Connect with us

Sejarah Indonesia

Tokoh Indonesia di Perang Vietnam

Ave Neohistorian!

Sugiono Mukadi lahir di Cirebon pada 24 Oktober 1944. Beliau memiliki darah peranakan Tionghoa dari Keluarga Tan dan Lauw, Keluarga Keraton Kanoman Cirebon, dan Keluarga Kesultanan Banten. Ayah beliau adalah asisten yang bekerja pada Residen Cirebon zaman Jepang, Ichibangase Yoshio (Wakil Ketua BPUPKI), dan juga Guru Bahasa Mandarin di Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK), sedangkan ibunya adalah Guru yang fasih berbahasa Belanda.

Sejak kecil, keberanian dan kepemimpinan beliau sudah terlihat dengan memimpin gerombolan anak-anak nakal. Karena kenakalannya, orangtuanya mengirimnya ke Bandung untuk melanjutkan sekolah dan kemudian ia kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tak ia selesaikan. Pada tahun 1971, Sugiono bergabung dengan Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) di bawah G1 Hankam. Karena kepiawaian Sugiono dalam hal intelijen, ia dipercaya oleh atasan langsungnya, Mayjen Kharis Suhud yang menjabat sebagai Ketua Intelijen di G1 Hankam. Ketika Kharis Suhud ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Garuda pada Internasional Commision for the Control of Ceasefire in South Vietnam, Sugiono pun diikutsertakan. ICCS adalah misi perdamaian yang dibentuk pasca penandatanganan Perjanjian Paris pada bulan Januari 1973, beranggotakan Kanada, Hungaria, Indonesia, dan Polandia.

Pada penerbangan ke Vietnam Selatan, Sugiono dan rekan-rekannya menggunakan pesawat Hercules C-130 milik Angkatan Udara dan mendarat di Bandara Tan San Nhut Airbase, Saigon (Ibu kota Vietnam Selatan). Misi yang diemban oleh Sugiono dan rekan-rekannya sangat berat, mereka ditempatkan dari Kota Hue hingga Kota Chan Tao seharusnya mengawasi gencatan senjata, namun nyatanya perang terus berkecamuk sampai memakan 78.000 korban jiwa.

Ditambah lagi, Polandia dan Hungaria yang harusnya netral malah terang-terangan memihak Vietnam Utara sehingga Kanada pun lelah memutuskan mundur, kemudian digantikan oleh Iran. Sugiono dan rekan-rekan, yang hanya menyandang pistol Sp-1 buatan Pindad, menghadapi situasi sulit apalagi karena Iran baru bisa datang pada akhir bulan Oktober 1973. Agar tentara Indonesia bisa makan dengan layak, Sugiono sampai harus melakukan perdagangan gelap dari wilayah Vietnam ke Laos.

Pada Maret 1975, Vietnam Utara menguasai seluruh Vietnam Selatan kecuali ibukota Saigon, dimana Sugiono bersama rekan-rekan bertahan disana. Pada April 1975, Vietnam Utara berhenti menyerang Saigon. Amerika berpikir Vietnam Utara ingin berunding, namun mereka keliru. Pada 27 April 1975 jam 14.00, Sugiono dan rekan-rekannya meninggalkan Saigon. Pada jam 18.00, lanud Tan Son Nhut dibombardir oleh pasukan Vietnam Utara. 2 hari kemudian, Vietnam Selatan jatuh.

Atas jasanya, Sugiono dianugerahi Medali ICCS. Ia kembali ke G1 Hankam yang berganti nama menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS). Sugiono pensiun dengan pangkat Kolonel tituler, ia wafat di Ciputat pada 9 Juli 2011.

-Hans
Editor: adnan_rizki
Infografis : Rafi Fauzan Abdillah

Sumber:
-Wawancara pribadi

aveneohistorian #vietnam 🇻🇳 #perangvietnam #tokohindonesia🇮🇩

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sejarah Indonesia

Tari Kecak : Menari dalam Api

Ave Neohistorian!

Tari Kecak biasa disebut juga tari Cak atau tari Api. Tarian ini merupakan pertunjukan hiburan massal yang menggambarkan seni peran dan tidak diiringi oleh alat musik, tetapi hanya diiringi oleh paduan suara sekelompok penari laki-laki berjumlah sekitar 70 orang yang berbaris melingkar berpakaian kain kotak-kotak berbentuk papan catur. Tarian ini sangat sakral, terlihat dari penarinya yang terbakar api, tetapi tidak terbakar. Wayan Limbak merupakan pencipta tari Kecak. Pada 1930, Limbak sudah memopulerkan tarian ini ke mancanegara dibantu seorang pelukis keturunan Jerman bernama Walter Spies.

Para penari laki-laki akan meneriakkan kata “cak”. Dari situlah nama Kecak tercipta. Selain teriakan tersebut, alunan musik tari Kecak juga berasal dari suara kerincing yang diikat pada kaki penari pemeran tokoh-tokoh Ramayana.

Tari Kecak juga sering disebut tari Sanghyang yang dipertunjukkan sewaktu-waktu untuk upacara keagamaan. Penari biasanya kemasukan roh dan berkomunikasi dengan para dewa (hyang) atau leluhur yang disucikan. Penari tersebut dijadikan media untuk menyatakan sabda-Nya. Saat kerasukan (trance), mereka juga akan melakukan tindakan di luar dugaan, seperti melakukan gerakan berbahaya atau mengeluarkan suara yang tak pernah dikeluarkan sebelumnya.

-Nanda
Editor: Fidel Christo Emanuel

Sumber:
Cultural Tourism’ in Bali: Cultural Performances as Tourist Attraction, p.59. Author(s): Michel Picard.

sumber gambar : GoodnewsfromIndonesia

Continue Reading

Sejarah Indonesia

Ali Moertopo : Sang Ahli Adu Domba

Dalam pelbagai buku mengenai kajian perubahan sosial, strategi kebudayaan, dan komunikasi massa, biasanya terdapat penjelasan tentang metode penjagaan keseimbangan (equilibrium) kekuatan di masyarakat.

Salah satu caranya adalah dengan membentuk kelompok sosial yang saling berlawanan—secara ideologi, ekonomi, dan kepercayaan. Namun, tidak boleh ada di antara mereka yang terlalu kuat atau lebih kuat dari kelompok lainnya. Mudahnya, masyarakat dipecah dengan politik belah bambu dan di setiap pecahan itu dipercayakan seorang petugas yang menyamar untuk memberi arahan, pelatihan, pengawasan, dan penyaluran dana.

Di zaman Orba dulu, tokoh yang cukup ahli dalam menciptakan skema seperti ini adalah Menteri Penerangan, Letnan Jendral Ali Moertopo. Banyak kelompok sosial, agama, politik, dan ekonomi yang ia rancang lewat satuan sakti di bawah komandonya, yang dikenal dengan nama Opsus. Tujuan utamanya hanya satu, yaitu mengokohkan suatu partai di puncak kekuasaan Indonesia.

Skema yang dibuat oleh Ali Moertopo ini tentu memakan korban, yakni rakyat biasa yang selalu dibentur-benturkan. Karena cara-cara begini sudah teruji keampuhannya, mungkinkah masih ada yang melakukan praktik semacam ini di Indonesia ?. Jika iya, ada kemungkinan mereka masih satu arah keilmuan, aliran dana, dan ideologi.

-Muhammad Gamal Abdurrahman
Editor: Gilang

Sumber:
-Ali Moertopo. Strategi Kebudayaan. Yayasan Proklamasi dan CSIS
-Tim Penulis Gema Insani Press. Tanjung Priok Berdarah. Gema Insani Press
-M. Busyro Muqoddas. Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad. PUSHAM UII
-Jalaluddin Rakhmat. Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi?. Remaja Rosdakarya

Continue Reading

Sejarah Indonesia

Tarumanegara : Bukti Kejayaan Bekasi

Ave Neohistorian!

Kadang kala, khalayak di Jagat Mayantara menyebut Bekasi sebagai planet lain yang dekat dengan matahari. Bekasi kerap disebut sebagai kota yang panas, kotor, dan macet.

Padahal sebenarnya, Bekasi adalah bekas pusat dari salah satu kerajaan Hindu tertua yang pernah berdiri di Indonesia, yakni Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan ini didirikan oleh seorang pendatang dari Salankayana Andhra Pradesh, India, bernama Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Ia kabur ke Nusantara karena Salankayana diserang oleh Samudragupta dari Dinasti Gupta. Nama Tarumanagara sendiri berasal dari dua kata, yakni kata taruma dan nagara. Kata taruma berasal dari kata tarum atau tumbuhan nila yang mengacu pada sungai Citarum, sedangkan kata nagara berasal dari kata kerajaan atau negara. Karenanya, salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi, diberi nama Tarumajaya.

Mengapa Jayasingawarman memilih daerah sekitar Bekasi? Karena salah satu situs peradaban awal Sunda yakni Kebudayaan Buni berlokasi di Desa Babelan, Bekasi. Jadi, Jayasingawarman menjadi pemimpin atas orang-orang Sunda Kuno. Nah, nama Sunda sendiri berasal dari Ibu Kota Tarumanegara, yakni Sundapura yang berlokasi di sekitaran Bekasi Utara. Adapun kota Bekasi pusat, pada masa Tarumanagara dikenal dengan nama Chandrabhaga (Sungai Bulan). Nama itu kemudian berubah menjadi Bhagassi dan kemudian menjadi Bekasi. Chandrabhaga sendiri diabadikan menjadi nama Stadion di Kota Bekasi.

Bukti sejarah jelas menunjukkan bahwa Tarumanagara yang berpusat di Bekasi mencapai masa kejayaan dan kemakmuran yang tertinggi pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Bukti kejayaan Tarumanegara bisa dilihat di kronik-kronik Tiongkok serta Prasasti Tugu dan berbagai pendukung prasasti lainnya, salah satunya adalah Prasasti Kebon Kopi.

-Nanda
Editor: Amanda
Ilustrator : Jamal Aziz

Sumber:
Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor.

AveNeohistorian #jawabarat #pasundan #tarumanegara #bekasi #planetbekasi 🪐#bekasipanas 🔥🌡️

Continue Reading

Trending!!