantul, berlanjut ke Tenggara Yogyakarta dan masuk ke wilayah Karst di Gunung Kidul. Di sini beliau menempuh rute Panggang-Paliyan-Semanu-Bedoyo. Lanskap Karst penuh dengan gua dan sumber air bawah tanah, sempurna untuk strategi beliau. Sudirman kemudian masuk ke Wonogiri dengan menempuh rute Pracimantoro-Eromoko-Wuryantoro-Jatisrono-Purwantoro. Beliau memanfaatkan lembah kering Giritontro dan cekungan Baturetno sebagai basis perlawanan. Dari sana, Sudirman memasuki Kabupaten Ponorogo di Jawa Timur dengan rute Sumoroto-Ponorogo-Jetis-Sambit-Sawoo. Wilayah Kabupaten Ponorogo dipilih karena bertopografi kasar dan berbukit. Dari sana, Sudirman pindah lagi ke Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri yang merupakan wilayah vulkanis Gunung Wilis yang berbukit terjal dan bergelombang.

Di Trenggalek, Sudirman melewati Kecamatan Panggul yang didominasi oleh bentang alam Karst. Adapun lokasi akhir yang dituju Sudirman adalah dusun Sobo desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Wilayah Pacitan terutama Dusun Sobo memiliki tebing curam di sekitar Gunung Gandrung, dan Sudirman menetap di sana dari 3 Februari hingga 7 Juli 1949. Setelah kondisi sudah kondusif, Sudirman memulai rute kembali ke Yogyakarta, yakni Baturetno-Gajahmungkur-Pulo-Ponjong, dan Piyungan, di mana ia dijemput oleh Letkol Soeharto.

-Nanda
Editor : Berniko

Sumber :
Yulian Saputra & Muhammad Azmi. LATAR ALAM GEOMORFOLOGIS PERISTIWA PERANG GERILYA
JENDERAL BESAR SUDIRMAN (1948-1949). Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. Volume 1, No 1, 2021, 10-22

Bagikan Artikel ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *